Monday, December 10, 2012

Kita

Derak memori lambungkan lagi segala angan masa lalu
Masa ketika aku dan kamu masih bertajukkan kita.
Kita melakonkan canda tawa, isak haru, tangis pilu, angkara murka
Sandiwarakan asmara dalam berbagai posisi bercinta
Ah, airmata pun tak ingin tertinggal acara,
ia ramaikan lamunan syahdu ini.
Lamunan syahdu tentang kita...



9 desember 2012

Petang

Kasihan Rembulan.
Telah berjuta huruf yang ku lontar, mengadu padanya
Berjuta huruf, tentang kamu
Rembulan nampak di dera letih, di dera muak
Mengapa tak kunjung jera kau rindukan ia, tanya Rembulan
Bisa apa aku, Rembulan?
Bisa apa aku tanpa mahligai pilu rindu tak bertuan?
Bisa apa aku tanpa seruntai asa tak berujung tentangnya?
Sebut aku dungu
Sebut aku lucu
Peduli pun aku tak pernah bisa!


9 desember 2012

Tuan Puan

Mungkinkah rindu mu bertuan sekarang?
Telah teretas beribu hari tanpa aku atau kamu.
Namun puan tetap saja,
selonjoran dengan hati riang dalam lerung rindu



9 desember 2012

Friday, November 9, 2012

Jatuh. Cinta.

Aku di telikung
dengan rasa yang mengungkung
melengkung, tak berbujur
terbelat, terbelit
di peras hingga ampas
Tinggal tersisa, dua bongkah pipi ku
yang meranum, merah jambu,
tersipu malu
Ah...


8 november 2012

Monday, September 17, 2012

Hujan

Lagi-lagi, lamun merengkuh sepi yang semenjak tadi menemani disisi. Air yang menetes kesekian kalinya, tak pernah letih jadi lahapan tatapku. Aku bertanya, mau kah engkau menjawabnya sekarang? Atau mungkin nanti? Ah.. Yang kau lakukan semenjak tadi hanyalah bercanda riang dengan sendu dan melankoli para remaja seperti aku ini, kan?

Baiklah.. Aku ingin mengakuinya sekali ini saja. Sudikah kau mendengar kesah ku diantara beribu-ribu kesah  lain? Ah, bodoh benar aku ini. Walau kau tak akan sudi mendengar, toh aku mengoceh juga pada akhirnya.

Kali ini aku sedang dilanda asmara. Hei, hentikan tawa renyahmu, aku belum selesai bicara! Asmara yang ingin ku ceritakan ini tak seindah yang mereka ceritakan juga padamu. Asmara ku berbelit dengan ragu, rindu yang tertahan-tahan, tanya tak berujung, serta pahit yang mungkin akan jadi ujungnya. Jangan dulu enggan begitu, aku tak tahu harus bercerita dengan siapa lagi jika kau tak sungguh-sungguh ingin dengarkan aku..

Jadi begini ceritanya. Aku mencintai seseorang. Tahukah kau lelaki yang sering mengejar senja itu? Apakah ia sering bercerita dengan mu juga? Ya, aku juga sulit percaya jika ia benar sering bercerita dengan mu seperti aku ini. Ia sungguh... Berbeda. Aku mungkin naif, tapi sungguh, aku tak pernah mencintai seseorang begitu hebatnya seperti ini. Walaupun, sesungguh-sungguhnya, kau tak pernah sangka aku bisa mencintai seseorang seperti ia. Ingatkah kau lelaki-lelaki yang pernah ku cintai dulu? Ingatkah kau lelaki-lelaki yang mengejar-ngejar aku? Tidak, ia jauh berbeda.

Jalur lurus ku diobrak-abrik dengan kehadirannya. Aku tak lagi tahu, mana yang jadi prinsip ku dahulu, pilihan-pilihan seperti apa yang akan aku jalani nantinya. Semua seakan porak-poranda, setelah dengan sengaja ia memasukkan dirinya dalam lingkup hidupku. Jangan tertawa senang dulu, aku bahkan tak tahu apakah ia merasakan hal yang serupa seperti aku. Miris kan?

Bahkan, hal yang lebih miris lagi, hatinya hanya tertambat oleh mantan kekasihnya. Lalu aku, dengan segala kebodohan ku, mencintai lelaki itu. Aku menunggu hadirnya, entah berbentuk maya atau nyata, setiap jam dinding berdetik. Aku terlena akan senyumnya. Aku bahkan berdoa pada bebintang agar barangkali mereka berbaik hati menyulap pekat langit malam kali ini untuk ingatkan aku lagi akan garis lekuk wajahnya.

Jatuh cinta itu sederhana. Ya kan? Sesederhana aku mencintai dirinya, yang bahkan ia hanya memuja mantan kekasihnya. Sesederhana aku berbicara dengan mu, dan berkeluh kesah seakan kau bisa membuat keajaiban agar ia mencintai ku juga. Ah...

Petang semakin larut. Nampaknya kau juga beranjak pergi. Mau kah kau kembali esok hari? Cerita ku belum habis sampai disini. Aku pun merindukan mu bahkan sebelum kau beranjak pergi.

Selamat petang, Hujan. Sampai jumpa esok hari.



17 september 2012

Monday, July 16, 2012

Catatan rindu di tengah malam

Aku rindu kamu, aku rindu bebaumu. Aku rindu kilat mentari yang sinari deret senyum mu. Aku rindu belai sayang, yang kau beri seakan aku guci termahal mu. Aku rindu ketidakbisaan mu akan berkata, tertawa, atau bercanda. Aku rindu kaku mu yang manis.

Aku juga rindu, saat es yang padat itu mulai mencair, dan kau ikut tertawa bersama ku. Ikut menertawakan kebodohan ku. Aku rindu, mengecupmu perlahan, lalu kau tak pernah bisa untuk diam. Gatal untuk membalasnya, senakal mungkin. Lalu kita tertawa, menertawai kenakalan mu, yang hanya untuk aku.

Aku rindu ketidak pedulian mu. Tak bertanya kabar, apa kah aku sudah makan. Hingga buatku jengah, berulang kali. Namun selalu luluh, ketika kau tiba-tiba bersikap manis pada ku. Yang bahkan sikap manis mu dapat ku hitung.

Aku rindu, senjang hening panjang yang tercipta ketika kita terhubung di telepon. Kehabisan kata-kata. Karena memang kamu tak pernah pandai berkata-kata dan aku tak pernah pandai mencari bahan untuk bicara.

Aku rindu ketika kamu mulai mengeluarkan sisi kritis mu. Mengeluarkan sisi lain yang jarang ku lihat, sisi ketika kamu berpendapat. Kau pecahkan masalah ku, dengan cara pikir yang berbeda. Dan idemu akan seni, kreativitasmu... Semua itu buat ku kagum. Sungguh.

Aku rindu ketika kau terlihat berusaha untuk bahagiakan aku. Mencari kado untuk ku, mengajak ku berkeliling ke tempat yang aku ingin. Tahu kah kau, betapa bahagianya aku membuka hadiah kecil dari mu? Dan melihat mawar putih yang kau pegang ketika hujan?

Aku rindu, merindukan mu dengan segala getir yang ku telan. Menunggu kabar dari mu. Jemu. Menunggu pertemuan kita. Menunggu harum hujan yang basahi kita, tiap-tiap kau dan aku bersua.

Aku rindu kau panggil dengan sebutan sayangmu. Dan senyum selalu terkembang, otomatis, tiap kau panggil aku.

Aku rindu kamu.

Aku terlalu menyayangi mu, terlalu merindukan mu.

Namun getir yang mulai meluber, luka yang mulai menganga, buat aku jadi bertanya. Bahagia yang enggan bercanda lama-lama, tak sanggup lagi menahan leluka ini. Hingga akhirnya aku tak tahan lagi untuk saling bersama.

Bahagiakah aku sekarang?

Setelah tanpa mu?

Entah lah...

Yang ku tahu, ternyata, aku masih sangat mencintai dan merindukan mu hingga detik ini.

Selalu...



14 juli 2012

Untuk kamu

Sekarang tiba-tiba semua kata mandek di tengah-tengah tenggorokan ku. Yang aku pandang hanya pernyataan tersodor di depan mata. Entah, harus kah aku tertawa atau menangis. Mendadak jatuh cinta merupakan perihal yang terlalu rumit dan terlalu beresiko untuk ku.

Seakan telah menjadi harga mati, mencintai ku berarti siap dalam menerima segala kekompleksitasan ku. Walau kamu telah berkata iya, kamu telah berkata mau, entah mengapa nyali ku ciut untuk melangkah lebih jauh. Aku takut. Aku takut ekspektasi mu terlalu tinggi terhadap ku, dan ternyata aku tak seperti yang kau bayangkan. Lalu kau tinggalkan aku, begitu saja. Belum lagi jika ternyata ekspektasi ku yang terlalu tinggi terhadapmu. Dan kau pun tak seperti itu.

Bukankah jatuh cinta itu biasa saja? Ketika kau jatuh, ya jatuh. Tapi mengapa semua ini berjalan terlalu rumit untuk ku..

Harusnya jatuh ya jatuh

berdiri ya berdiri

tidak ya tidak

iya tentu saja iya.

Tapi aku terlalu pengecut untuk ini semua...

Sekarang, ketika ternyata takdir berkata lain dan kau beranjak meninggalkan ku, rasa hilang yang mencekam itu kembali lagi, Kehilangan, yang bahkan belum disertai kepemilikan. Namun sungguh, hati kecil mu tak bisa berdusta, bukan?

Baiklah, aku akan beranikan diri kali ini. Sekali ini saja.

Aku, ternyata, mencintai mu.

Aku telah jatuh, dan entah kapan akan bangun kembali. Puas kah kau sekarang wahai takdir? Telah mengambil apa yang kau beri?

Ya, ya, ya. Aku akan mengalah, seperti biasanya. Lagipula memang kau hanya ingin menang sendiri, ya kan, Takdir? Aku hanya akan menunggu, apalagi yang akan kau perbuat nanti. Hancurkan segala yang baru terbentuk ini, atau malah berbaik hati memberi kami kesempatan. Kita lihat saja nanti.


15 juli 2012

Saturday, July 14, 2012

Rezim Rindu

Bahagia yang mulai terlahap waktu...
Rindu yang terkekang, mulai lepas angan
beranjak bangun dari kerangkeng karatnya
Emosi sekarang turun tahta
Para logika, tim sukses emosi, mulai kelimpungan...

Rindu menjamah kekuasaan
mengeluarkan ancer-ancernya yang jitu.
Kenangan manis tampak bahagia,
di beri leluasa untuk bercanda...

Dan aku, sebagai partisipan
yang harus memilih
yang harus manut pemimpin
bergelimang duka di balik layar...


14 juli 2012

Kangen

Bebau yang lekat
merekat pada ranjang bisu
Mawar putih layu
di lahap waktu, perlahan
Rerintik hujan
mulai memadat,
penuh memori
emosi
Senyum yang terngiang-ngiang...
Ah!
Semua ini begitu kompak menyiksa rindu ku!


14 juli 2012

Friday, July 13, 2012

Pulang

Aku dan kamu tidak lah seperti dia dan dia. atau dia, bahkan dia. walau hanya ketikan maya yang sapa aku, pagi, siang, sore, aku merindukan mu ternyata. tahu kah kau betapa tangis yang aku gembor-gemborkan itu hanya terjawab oleh angin malam saja? tanpa ada jawab dari mu, walau hanya setitik jelaga. atau satu kata 'apa'. mengapa tega, selalu tanya itu yang di sulir oleh siksa ku, sakit ku selama ini. tapi memang begini ternyata, memang begini adanya.

apa kabarnya dirimu disana? dengan segala gentar yang kau tutupi oleh kelambu padat kebijkasanaan. aku merindukan canda kita, yang selalu berujung tawa. bahkan aku merindukan sisi terlalu posesif mu, seakan semua adalah salah, dan hanya kau dan tuhan mu yang benar. aku merindukan mu, terlalu merindukan mu ternyata.

jiwa kita bukan lagi bersisian, namun entah mengapa telah terlalu terjalin lekat satu sama lain.. bukan kita yang menginginkan ini, kan? aku tak pernah memintanya seperti ini, namun memang roh-roh dalam aku dan kamu yang menginginkannya.. mengapa harus kau sangkal itu? hingga kapan kau ingin berdiam diri dan hindari semua? kita tak dapat hindari ini, tak dapat kelabuhi semua yang terlalu pasti ini..

sudah lah, hentikan langkah mu yang sudah terlalu jauh itu. walau jauh, namun genggam mu masih melekat erat di genggam ku. aku tak ingin kau terlalu jauh, karena sakit yang melindap diam-diam ini membuntuti mu. kau pikir ini sakit, namun sungguh sakit mu berlebih nanti jika langkahmu terlalu jauh.

pulanglah..

Thursday, June 21, 2012

Mantan

Wajah polos diam
cipta hening tak berjelaga
Meretas tanya,
mungkinkah rindu itu bertuan
sekarang?
Atau mungkin,
perangkap halus bersaput lugu
Yang melindap berjingkat-jingkat
Tanpa suara.
(aku dan kamu tak lagi sama...)


21 Juni 2012

Monday, May 28, 2012

Ormas

Basah merajang kerontang
membungkus kepak para ajudan
Para jelata melongo dungu
Di siram tetipuan manis selayak anggur putih
Bangunkan gairah anarki, redupkan nilai ilahi.
Pandir-pandir sarat kuasa pun bergelegak tawa,
Ludahi bawah padahal ia di tengah.
Tepat
di bawah Maha Kuasa.


22 mei 2012

Wednesday, April 25, 2012

Sepucuk surat dari komputer

Ini kali ketiga, aku melihatnya bersedu sedan dengan duka
membuat aku hanya menambahkan tumpukan lara di bahunya.
tak semestinya siksa mendera-dera sayu sepasang mata itu...

Aku berduka untuk mu
untuk segala asa yang tak tersampaikan
ataupun bilur-bilur air mata yang hanya terlihat oleh ku

Mungkin baiknya kau hentikan pedihmu, lukamu..
aku tak pernah tahan, melihat kau tertawa dengan simbahan air mata seperti itu.
namun nampaknya siksa telah jadi candumu, jadwal keseharianmu

Betapa dungunya rindu.
rabunkan segala ribu perih luka yang kau anyam tiap hari
hanya karena kilat senyum, yang bahkan kau lupa ia pernah tersenyum...


Ini kali keempat, kau paksa aku untuk menambah derita mu.
kembali ke halaman ketika kau dan ia, masih baik-baik saja
bahkan aku hampir saja tertawa, menertawakan ingatan ku yang lupa bahwa kau sempat bahagia--dulu sekali.

Kau matikan aku, dan kembali menitikkan air mata.
nafas ku terhela panjang.
untuk apa manusia acapkali menyiksa dirinya, padahal tahu apa yang baik untuknya?

dan tanya ku lenyap bersama malam yang semakin pekat..




25 april 2012

Friday, March 23, 2012

Drama dalam diam

Ada rindu yang tersimpan apik
Di antara lipitan beledu yang beradu
Dipadukan oleh lara,
berbelit hingga tak kentara

Ada leluka yang ter-kristal
Mendayu-dayu lembut selaku puteri yang ayu
Nampak enggan beranjak,
hanya untuk sekedar berobat

Ada asa yang mulai pudar
Tertempa nelangsa tak kunjung kelar
Berikut kecewa,
yang gemar keramaian

Ada secangkir penuh getir
Antara ribuan kata tak terucap
Baik aku,
ataupun kamu.



23 maret 2012

Thursday, March 22, 2012

Kesal

Sudah semestinya semenjak tadi ku genggam erat pena kecil yang setia, Terus melenggak-lenggok salurkan nafsu birahi ku akan kepuasan melihat liukan arangnya di atas bidang datar. Apa yang aku risaukan? Pasti tanya itu yang terlontar entah disengaja, terpendam atau di ludahkan. Entahlah, aku hanya remaja yang enggan beranjak dewasa walau waktu telah menjerit-jerit, menuntut akan sempitnya jalan antara aku dan dewasa. Aku tak sanggup terlalu lama seperti ini, terlalu lama memupuk dan menyiangi hama yang tumbuh liar di pekarangan asa ini. Raga ku mulai tiba saat orgasmenya, orgasme akan keterpaksaan tanpa ada desah erotis yang nikmat atau lenguh panjang kepuasan disana. Hanya ada ketercapaian di puncak bersama dengan segala getir yang tertuai bagai sedang di perkosa. Aku letih, telah melayani angkara murka ku di bangsal nomor tiga belas untuk kesekian kalinya. Telah tiba saatnya, ia keluar dengan gagah mendominasi sabar ku yang tengah menguasai permainan selama ini. Ia membawa kecewa, duka, benci, dan lara. Bersatu padu, laksana pahlawan pembela kebenaran. Apakah mereka tahu benar? Apakah mereka tahu salah? Tidak! Tidak! Hanya dengan nafsu birahi untuk menggagahi lah mereka unjuk gigi. Aku tak sanggup lagi.

Kau pasti kecewa. Sebagaimana kecewa ku terhadap mu. Segala rangkai kata yang telah tersusun rapi, sistematis (tadinya) dalam benak ku yang tersimpan begitu apik mendadak buyar, setelah aku bertemu dengan mata mu. Mata yang menyiratkan letih identik, persis kedua mata ku. Kita pasangan yang telah mencapai orgasmenya masing-masing tanpa rasa terpuaskan sama sekali.

Aku menunggu rangkai kata mu yang akan awali serentet apik milik ku di benak ini. Namun kau kembali diam, persis kita dulu saat masih di lingkupi gelora-gelora asmara tanpa bisa menyalurkannya, waktu itu. Aku tak tahan lagi. Namun sungguh hilang entah kemana serangkaian apik kata-kata itu. Aku mendadak bisu. Namun mendadak ragu, juga.

Kemana kah semua janji manis yang terjalin kala lalu? Kala kita melukis senyum berdua pada masing-masing kanvas yang terpampang di depannya satu-satu. Tidak ada lagi tawa riang, renyah, dan segar yang melekat untuk beberapa hari lamanya. Yang ada hanya duka, lara, dan kecewa.

Bukankah semua ini yang kita hindarkan kala lalu? Atau aku yang hindarkan kala lalu? Entahlah.. Namun sungguh, waktu telah berani menampakkan bengisnya sekarang setelah sekian lama terkungkung.

Salahkah aku, wahai kekasih? Dengan ribuan tuntutan yang ada di sekitar kita namun hanya kusodorkan tiga? Peduli, kasih, cinta? Ah, mungkin terlalu banyak, terlalu berat. Tapi cuma itu, sungguh cuma itu. Aku tak punya lagi nyali ataupun tega untuk pinta lagi. Cukup tiga.

Tapi aku tak bisa, sahut mu. Kamu tak mungkin melakukannya, karena ego mu selalu lebih tinggi dari ego ku. Tidak, tidak. Ego kita sama tinggi namun rasa ku untuk mengalah sering kali lebih berbaik hati.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang mesti aku perbuat? Dengan segala sakit, perih, dan coreng-moreng luka di batin rapuh ku? Diam, hanya diam yang kau pagut semenjak tadi.

Kau malah langkahkan kaki mu jauh-jauh dari perhelatan kita dalam selesaikan (atau mencoba lebih tepatnya) leluka hati yang aku rasa tak kunjung habis.

Ya, kau malah pergi.

Tanpa satu ucap kata pun.

Tak kau rasa kah bimbang yang ku kecap, lara yang ku dekap, dan kecewa yang terserap dalam aku selama ini? Tidak kah?



17 maret 2012
dengan segala emosi yang menggebu

Drama

Biar lah waktu memainkan perannya
Dalam seluk belukar asa dan luka

Biar lah waktu memainkan perannya
ketika hanya tinggal raga, tanpa bersisa jiwa

Biar lah waktu memainkan perannya
namun bila waktu hanya bermain,
apa guna ku sebagai sutradara?


21 maret 2012

Saturday, March 17, 2012

Tengkar

Beribu pisau, gergaji, sapu lidi
hendak ramai kan segala risau-risau ku
Telah tersiapkan se-batalyon angkara murka
dan tameng berbalutkan pembenaran

Ku pakaikan topi hijau berat
ke atas sejumput rambut tua ku
Bebarengan dengan senapan
yang terangkat
tinggi-tinggi
meneriak kan, "Kita akan mulai berperang!"

Beribu pisau, gergaji, sapu lidi
hendak ramai kan adonan emosi
yang teruleni dengan kesal, benci, bimbang
Tapi hati telah terteguhkan, walau enggan

Ku tabuhkan genderang perang
berikut dengan sangsakala
agar gaduh, ramai

Perang akan segera di mulai
namun panglima tak turut serta
"Maaf. Kau belum siap
dan tak akan pernah siap."

sabtu, 17 maret 2012 19.21

Tuesday, March 13, 2012

Surat Rindu

Dearest, kamu



Tahu kah kau kesakitan ku selama ini?

Ya, aku ternyata hanya seorang pesakitan yang mengharapkan peduli mu barang secuil. Yang bahkan peduli mu memang hanya ada secuil.

Sudah beberapa lama ini, aku mencari tabib dari segala sakit ku. Padahal sebenar-benarnya obat ku hanya lah kamu. Namun kau terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Karena peduli mu hanya secuil, ingat?

Kemarin ini pencarian ku membuahkan hasil. Ternyata, tabibnya tak lagi baru dalam menyembuhkan penyakit yang serupa dengan penyakit ku. Malah, ia lah selama ini yang memberikan pengobatan alternatif tanpa aku sadari.

Tabib ku ini terlalu mahir dalam menyembuhkan penyakit ku. Walau sembuhnya berkala dan aku mesti datang lagi, lagi, dan lagi kepadanya tiap-tiap rasa sembuh yang nyaman itu mulai hilang. Sepertinya, dengan sengaja, ia membubuhkan candu dalam pengobatannya. Tapi aku enggan menolak ataupun berhenti. Karena hanya dengan obatnya yang bercandu lah si pesakitan ini masih tetap hidup, masih tetap bernafas. Tapi tak akan pernah sembuh, karena penyembuh ku hanyalah kamu. Dan rasa sakit ku pun berasal dari sembuh ku.

Aku perlu untuk bernafas normal. Walau hanya sejenak. Karena aku perlu menata fondasi-fondasi yang akan jadi rumah masa tua ku nanti. Makanya, aku mencari pengobatan alternatif dan aku bertemu dengan tabib ku.

Apa kah kau merasa marah dengan pengobatan ku? Yang seharusnya pesakitan ini sabar menunggu dokter aslinya untuk di sembuhkan? Ya, aku tahu kau pasti murka. Namun, bisa apa aku jika tak berobat walau tak benar-benar sembuh sepenuhnya? Peduli mu hanya secuil, ingat?

Dan ini mulai beranjak bulan ketiga semenjak aku melakukan terapi alternatif ku. Sepertinya, tabib ku beranjak dari singgasananya dan mulai berkedudukan sebagai seorang dokter. Hati ku mulai goyah, penyakit ku mulai gelisah. Apakah tabib ku, yang sekarang bertitel dokter, dapat menyembuhkan si pesakitan ini secara permanen? Dokter ku yang sekarang terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Semakin lama sisa-sisa perjuangan dan pengorbanan ku semakin terkuras habis.

Untuk apa aku berusaha jika kamu tak pernah ikut berusaha?

Bolehkah kali ini aku membatalkan perjanjian rawat jalan dengan mu selama ini dan berubah janji dengan tabib yang bertitel dokter itu sekarang?

Ah, tapi sesungguh-sungguhnya penyakit ku tetap tak bisa memberi tahu apa yang baik untuk ku. Karena ia bersemayam berkat adanya kamu, ingat? Jadi, harus kamu yang sembuhkan sakit ku, harus kamu yang menjadi dokter ku!

Tapi penyakit ku goyah, hati ku mulai gelisah.

Bisa kah kau berbesar hati sedikit dan sembuhkan aku kali ini? Agar aku tak perlu bertemu terlalu sering dengan tabib ku, walau aku ingin. Walau aku benar-benar membutuhkannya.


Kekasihmu,
aku.


21.48 senin, 12 maret 2012

Monday, March 12, 2012

Lupa

Lupa adalah anugerah. Coba saja sejenak, kau bayangkan Lupa mendadak hilang dari peradaban. Hilang dari kamus-kamus atau tata bahasa dari pelbagai negara.

Pernahkah kau merasa murka? Ketika tak sengaja, adik mu menumpahkan susu atau saat ia merobek kertas tugas mu? Lalu sumpah serapah, yang kau dapat dari televisi itu, kau keluarkan penuh amarah. Berapa hari kau tak menatap adik mu? Tiga hari kah? Atau bahkan seminggu?

Pernahkah kau merasa kecewa? Ketika ternyata karya mu di plagiat oleh teman mu yang tidak bertanggung jawab, dan ia tidak mencantumkan namamu? Lalu ternyata, karya mu mendapat pujian tertinggi, penghargaan sana-sini, tapi tanpa sekali pun tersebut namamu, nama pengarang aslinya?

Pernahkah kau merasa hancur? Ketika cinta pertama mu memberi harapan demi harapn bahwa kau dan ia akan bersama selamanya, sehidup semati, namun ternyata ia pergi meninggalkan mu? Tanpa lupa menyakiti hati mu dengan pelbagai alasan?

Atau, mungkin, pernahkah kau merasa teramat kehilangan? Ketika ayah mu pergi duluan, ke tujuan akhir tanpa mengajak mu ataupun tanpa kau lambaikan perpisahan terlebih dahulu? Padahal, kala lalu, baru saja kau dan beliau hendak pergi menonton bioskop bersama?

Apa yang akan terjadi tanpa Lupa dalam hidup kita?

Adik mu tak akan termaafkan. Sahabat mu hilang satu per satu. Kisah cinta mu hanya berhenti, mentok sampai di situ. Dan kau tak akan pernah berhenti menangis, menangis, menangis, meninggalkan rasa kehilangan mu yang tak pernah hilang.

Bukankah Lupa adalah mukjizat? Dan ia indah, sebagaimana mestinya? Namun, semua hal mempunyai kekurang dan kelebihan, bukan? Dan setiap hal yang terlalu berlebihan tidak lah baik untuk kehidupan.

Bersyukur lah. Kau masih bisa tersenyum, tanpa teringat akan rasa murka, kecewa, atau kehilangan mu kala lalu. Berkat Lupa. Yang bahkan kita lupa, betapa berjasanya ia.

12 maret 2012

Untuk Gadisku







gadisku,
senyampang aku bersamamu
ingin merengkuhmu erat
menidurkanmu
dipangkuanku

memelukmu
dengan segenap jiwaku

melindungimu
dari segala marabahaya

memberikan
segala apa yang kau butuhkan

sebagaimana ketika
Tuhan menitipkan nyawamu dirahimku

kutunggu engkau tumbuh
dalam buaian cintaku

mewujud menjadi sosok mahluk
manis lemah
bertumbuh bersama hari-hariku

kini
ketika senjaku menjelang
kau datang
dalam tangisan
wujud penyesalan

aku yang kecewa
terpuruk tanpa kata
sendu
sedan
hati yang menghitam

penyesalan itu, gadis
adalah wujud nestapa kita
menjadi sejarah tak terpungkiri

maafkan aku
tak cukup benar menjagamu

berikan aku waktu
sendiri disudut sepi

mencoba melihat mu
duniamu
masa depanmu

gadisku
jangan pernah merasa sendiri
aku disini bersamamu
memeluk jiwamu
mencintaimu
sungguh
karena aku, ibumu .......

by: sekarlawu for sinta (My beloved mother)

Saturday, March 10, 2012

Uji nyali

Ah tahu begini, tak akan berani ku ambil tawaran itu.

* * *

Aku berjalan, sendirian. Melintas pekarangan. Padahal baru saja ingin berhenti, berteguh hati. Tak lagi berjalan, mencari, melintas pekarangan. Tapi, semesta, enggan berhenti.

Lalu kau datang, bersama tudung hitam mu.

"Apakah kau berani, menguji diri? Rerawa ini angker, serupa tentara yang enggan beramah-tamah. Belukar yang bahkan, tak akan tersentuh dan tetap jadi misteri. Gelap. Sunyi. Berteka-teki. Sanggup kah kau?"

"Tak lupa ku beri kau, dua juta rupiah, kontan!"

Aku, yang kere, yang perlu duit, sontak menerima. Tanpa peduli teka-teki misterius yang jadi apa nanti. Tak peduli keraguan yang mulai menjilat-jilat. Namun aku, merebut resiko yang di genggam erat-erat oleh keraguan ku.

"Apa bila kau menyerah, segera lambaikan tangan ke arah kamera."

Ini malam pertama.

Tak ada hantu rerawa. Cuma desau-desau angin coba goda aku dengan dinginnya. Oh, tak lupa, lolong parau entah darimana. Ah, segitu saja?

Namun, semakin waktu mulai berlari, semakin waktu terdesak, semua mulai menggoda.

Semua mulai lancarkan aksi-aksinya.

Ini malam kedua.

Kuntilanak. Wewe gombel. Genderuwo.

Suster ngesot. Pocong. Tuyul.

Gak! Aku enggan untuk berhenti!

"Apa bila kau menyerah, segera lambaikan tangan ke arah kamera."

10 maret 2012, bandung
dalam rangka meneguhkan hati.

Tuesday, March 6, 2012

Tangis

Entah. Hanya beribu entah yang menggenangi lamun ku yang telah hinggap di titik akhir paragraf itu. Air mata mengalir, deras, menutupi luka yang menganga lebar walau tak benar tampak.

Aku menangis. Dalam bisikan.

Tak urung ku toreh lagi, lagi, dan lagi, luka yang sedikitnya hendak kembali tertutup. Pantas kah ia ku sebut luka, sedang ia yang mestinya lebih terluka? Genap setengah jalan, aku menjalin apa yang ia jalin kala lalu. Dan tetap, tanya itu tetap menunggu di balik selubung gelap lamun ku. Selalu.

Tanya, akan putih ataukah hitam.

Pantas kah tersebut putih, saat noda besar yang begitu menggelayut di hadapan kelopak sadar ku enggan beranjak? Pantas kah tersebut hitam, saat rasa adalah anugerah, saat rasa adalah mukjizat?

Lamunku melayang, kembali di kala membaca lagi sederetan penuh kenangan yang terpatri tajam tanpa dapat terkelabui. Rayu mu begitu identik. Untuk ku, maupun untuk nya. Lalu bisa apa aku, selain menangis, lagi dan lagi? Apakah aku merasa terhina? Bukan! Bukan itu..

Aku segan, menyakiti apa yang tak harus tersakiti.

Namun, apa kuasa ku? Yang terjadi, malah, membumi hanguskan fondasi yang ia bangun sepetak demi sepetak untuk mu. Demi mu. Apa harga air mata ku? Tak ayalnya sundal, aku merasa nista di antara yang ternista. Tega apa aku, menyakiti ia? Tega apa kamu, menyakiti ia?

"Sudah lah. Semua orang mempunyai keputusan untuk hidupnya sendiri. Masa lalu biar lah jadi masa lalu, masa depan biarkan jadi misteri nantinya."

Sanggup kah aku, terhantui rasa bersalah, seumur hidupku?

6 maret 2012
warnet, nunggu try out.

Saturday, March 3, 2012

Berharap

Malam lagi-lagi mendesaukan tawanya.
Coba ciptkakan ruang lengkung yang mengungkung
fargmen-fragmen rindu bernama 'aku'.

Harus berapa diksi lagi,
agar tambatan ku
benar-benar berpaling
atau setidaknya
mengerling saja?

 14 januari 2012

Foto-foto Girls Day Out 2

Berhubung kemarin ini punya janji bakalan nge-upload foto-foto GDO2 kemarin, sekarang mau nepatin janjinya :D

landing

Lazy vault

Balance

Underbar

Kong vault

Quadropedal

Thief vault

Annty Marais :D

Speed vault

Kong vault

Swing

The girls!

Gimana? Seru kaaaan? Seru dong! Kalo penasaran sama foto-foto yang lain cek aja disini :D

Foto by: Aditama Gunawan.

Friday, March 2, 2012

Sabar, tunggu, nanti.

Jangan menangis
bukan, bukan itu yang ia maksud
bukan, bukan itu yang benar-benar kau pikirkan.

Jangan bersedih
rebahkan saja gundah mu disini
sejenak, aku tak pernah segan
namun jangan terlalu lama. terlalu lama.

Jangan berputus asa
percaya lah, waktu tak pernah enggan
untuk mewahyukan magisnya
padamu. nanti.

Percayalah. Walau sedikit.
Sedikit.

2 maret 2012
semangat, zaphiera.

Monday, February 27, 2012

Rindu

Bagaimana bisa,
darah ku saling bersahutan
menyortir sesesap demi sesesap rindu yang menggagu
menggebu minta kamu?

Waktu,
kapankah engkau membisiki magis mu
menciptakan lagi
harum hujan yang sama
saat kali terakhir kami bercumbu?
Bibir ku mulai kelu
mengulum rindu yang terlalu bernafsu.
Sudah kan saja lah, Waktu,
biarkan aku
kembali bercumbu. Lagi.

14 januari 2012

Kata

Dasar berengsek!
Gara-gara tergurat persona mu
kali terakhir kita bercumbu,
siang ku beranjak adu dengan malam.
Pada binatang berdansa
menertawai aku yang hampa makna

Aku mencintai saat ada yang melekuk
anggun
mencipta tanpa sungguh tau apa
dan mengapa harus

Karena aku penggembala kata
yang mengembik liar meminta berkeliuk
memadati ruang hampa tanpa mesti bermakna
atau pun mesti berima.

Aku memuja para kata.
Aku penyihir, penyandur, pemimpi, dan penari
pada saat bersamaan

Mencipta seakan dunia
hanya berbatas dalam pola pikir yang tak kunjung matang

Aku butuh api unggun
untuk memasak pola pikir ku hingga gosong
hingga berbau apak
agar nantinya dunia tak lagi seakan
penuh rongga tak berguna
seperti saat ini.

Aku jatuh cinta
pada lekuk indah kata-kata yang
memicu birahi ku agar
mencumbunya tiap asa berdendang.

14 januari 2012

Sunday, February 26, 2012

Kamu

Bagaimana jika semua ini hanya detak terlalu panjang yang iringi lelap tiada habis? Bagaimana jika ini ternyata lelucon tidak lucu dari selubung niat jahat perasaan ku? Bagaimana jika ternyata aku hanya boneka kacang yang terombang-ambing dimainkan oleh semesta?

Yang ku lakukan sekarang hanya berkencan dengan uap panas yang menempel di jendela, terhela tak berhenti dari deru nafasku. Sambil bersitatap dengan kelam malam yang tak acuh, sibuk memadu kasih bersama rembulan. Khayal ku mengawang... Terbang sebagai layang-layang. Dan hanya dia yang sibuk menarik ulur gelasan ku pada daratan.

Mengapa tak kau tarik saja aku dari angkasa, lalu kau dekap hangat agar nantinya aku tak tersesat? Apakah aku tak tampak terlalu indah, lalu kau biarkan aku melayang.. Tinggi.. Beradu dengan layang-layang lainnya?

Dan selalu, kelam malam yang sibuk memadu kasih, yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

* * *

Lagi-lagi aku termainkan oleh semesta.

Begitu mudahnya ia bolak-balik detak jantung ku hingga tak berima. Hingga tergopoh-gopoh menyaingi desir darah ku yang berpacu. Tak bisa kah para bakteri membuat cela pada pahatan senyumnya yang terlalu sempurna? Deret giginya selalu putih, selalu! Dan desah cengirannya selalu memanahkan kartu mati pada nadi ku agar berhenti sejenak.

Selalu, kamu, kamu, kamu.

Mengapa tidak aku saja yang terbayang-bayang dalam benak mu? Bukan sebaliknya seperti ini. Siksa ini terlalu berat, terlalu berkarat.

Mudah saja orang lain mengurai rindunya dengan saling berpagutan kasih. Lah, aku? Bisa-bisa babak belur hingga terkapar mati, di sisakan oleh para belatung.

Mengapa tidak kau buat dirimu menjadi satu?

Lalu kau datangi aku,

Dan buat lagi menjadi dua?

* * *

Kita sekarang malah merajut kobaran api yang siap menyambar empunya sewaktu-waktu. Ataukah kau hanya beri aku pemintalnya saja, namun aku berprasangka terlalu tinggi? Berprasangka bahwa kita merajut bersama? Entahlah, perasaan ini terlalu gila.

Bisa kah rembulan datang kemari agar ku bisa caci makinya tepat di hadapan? Rembulan terlalu berengsek, bersinar terlalu terang pada hati ku yang terlalu galau.

Aku tak sanggup didera oleh harapan-harapan yang berongga. Tak bisa kah kau hanya jauhi pergi aku tanpa embel-embel cinta? Atau kah aku yang terlalu berprasangka? Lagi-lagi kau buat ku benga.

Kaki ini mulai melangkah, jauh.

Jauhi lingkaran tak berlancip ini.

Jauhi roda yang terlalu bergerigi.

* * *

Namun, ternyata langit terlalu biru.

Utara ku ternyata tidak lah mutlak seperti seharusnya, tapi bergeser mengikuti jejak-jejak mu entah kamu kemana. Kaki ku mendekati ambang-ambang kebingungan lagi, lengan ku bersiap mendekap angan-angan yang tak pasti lagi. Namun semua ini ternyata candu. Semua ini buat ku rancu. Dan buat aku tetap menghirup nafas hidup, gagu.

Ternyata, kau berbeda.

* * *

Lagi, aku berenang dalam kolam ketidakpastian.

Kamu mendadak seperti bayang, namun sekejap menjadi petang. Aku hanya berseteru dengan rindu dan mencaci gengsi. Rindu yang tertabung tak tertahankan lagi., namun kobar-kobar api yang terajut itu mendadak padam.

Namun aku terlanjur kuyup akan cinta pada mu. Degup jantung ku hanya bertahan demi menghirup wangi mu yang terurai. Bisa apa aku, tanpa semua ketidakpastian ini, tanpa semua kebingungan ini?

Aku terlalu mencintaimu.

* * *

Kau menghilang...

* * *

Pondasi ku rubuh sudah.

Kau tapak kan lagi kaki mu pada tembok yang ku bangun sepetak demi sepetak. tembok ku tak tahan akan gelora rindu yang mendesak agar meledak. Kau tersenyum lagi. Kau menggoda lagi.

Aku terjatuh,

Lagi.

* * *

Mendadak, aku di tampar oleh lelucon diantara lelucon. Mestikah aku tertawa? Atau kah harus menangis?

Mana bisa aku percaya,

Kau bersitatap dengan ku,

memoles harapan sangat tinggi pada wajah mu?

Mana bisa aku percaya,

kau menguntai sepatah demi sepatah kata,

mengungkap apa yang harusnya terungkap?

Mana bisa?

Dan sekarang, jemari kita saling berpagutan, mengalirkan rona-rona asmara lewat ujung jemari kita. Harus kah aku tertawa? Atau menangis?

Apa kah ini awal?

Atau kah akhir?


25 september 2011
teruntuk kamu

Melamun

Harus berapa
rangkai diksi yang ku cipta,
agar rindu ku yang menggebu
ini
rebah lagi di tempat mu?

Dengan harum hujan
Persis
kali terakhir
kita
bertemu.

14 januari 2012

Indonesia


Sayang, bukannya aku tak mencintaimu
Sendiku ini hanya terhubung oleh kecintaan mu
Ragaku juga hanya terbangun oleh gelora mempertahankan mu
Hanya kamu.

Sayang, bukannya aku tak mencintaimu
Hanya saja aku tak sudi
Para pemegang tiang mu yang rapuh makin sini makin hina
Sekarang para petinggi yang agungkan mu
Hanya ingin sejahteranya sendiri
Tak lebih.

Sayang, bukannya aku tak mencintaimu
Tapi bisa apa aku?
Lagipula, tetangga mu menawarkan kenyamanan yang lebih pasti
Keamanan, kejujuran, kepedulian
Bisa apa aku?

Sayang, maafkan aku.
Aku harus pergi.
Sekarang,
Selamanya.

6 desember 2011

Aku ingin

Aku ingin jadi petang yang tidur disamping lelapmu
Dan juga menjadi subuh yang mengecup mimpi agar terjaga,
bersegera untuk romansa dengan Tuhan mu.

Aku ingin menjadi terik siang
Untuk berikan terang dalam gelap ragu yang mengecam mu

Dan lalu..
Aku ingin jadi senja mu.
Setangkup manis penutup dalam lelah hari mu
Jingga, lembayung, merah jambu
Sekena hati mu pun aku mau.

Aku ingin mendampingimu.
Hanya mendampingi mu.
Bukankah bahagia itu sederhana?

9 februari 2012

Friday, February 24, 2012

Takbir

Tak kau dengarkah tetaluan itu?
Gema takbir saling beradu
Mengaduh, menderu, gaduh
Tak kau dengarkah puji-pujian saling bersahutan?
Mengejar, berlari, mencari kemenangan
Pesta pora setelah sebulan tertempa
Tak kau dengarkah..?

Hanya doa yang ku panjat
Beserta rindu yang bertalian erat
Agar jauh, jauh kau disana
Tersaji setangkup senyum hangat,
menantiku.
Ayah...
Tak kau dengarkah?

30 agustus 2011

Arina

Rasanya seperti sirup moka saat terbayang pandangan pertama ku yang tenggelam dalam belukar pandangannya yang sayu. Warna bola matanya yang seperti menguarkan sirup mika buat aku jadi lupa daratan. Ia cantik, terlalu cantik.

Keriwil rambutnya naungi sirup moka yang ku damba. Tatapannya berbinar mesra, lelehkan aku. Ingin rasanya ku rengkuh ia, ku kecup dan lupa ku lepas. Tetapi norma dan aturan bangunkan aku. Aku hanya bisa berangan tanpa bercengkrama dengan nyata.

Dan lalu menit-menit berkejaran. Lihat saja sekarang. Seragam SMP membalut tubuh belianya. Rambut keriwil terikat tinggi-tinggi. Buah dadanya membesar sedikit, tubuhnya mulai berlekuk. Ia tak lagi cadel. Ia menyesaki ku dengan berbagai pertanyaan. Tanya mu merentet tiada habis. Aku hanya tersenyum bahagia menatapnya.

Banyak teman lelakinya yang memberi pandangan tak biasa. Membuat ku jengah. Membuat ku ingin marah. Namun memang gadis ku terlalu cantik, terlalu manis untuk usianya yang baru belasan. Aku hanya bisa menggeram.. Lalu menggeliat diam.

Sekarang bulan-bulan bersahutan. Menyapa para tahun. Membuat kencan dengan waktu. Rambut keriwilnya hilanh, yang ada hanya sejumput kasar rambut lurus bak sapu ijuk. Ia terobsesi lurus. Ia terobsesi kurus. Padahal tiap petang berganti, ku bisiki ia. Kau cantik dengan segala kekurangan dan kelebihan mu. Namun kau labil. Kau mencibir.

Tahu apa om tentang anak muda? Tahu apa om tentang para remaja? Kau picingkan wadah sirup mokaku. Kau tutup rapat-rapat agar manisnya tak tersampai. Tahu apa aku? Yang aku tahu hanya rasa cinta ku yang meminta kesempurnaan tanpa tambahan. Aku mencintaimu, maka kau sempurna ku. Tapi kau tak peduli. Kau tak pernah sudi.

Selain perintilan anak muda itu, kau gandeng teman lelaki sebaya mu. Kau pamerkan ia, dan berkata ia segalanya. Hati ku tersentak. Nadi ku berdetak. Pantaskah lelaki kurus belum cukup umur ini mengagungkan sirup moka ku? Menghirup manis coklatnya perlahan namun tak sampai tertelan? Cinta ku mengerang. Aku hanya bisa mengucap gagu agar tak terpocel marmer pualamku. Mereka remaja mabuk asmara, bisa apa aku?

Lalu aku hanya bisa terpaku menatap jemari nista itu bertautan dengan gemulai putriku yang ayu. Tepat seminggu sekali, malam minggu. Padahal banyak yang merayu ku. Idiot? Tentu saja! Sejak kapan logika sejalan dengan cinta? Mereka berbanding terbalik.

Tapi minggu ini ia membisu. Tak ada manis, tak ada kelip bahagia. Ia hanya menggelayut pasrah pada kelambu malam. Ada apa sayang? Ada apa?

"Ini, Om.. Dia.. Dia malah pacaran sama Siska," jawab mu lesu. Untaian nadanya bergetar. Gadisku! Si cilik kesayangan ku! Tolol benar bocah satu ini! Biar ku habisi sampai mampus!

Seakan membaca pikiran ku, ia menggeleng, "Jangan, Om. Aku sayang sama dia. Biarin dapet balesannya sendiri."

Aku hanya bisa mendekapnya yang penuh linangan air mata. Mengapa tidak kau sayangi aku? Akal sehat menertawai ku. Kau hanya lelaki dungu yang merajut benang-benang kusam dan kau beri nama cinta. Kau tak sadar, bahkan tak mau sadar, bahwa pangkal harapanmu pada gadis cilik seperempat usia. Tapi bisa apa aku, wahai akal sehat?

Sekarang kau mengusap jauh bulir-bulir air mata yang tersisa agar menjauh dari kanvas lukis ciptaan Tuhan ku. Terpatri lahu pulasan senyum mu walau pendarnya berkelip susah payah. Putri cilik ku menapaki setapak terjal kedewasaan dan ia mulai tiba di tengah jalan.

Aku tak mau percaya bahwa gadis di pelaminan itu adalah gadis yang sama. Gadis yang tetap menjadi permaisuri petang ku. Dan yang di lakukan lelaki tua ini, tetap saja menenun cinta yang tak kunjung lapuk. Ataupun pudar.

Aku bahagia dan berduka pada saat yang sama.

Saat orang tua mulai renta dan mendesak ku, aku hanya sanggup berdalih. Aku tak akan tega dustakan cinta yang terlalu lama. Mana bisa aku bercinta saat tubuh ku hanya memuja gadis ku yang tak cilik lagi?

Semesta, jika saja aku pantas berharap, lahirkan lah ia beberapa belas tahun lebih awal.

* * *

"Pak! Pak!"

"Ada apa, Mbok?"

"Itu pak, si Arina!"

"Kenapa Arina?"

"Kecelakaan, Pak! Sekarat di UGD!"

"Ya Tuhan"

* * *

Jam berdentang. Dua belas kali. Bergema pada kosongnya kepala ku, mengejek.

Aku. Pria berumur lebih setengah abad, meratapi airmata ku yang tak kunjung mengalir. Tatapanku tak kunjug lepas, dari nisan yang terbalut air mata. Basah.

Gadis ku, izinkan aku mengecupmu hari ini.
Memberi penutup manis dalam elegi ku yang tak habis.
Jangan lagi terpikir perih, Sayang.
Cukup aku yang bergelut dengannya,
untuk beberapa dekade nanti.
Gadis ku, bukannya aku tak ingin nodai nisanmu
dengan tetes cengeng tak berguna ini.
Tapi aku tak tega lukai aku sendiri,
lebih dalam lagi...
Aku mencintaimu,
kemarin, hari ini, dan esok,
Gadis Moka cilik ku.
Selalu...

* * *

"Mas, aku nemu ini di diary-nya Arina. Ada nama kamunya. Aku ndak berani buka, mungkin ndak sempet di kasih ke kamu kemarin ini."

"Oh, makasih lho ya, Dek."

* * *

Om,
Saat fajar dan petang berebutan minta bagian,
Aku terjerat dalam satu fase abu-abu
Tak bisa beranjak dari sini,
entah sejak kapan

Om,
Hati ku penuh genderang
Bergemuruh minta ditabuh
Tiap kali aroma tubuh ku dan tubuh mu
Bersatu padu

Om...
Salah kah?

Om,
(atau bolehkah sekali ini sayang?)
Bisa kah kau menjadi penabuh genderang hati ku?

(...saat mimpi hanya pada mimpi
dan om tetap lah om...)

* * *

Arina, Gadis ku.
Bisa kah waktu berputar balik barang sejenak?

7 november 2011
10.43 pm

Thursday, February 23, 2012

Pulang, sayang.


Kapan kah kau berkenan pulang?
Kembali rebah dalam lekuk bahu ku yang hangat
Menyusupkan beribu kasih dalam dinginnya sendiri ku

Kapan kah kau berkenan pulang?
Dengan harum hujan persis kali terakhir kita berjumpa
Senyum yang tidak ternoda walau bebercak asap knalpot

Kapan kah kau berkenan pulang?
Malam sudah terlampau jenuh mendengar racauan ku
Meminta dekapmu, kecupmu, detakmu

Kapan kah kau berkenan pulang?
Malam ini kah? Siang nanti kah?
Rumah mu disini, berbau apak meminta tuannya kembali

23 februari 2012
dws.

Coklat di selipan hitam

Kalian tahu matahari terbenam? Riak-riak merah, kuning dan oranye seakan melantunkan sajak merpati. Lalu perlahan mereka beranjak menjadi magenta, ungu, lembayung, perlahan-lahan menjadi biru gelap, pekat, pekat, menandakan malam menyebarkan sapanya pada kita. Kedap-kedip bebintang cilik mengintip malu-malu ke arah kita yang bisa melihat mereka karena gelap sudah merambat. Cantik bukan?

Seperti itulah cinta ku kepada Kirana.

Aku sangat amat sekali mencintainya. Jika aku galaksi, biarlah ia jadi mataharinya. Bila aku seorang biduan, biarlah ia menjadi suara emasnya. Kirana mempunyai bola mata berwana hitam kecoklatan. Kau tak akan pernah sadar ada bercak-bercak coklat di antara hitamnya jika kau tak benar-benar mengikis keindahan di balik tatapannya.

Aku juga memuja desau suaranya yang agak serak dan cara ia menyebut sederet namaku. Rasanya tubuh ku berceceran tiap kali ku pandang sinat senyumnya yang cemerlang. Kirana wanita yang tangguh. Airmata tak pernah berani mendekati pelupuk matanya yang sayu. Aku paling suka saat jemari kurusnya menekan tuts-tuts putih dan hitam yang berdenting menyuarakan sebuah simfoni. Lalu Kirana menertawai aku yang menikmati simfoni dari denting piano serta dari matanya yang terpejam.

"Kau terlihat konyol setiap kali aku bermain piano." ujar Kirana sambil geleng-geleng kepala. Hanya cengiran yang bisa ku berikan kepada Kirana ku tersayang. Dan Kirana membalas dengan tawa renyahnya.

Aku juga tak akan pernah lupa (ini pasti terukir dalam sudut memoriku) cara Kirana mendekap halus tubuhku sambil mengumbarkan kasih sayangnya. Rasanya seperti tiga ribu duri-duri tajam mawar menusuk tenggorokan ku hingga aku tak sanggup barang untuk menafas sejenak.

Aku sangat amat sekali mencintainya.

Kirana gemar menguntai manik-manik kecil entah merah, biru, ungu, nila, ataupun indigo. Kirana menyulap manik-manik tersebut menjadi sebuah kalung ataupun gelang, pernah juga hiasan kepala. Dan ia sering kali memakaikannya pada ku, lalu ia tertawa keras-keras penuh ejekan melihat hasil karyanya. Yang ku bisa hanya memberikan cengir yang sama pada nya.

Aku teringat saat Kirana berlarian ke arah ku dengan ribut sembari memakai toga dan membawa-bawa topi wisudanya yang berjumbai. Kirana tekah berhasill tempuh terjalnya selama ini dan akan memulai terjalnya yang baru. Tidak lupa Kirana mendekap ku terlalu erat hingga aku merasa sesak. Tapi aku tidak protes. Tidak akan pernah.

Karena aku teramat sangat sekali mencintainya.

Lalu waktu berkejar-kejaran, terjal barunya membuat Kirana sibuk. Ia tak lagi luangkan menit-menit berharganya untuk mendentingkan piano atau menceritakan aku kisah-kisah konyol. Tapi aku tetap setia menanti waktu luangnya, setia menanti kilau-kilau coklat diantara hitam matanya yang sibuk.

Karena aku teramat sangat sekali mencintainnya.

Dan aku ingat sore itu, aku yang setia menunggu lengang mu, di kagetkan oleh hadirmu. Kirana menatap ku dengan tatapan teduh dan dibalik keteduhannya terpendam kebahagiaan yang tak sabar meloncat keluar. Kebingungan mengetuk-ngetuk ku, kepala ku miringkan, menatapnya bingung. Apa yang akan kau ceritakan kali ini Kirana ku sayang?

"Dengar, maaf aku jarang menemui kamu. Aku sibuk sekali, dengan semua embel-embel pekerjaan ini. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa aku lagi mempersiapkan pernikahanku!" kata Kirana menggebu-gebu. Coklat di selip hitam itu berbinar-binar. Aku tak tega berduka saat ia berbahagia seperti ini. Aku terlalu mencintainya, jadi, ya, aku bahagia ia akan menikah.

Tapi setelah pesta pernikahan yang gembor-gemboran itu, setelah Kirana berkewajiban memperkaya jiwa suaminya, denting piano serta tawa renyahnya lenyap tak bernoda. Kerinduan merajai ku, aku ingin Kirana menekan tuts hitam dan putih itu lagi. Aku ingin Kirana memakaikan ku kalung bergradasi ungu-biru lagi. Aku ingin Kirana menawarkan mabuk rinduku.

Aku yang dihantui tawa dari piano Kirana, tercengang melihat Kirana terseok-seok ke arah ku. Saat itu hujan. Petir menyambar-nyambar. Air mata yang segan pada ekor matanya sekarang malah menari-nari riang di pipinya yang tirus. Perutnya membuncit, berisikan calon Kirana kecil. Aku miris melihat kekacauan memancar dari matanya yang buram. Kirana melemparkan tubuhnya padaku, mendekap aku erat-erat, seperti dulu. Ada apa Kirana? Ada apa?

"Kau tahu, Leon ternyata berhubungan terlalu erat dengan teman semasa SMP-nya! Dia malah berjanji kepada teman kecilnya itu akan menceraikan aku setelah aku melahirkan! Apa salahku? Apa dosaku, apa?" isak Kirana sambil bercucuran air mata. Aku hanya bisa terdiam, rasa cinta ku mengamuk marah dalam tubuhku. Beraninya ada yang membiarkan air mata Kirana tertawa senang seperti itu! Ingin rasanya ku cabik ia! Tapi bisa apa aku? Hanya bisa mendengking sedih, menghibur Kirana barang sedikit.

Mendengar dengkingan ku, sepulas senyum terpoles di antara air mata. "Maafkan aku jarang menemui mu. Aku sibuk urus calon bayi mungil tercinta ku ini. Aku ingn agar segalanya sempurna saat ia melihat dunia pertama kalinya," ujar Kirana cerah. Namun sedetik kemudian murung kembali mengecupnya. "Tapi Leon malah seperti itu. Benar-benar diluar rencana. Nanti aku pasti datang lagi, membawa entah Gemastala kecil atau Rendra cilik."

Dan aku yang sangat amat sekali mencintainya menunggu bukti janjinya. Siang demi siang. Petang demi petang. Mimpi-mimpi ku akan Kirana bentuk mini membunuh tubuh ku perlahan. Impian ku memupuk penyakit yang menggerogoti tubuhku. Dan akhirnya Kirana muncul. Menggenggam Gemastalanya yang cantik dalam balutan rok biru muda.

"Maafkan aku datang sangat terlambat. Tapi aku tidak melupakan janji ku bukan?" tanya Kirana, memendarkan senyumnya yang terlampau cerah. "Aku bawa Gemastala, Gemas sayang coba bilang siapa namamu?"

"Jemascalaaaa," sahut Gemastala cadel. Ia berlarian lalu mendekap ku dengan amat sangat erat seperti Kirana waktu dulu. Aku hanya membalasnya dengan cengiran yang sama seperti dulu. Ia punya kilau coklat di antara hitam seperti ibunya. Juga aura yang memaksa ku agar mencintainya.

Lalu aku batuk. Batuk. Dan batuk. Batuknya tidak berhenti, paru-paru ku serasa menciut.Gemastala, yang berada dalam dekapanku, melepaskan dekapannya sambil menatap ku bingung. Batuknya engga pergi. Batuknya mendominasi.

"Kamu kenapa? Ya Tuhan, ayo kita ke dokter!"

* * *

"Dia sudah kronis. Saya harus menyuntiknya sampai mati."

Kirana, Ibu Kirana, Gemastala, dan Dokter mengerubungi ku seperti lalat buah. Air mata-air mata kurang ajar itu kembali berlarian di pipi Kirana seakan mengejek ku. Tapi aku terlalu lemah, sampai menggeram marah pun tak bisa.

Kirana yang tidak bisa menyanggah vonis dokter mendekap ku lembut seakan tak rela aku tersentuh sedikit saja. Ibu Kirana membawa Gemastala keluar. Demgkingan sedih kembali terlontar dari mulutku. Aku terlalu mencintai Kirana, aku tak rela menyerahkannya pada dunia. Aku tak mau.

Si dokter memegang suntikannya dan memegang tubuhku pelan. Mataku terpejam, aku tak sanggup. "Ingatkah kau saat aku menemukan mu di pinggir jalan? Kamu terlihat kumal, dekil dan sangat kelaparan. Lalu ku ajak kamu ke rumah. Dan itu sudah berapa tahun yang lalu? Aku lupa. Sejak pertama kali melihat mu, aku langsung jatuh cinta. Ingat ekspresimu saat kamu melihat aku main piano? Ingat kalung manik-manik yang aku pakaikan? Kamu terlihat konyol. Maafkan aku yang sibuk sampai tak pernah luangkan waktu untuk mu barang sedikit. Tapi aku sangat amat sekali mencintaimu, Dy. Aku.. Tak rela kamu mati. Tapi, aku sayang kamu.."

Badan Kirana bergetar sambil tetap mendekapku. Aku mendengking-dengking sedih. Aku juga sangat amat sekali mencintaimu, Kirana.

Suntikan dokter itu menusuk kulit ku.

Dan sakitnya hilang.

"Kami punya anak-anak anjing lucu yang baru saja lahir kemarin. Kalau anda berminat, aku dengan senang hati memberikan satu padamu."

"Maaf, Dok. Bagi ku anjingku hanya satu. Dan namanya Cloudy."

20 januari 2011
teruntuk Bronis, atas segala kurang perhatian ku di masa lampau.
Aku sangat amat sekali mencintaimu.

Wednesday, February 22, 2012

Sibuk

Tatapku kelu mengerling sabar dan tunggu yang makin membisu.
Hingga kapan mereka beradu?
Saling menepuk bahu?

Sabar sesumbar,
Tunggu mendadak gagu.
Dan aku, diam. Sayu.
Menahan rindu yang menyempil diam-diam.
Penuh gebu.

22 feb 2012

Monday, February 20, 2012

Girls Day Out 2

Woaaahhhh! Kemarin, hari Minggu tanggal 19 februari, ada event yang dinamakan Girls Day Out 2 (GDO2) di taman parkir utara ITB. Apa itu GDO2? Ini hari dimana para praktisi perempuan dari seluruh kota berkumpul dan latihan parkour bareng-bareng. Sebelumnya GDO dirayakan dekat dengan hari Kartini (tanggal 21 April) untuk memeriahkan semangat kartini agar tidak pudar. Tapi tahun ini diadakan tanggal 19 februari, dan dresscodenya pink berhubung dekat dengan hari valentine.

GDO2 ini ada guest starnya lho! Namanya Annty Marais, instruktur perempuan dari parkour generations - London. And she's totally rawk! Gimana runutan latihannya?

Pertama-tama kita lari keliling ITB seperti biasa. Terus pemanasan. Setelah pemanasan, kita quadropedal (maju-mundur), side step (kanan-kiri), dan caterpillar. Sehabis itu kita box jump sebanyak 51 kali. Yang disebutkan tadi termasuk didalam pemanasan. Selesai pemanasan kita waterbreak dulu, lalu kelas perempuan dan laki-laki dipisahkan. Di spot pertama, kita dibagi 3 station. Station pertama, dipimpin sama Annty, disana kita diajari new movements yang asik banget. Di stasion kedua, dipimpin sama Kang Willy, disana kita diberi kesempatan untuk flowing and find your own way plus balancing. Di station ketiga, ada Kang Opal yang mengajari kita untuk bermain presisi sambil berkonsentrasi dengan hitungan yang ditetapkan oleh Kang Opal.

Spot kedua, kita ke sanken. Disana kita diajarin berbagai macam vaulting, kaya lazy, thief, kong, safety, dan reverse.Ga lupa kanan-kiri supaya kita balance ga cuma bisa yang kiri atau sebaliknya. Kita juga diberi kesempatan untuk free your move, terserah mau kaya gimana setelah diajari berbagai macam vault yang tadi.

Spot ketiga, kita ke biologi. Disini kita di bagi 3 line, sebelah kiri, tengah dan kanan. "Be creative!" kata Annty, ketika ia mempratikkan gimana cara melewati obstacle-nya ke bawah dengan cara dia. She moved so smoothly! Keren banget deh! Jadi ngiler gitu pengen kaya dia.. *usap iler*

Berhubung rerintiknya mulai padat, kita hanging di biologi setelah ngelewatin obstacle barusan dengan berbagai cara. Hanging-nya di bagi beberapa kali, kali pertama 30 detik, kali kedua 40, dan terakhir selama mungkin. Sehabis itu kita conditioning akhir dan pendinginan dipimpin Annty.

Overall, GDO2 kali ini keren abis walaupun cuacanya mendung dan sempet hujan sehingga sesi climb up ditiadakan padahal kita-kita yang dari Bandung sebenernya nunggu-nunggu banget sesi itu.. *usap airmata*

Beribu terimakasih buat Annty dan semua yang mendukung GDO2 hingga acara ini sukses dan berkesan!

Oh iya, fotonya nyusul ya :)

Pulang

Aku ingin pulang
Kembali ke ranah kedamaian.
Dimana susu tidak tercecer sia-sia
Kicua mentari terasa hangat,
menjalari kelu yang enggan beranjak
Para angin bersahutan,
Bertukar cerita dalam bahagia

Aku ingin pulang.
Menjauhi bumi yang sesak kepahitan
Dimana lelehan air mata saling berlomba, paling anggun yang berkuasa
Materi dipertuanagungkan, disembah,
terbasuh berbagai peluh tiap hati
Gelak tawa adalah komersil yang diperjual belikan

Aku ingin pulang.
Sekarang.

9 feb 2012

Saturday, February 18, 2012

Gengsi

Petangku tak lagi pekat dengan hitam.
Senja tak benar jingga.
Pagi berubah kelam.
Mereka berontak,
muak akan keteraturan yang terpaksa
'untuk apa menjadi hitam, saat jingga begitu menggoda?'
'dan mengapa jingga jika hitam adalah sejuk dalam diam?'
Beradu ingin
Saling layangkan api cemburu
Tuhan pusing, tak tahan lagi.

Petang sekarang jingga
Dan senja ku beranjak hitam.
Tapi mereka bertengkar.
Lagi
Lagi
Lagi.

10 feb 2012

Thursday, February 16, 2012

Surprise party

Jadi ceritanya sekarang saya genap berumur 18 tahun. Delapan belas tahun. DELAPAN BELAS?! *play musik horror*
Kalo orang kebanyakan berselebrasi ketika umurnya 18 tahun, saya malah berkabung. Oke, mungkin 18 tahun bisa punya SIM A dan C sekaligus, bisa nonton film apapun termasuk porno, bisa ikut konser yang disponsori produk rokok, bisa ngerokok, (harusnya) bisa pulang malam, dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi apa gunanya kalo kita tidak lagi masuk dalam hukum perlindungan di bawah umur? Hah? Ga lagi bisa nyeleneh dengan mabal-mabal disekolah (tahun ini kuliah!), bertameng masih kecil jadi bisa kabur dari kewajiban-kewajiban yang malesin banget (ex: disuruh beli makanan malem2. Kita bisa berdalih dengan "nanti kalo diculik gimana? Aku kan masih kecil!"), dipastikan kita sudah dewasa padahal belum tentu perkembangan kita sudah sampai dimana sudah bisa di sebut dewasa, harus punya KTP, dan sebagainya dan sebagainya. Jujur, entah kenapa saya masih betah di tahap di mana saya masih disebut anak kecil dan masih memerlukan perlindungan yang lebih. *hela nafas panjang*

Anyway, kemarin ini saya mendapatkan hal yang amat sangat tidak terduga. Gimana ceritanya? Lebih enak kalo dari awal kali yaaa. Here the story goes;

Pagi-pagi diawali dengan senyuman. Iya, senyum. Sambil berselebrasi dan memanjatkan syukur kepada Tuhan hari ini genap menapaki tangga yang ke-18. Di inbox hp ada beberapa sms ucapan, lalu dilanjut pergi ke sekolah. Di sekolah dapat berbelas-belas tamparan manis dari teman-teman tercinta, walaupun teman yang diharapkan ingat dan mengucapkan duluan ternyata malah tidak ingat sama sekali. Oh. Okay *walaupun rada jleb*

Ga ada sama sekali pikiran kalo bakalan dikasih surprise atau kado-kado. Gimana tau bakal dikasih kado kalo pada tiis-tiis aja temen-temennya? Ayas minta nemenin ngambil kacamata dia yang dibenerin pulang sekolah. Ya, tidak ada prasangka lain, saya mengiyakan. Ternyata pulang sekolah Gita dan Ayas (plus beberapa temen yang ikutan) udah nungguin dikantin sambil megang cheesecake plus apa gitu (gatau namanya) rasa greentea. OMG, seketika speechless dan ga berhenti ngucapin terimakasih. Dan mereka ga lupa ngasih kado juga. Dan kadonya kewl abizzz!!! Big thankies for my lovely Gita Anugrah, Octorine Ula Belladiena dan Tyas Audi Farasadina :*

Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa karangan Ayu Utami

Dan seakan ga ada abisnya ada surprise lain yang Tuhan rencanakan. Tadinya Devan (pacar nih pacar) ga bisa dateng ke rumah karena eh karena dia lagi banyak tugas. Pertamanya udah BT bangeeedddhhh, ga bisa ketemu dia waktu ulang tahun. Tapi ternyata ibu nge-sms dia diem-diem ngajakin dia dateng ke rumah karena ada makanan segala. Ajakan ibu mana bisa sih dia nolak? Jadi Devan dateng deh ke rumah. Sore-sore. Hujan. Dan muncul di serambi rumah, naik motor, bawa mawar putih. *langsung meleleh*

Rasanya dapet bunga tuh (apalagi sudah lama mengidam-idamkan) kaya gap jump dari jarak terjauh dan langsung bisa climb up begitu saja. Woaaahhhh!!! Devan ikut makan dirumah, makan nasi kuning sama brownies keju amanda. Pulangnya jam setengah 9. Seakan belum habis, sebelum pulang dia ngasih kotak kecil. Ternyata ada kado rahasiaaaaa OMG... Dikasih bunga aja udah seneng banget, dia dateng aja udah seneng banget, dan ada kado tambahan? *meleleh dilantai* begitu dia pulang langsung ngebuka kotak kecilnya. Pertamanya ada kartu ucapan gitu, jadi otomatis baca dulu kartunya sampe selesai. Pas ngebuka kartu ucapannya.. Saya langsung nutup lagi kartunya. Ngebuka lagi dan spontan ketawa sambil nangis. Dikasih jam tangan doooongggg!!! Swiss army doooonnnggg!!! Padahal dulu banget pernah bilang ke dia mau jam tangan kaya gitu (saya aja lupa pernah ngomong baru inget lagi setelah liat kado), ga nyangka banget ternyata dijadiin kado. Ya ampun, beribu terima kasih tak terhingga buat Devan ku sayaaaang :*

unyu banget kan :*

Ga lupa terimakasih untuk ibu ku tersayang yang udah nyiapin tumpeng buat ulang tahun :* Apalagi terimakasih tiada terhingga untuk Alloh SWT. yang telah melimpahkan rejeki tak terhingga. Alhamdulillah..

Semoga tahun ini dapat dipergunakan untuk segala macam hal baik dan bermanfaat. Ga lupa sukses UAN plus SNMPTN! Semangaaaaaat!

Tuesday, February 14, 2012

Valentine

Bukankah aku bermaksud melepaskan apa yang terbelenggu?
Tak cukupkah kau lempari hujatan
yang sekian banyak itu?
Tak kau lihatkah
lumuran hujatmu yang menyelubungi polos ku ini?
Aku hanyalah bermaksud baik.
Tidak, tidak salah bukan?
Atau aku kah yang salah?
Seingatku, bahkan, kaum mu belum ada sebelum aku ada.
Atau aku kah yang salah?

Tak bisakah biarkan aku sendiri dengan kaumku,
sebegitupun kalian dengan kaummu?

Aku hanyalah bermaksud baik. Sungguh.

Cari

Lagi. Satu lagi.

Pencarianku mulai goyah
Apa yang ku cari?
Apa yang ku nanti?
Tatapku jatuh pada beribu buku
yang selonjoran di sebelahku.

Lagi. Satu lagi.

Halaman seribu satu. Untuk ketiga kalinya.
Telah terlahap berbagai versi pembenaran dalam sikapku ini.
Tapi bukan,
bukan ini yang ku cari.

Lagi. Satu lagi.

Kembali hatiku tersayat. Pedih.
Membaca seribu tiga,
yang kelima kali.
Pembenaran.
Bukankah itu yang ku cari?

Lagi. Satu lagi.

9 feb 12

Sunday, February 12, 2012

Jurnal latihan (cihuuuuy)

Yes! Yes! Yes!
Akhirnya setelah ngoceh panjang lebar dan ga bermutu, saya kembali ke maksud awal untuk membuat jurnal latihan pertama saya di sini. Woo-hoo! *joget samba*

Jadi ceritanya tadi latihan hari minggu seperti biasa di ITB, taman parkir utara. Dan sempet kesel juga, telat gitu datengnya gara-gara macet plus angkotnya ngetem mulu *rada curcol*. Balik lagi ke topik, tadi itu temanya grounding dan instrukturnya kang irfan, mandana plus kang andri tapi dia cuma sebentar karena mau ikut undangan. Setelah beberapa kali quadropedal, side step, caterpillar, dan rolling anak-anak cewe ini pindah ke teater. Di teater itu ada tempat buat climb up, dan bagi kami-kami yang latihannya harus jungkir balik sampe mampus buat bisa climb up disana, tempat itu mengerikan. Sekali lagi, me-nge-ri-kan.

Ehm. Lebay. Yaaa, mungkin karena faktor gender juga, karena kita perempuan yang notabene struktur badan dan ototnya beda dari laki-laki jadi kita harus susah payah untuk bisa climb up. Kalo laki-laki baru ikutan aja biasanya udah langsung bisa ngajleng naik ke atas. Tapi buat perempuan sebagian besar harus latihan, seperti kata saya barusan, jungkir balik sampe mampus baru bisa climb up di teater. Padahal di teater itu bukan tembok rata, ada celah-celah buat pijakan. Kalo di parkour, pijakan-pijakan tsb adalah surga dunia.

Dan kabar baiknya, tadi saya bisa climb up disana! 4 kali! dan bukan di spot-spot yang ada pijakan menonjolnya! *langsung tumpengan*
Kenapa sih girang banget bisa climb up gitu doang? Karena, latihannya lama banget baru bisa climb up di sana. Setahun. Bayangkan. But, anyway, i really enjoy my process. Jadi, ya, walaupun progresnya lama banget sampe setahun, tapi kerasanya ga sia-sia banget. Rasanya jadi ga percuma setiap hari push up (yah ga rajin sih) walaupun ga seberapa. Jadi ga sia-sia kan usaha kita? Walaupun banyak prakitisi cewe lain yang latihannya baru sebentar tapi udah jago, bukan berarti semangat latihan langsung ciut tapi malah harus semakin berkobar!!! *menyemangati diri sendiri*

Kenikmatan dengan yang latihan berabad-abad dibanding langsung bisa tuh jauh banget lho.

Pokoknya, harus semakin rajin latihan, jangan langsung pongah baru bisa climb up di teater doang! Hayaaaah!


NB: kalo mau ikutan parkour bandung cek aja disini. Mau kalian cewe, cowo, banci, anak kecil ataupun kakek-kakek, kalian boleh gabung kok.

Parkour? Hah?

Ehem. *apa coba?*
Yah harap maklum, memulai suatu hal itu merupakan hal yang amat sangat berat bagi saya. Semacam modus juga, karena sebenarnya bingung kata pertama apa yang harus diucapkan. *tsah


Well, hari ini seperti biasa latihan hari minggu di ITB jam 8 pagi. Oh ya, saya ikut dalam suatu komunitas parkour di Bandung, tanggal 13 februari ini genap setahun gabung bersama Parkour Bandung. *tiup terompet*


Pasti di antara kalian ada yang bertanya-tanya. Apa itu pakour? Makanan kering macam apa? Parkour itu kalo misalnya dilarang parkour disini itu ya? No, parkour bukan semacam makanan kering, dan yang dilarang itu parkir disini. Sekali lagi, parkir. Atau mungkin kalau ada yang sudah pernah nonton yamakasi dan wawasannya lumayan luas tapi hanya tau sedikit pasti mereka langsung komentar: oh, parkour yang loncat-loncat gedung itu ya? Atau, bahkan, parkour yang salto-salto itu kan? Nge-flip gitu kan?


Sepertinya saya harus menjelaskan parkour terlebih dahulu sebelum membuat jurnal latihan pertama saya di sini. *menghela napas*


Parkour? Apa itu parkour?


Menurut wikipedia sih, parkour adalah aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat, ke tempat lainnya dengen seefisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. Kalo menurut si gue, parkour semacam disiplin yang memperkuat tubuh dan mental kita agar mampu menghadapi obstacle secara efisien, cepat dan terutama safety.


Kenapa disiplin? Kenapa bukan olahraga?


Singkatnya, olahraga pasti ada kompetisi tapi kalo disiplin ga ada kompetisi. Jadi jangan harap ada kompetisi parkour, karena sebenar-benarnya parkour itu anti kompetisi. Ga lucu juga kan kalo kita berlomba-lomba maksain bisa suatu gerakan di parkour padahal kita belum mampu dan nanti malah cidera?


Lah terus? Parkour yang loncat-loncat gedung itu kan?


Noooo, ga selalu parkour harus loncat-loncat gedung. Menurut saya, praktisi-praktisi parkour yang loncat-loncat gedung itu sudah mampu dan bukan berarti parkour identik dengan loncat gedung. Lagipula loncat di lantai dan jaraknya cuma 3cm aja karena kita baru mampu segitu, ya kita lagi belajar parkour. Di parkour itu ada 7 gerakan dasar, landing, presisi, vaulting, climb up, rolling, quadropedal dan balance. Apa pula itu? Itu panjang lagi ceritanya, dan jujur saya takut salah apabila menjabarkan seperti apa gerakan-gerakan tersebut karena saya belum seperti mereka-mereka yang mampu menjabarkannya :)


Jadi parkour itu apa?


Laaaahhhhh itu udah gue kasih tau barusan! Ga ngerti? Googling sono sendiri! *emosi*

Lelap

Lagi-lagi jangkrik berderik, meledek.
Tertawa.
Linglung-kan pandanganku yang tak beranjak
semenjak kau katupkan kelopakmu (3 menit yang lalu)

Aku memanjatkan doa.
Siapa tahu, doa ku dapat membalut ragamu yang terlihat kelu.
Menghangatkan dinginmu.
Yang tentu saja, tabu bagiku.

Aku bersandiwara dengan para bintang.
Barangkali saja kau mendadak terjaga, membuka jendela,
berusaha mendekap kantuk kembali dengan gemerlap malam.
Barangkali.

Aku hanya diam.
Bersitatap dengan lelapmu.
Berharap, mendadak aku dapat mengecup ranum pipimu hingga kegelian.
Atau sedikit saja menyentuh mu. Pelan.

Aku terjaga.
Dalam lamunan panjang.
Tentang lelapmu. Dan lelapku.

9 feb 12 - Bandung

Saturday, February 11, 2012

Beginning

Memulai adalah salah satu hal terberat dalam membuat sesuatu.

Saya Zaphiera Reysheilla Syadza, 4 hari lagi 18 tahun, tinggal di Bandung, kelas 3 SMA sekarang. Buat apa bikin blog? Biar keliatan keren dan gaul! sekedar buat nyampah di media sosial, sharing nantinya macam2 karya tulis, dan umm.. Yah.. Pengen keliatan gaul gitu juga qaqa :3 #kemudianhening

Kenapa milkshake soda? Karena susu itu baik untuk kesehatan, soda itu segar tapi ga menyehatkan, mengingatkan kita untuk seimbang dalam hidup. Dan jangan lupa, mereka di-shake supaya tercampur rata, manis, dan tidak mudah untuk di tolak mentah-mentah.

Well, have a nice trip on my new tempat sampah media, guys! :)