Thursday, March 22, 2012

Kesal

Sudah semestinya semenjak tadi ku genggam erat pena kecil yang setia, Terus melenggak-lenggok salurkan nafsu birahi ku akan kepuasan melihat liukan arangnya di atas bidang datar. Apa yang aku risaukan? Pasti tanya itu yang terlontar entah disengaja, terpendam atau di ludahkan. Entahlah, aku hanya remaja yang enggan beranjak dewasa walau waktu telah menjerit-jerit, menuntut akan sempitnya jalan antara aku dan dewasa. Aku tak sanggup terlalu lama seperti ini, terlalu lama memupuk dan menyiangi hama yang tumbuh liar di pekarangan asa ini. Raga ku mulai tiba saat orgasmenya, orgasme akan keterpaksaan tanpa ada desah erotis yang nikmat atau lenguh panjang kepuasan disana. Hanya ada ketercapaian di puncak bersama dengan segala getir yang tertuai bagai sedang di perkosa. Aku letih, telah melayani angkara murka ku di bangsal nomor tiga belas untuk kesekian kalinya. Telah tiba saatnya, ia keluar dengan gagah mendominasi sabar ku yang tengah menguasai permainan selama ini. Ia membawa kecewa, duka, benci, dan lara. Bersatu padu, laksana pahlawan pembela kebenaran. Apakah mereka tahu benar? Apakah mereka tahu salah? Tidak! Tidak! Hanya dengan nafsu birahi untuk menggagahi lah mereka unjuk gigi. Aku tak sanggup lagi.

Kau pasti kecewa. Sebagaimana kecewa ku terhadap mu. Segala rangkai kata yang telah tersusun rapi, sistematis (tadinya) dalam benak ku yang tersimpan begitu apik mendadak buyar, setelah aku bertemu dengan mata mu. Mata yang menyiratkan letih identik, persis kedua mata ku. Kita pasangan yang telah mencapai orgasmenya masing-masing tanpa rasa terpuaskan sama sekali.

Aku menunggu rangkai kata mu yang akan awali serentet apik milik ku di benak ini. Namun kau kembali diam, persis kita dulu saat masih di lingkupi gelora-gelora asmara tanpa bisa menyalurkannya, waktu itu. Aku tak tahan lagi. Namun sungguh hilang entah kemana serangkaian apik kata-kata itu. Aku mendadak bisu. Namun mendadak ragu, juga.

Kemana kah semua janji manis yang terjalin kala lalu? Kala kita melukis senyum berdua pada masing-masing kanvas yang terpampang di depannya satu-satu. Tidak ada lagi tawa riang, renyah, dan segar yang melekat untuk beberapa hari lamanya. Yang ada hanya duka, lara, dan kecewa.

Bukankah semua ini yang kita hindarkan kala lalu? Atau aku yang hindarkan kala lalu? Entahlah.. Namun sungguh, waktu telah berani menampakkan bengisnya sekarang setelah sekian lama terkungkung.

Salahkah aku, wahai kekasih? Dengan ribuan tuntutan yang ada di sekitar kita namun hanya kusodorkan tiga? Peduli, kasih, cinta? Ah, mungkin terlalu banyak, terlalu berat. Tapi cuma itu, sungguh cuma itu. Aku tak punya lagi nyali ataupun tega untuk pinta lagi. Cukup tiga.

Tapi aku tak bisa, sahut mu. Kamu tak mungkin melakukannya, karena ego mu selalu lebih tinggi dari ego ku. Tidak, tidak. Ego kita sama tinggi namun rasa ku untuk mengalah sering kali lebih berbaik hati.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang mesti aku perbuat? Dengan segala sakit, perih, dan coreng-moreng luka di batin rapuh ku? Diam, hanya diam yang kau pagut semenjak tadi.

Kau malah langkahkan kaki mu jauh-jauh dari perhelatan kita dalam selesaikan (atau mencoba lebih tepatnya) leluka hati yang aku rasa tak kunjung habis.

Ya, kau malah pergi.

Tanpa satu ucap kata pun.

Tak kau rasa kah bimbang yang ku kecap, lara yang ku dekap, dan kecewa yang terserap dalam aku selama ini? Tidak kah?



17 maret 2012
dengan segala emosi yang menggebu

No comments:

Post a Comment