Bagaimana jika semua ini hanya detak terlalu panjang yang iringi lelap tiada habis? Bagaimana jika ini ternyata lelucon tidak lucu dari selubung niat jahat perasaan ku? Bagaimana jika ternyata aku hanya boneka kacang yang terombang-ambing dimainkan oleh semesta?
Yang ku lakukan sekarang hanya berkencan dengan uap panas yang menempel di jendela, terhela tak berhenti dari deru nafasku. Sambil bersitatap dengan kelam malam yang tak acuh, sibuk memadu kasih bersama rembulan. Khayal ku mengawang... Terbang sebagai layang-layang. Dan hanya dia yang sibuk menarik ulur gelasan ku pada daratan.
Mengapa tak kau tarik saja aku dari angkasa, lalu kau dekap hangat agar nantinya aku tak tersesat? Apakah aku tak tampak terlalu indah, lalu kau biarkan aku melayang.. Tinggi.. Beradu dengan layang-layang lainnya?
Dan selalu, kelam malam yang sibuk memadu kasih, yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
* * *
Lagi-lagi aku termainkan oleh semesta.
Begitu mudahnya ia bolak-balik detak jantung ku hingga tak berima. Hingga tergopoh-gopoh menyaingi desir darah ku yang berpacu. Tak bisa kah para bakteri membuat cela pada pahatan senyumnya yang terlalu sempurna? Deret giginya selalu putih, selalu! Dan desah cengirannya selalu memanahkan kartu mati pada nadi ku agar berhenti sejenak.
Selalu, kamu, kamu, kamu.
Mengapa tidak aku saja yang terbayang-bayang dalam benak mu? Bukan sebaliknya seperti ini. Siksa ini terlalu berat, terlalu berkarat.
Mudah saja orang lain mengurai rindunya dengan saling berpagutan kasih. Lah, aku? Bisa-bisa babak belur hingga terkapar mati, di sisakan oleh para belatung.
Mengapa tidak kau buat dirimu menjadi satu?
Lalu kau datangi aku,
Dan buat lagi menjadi dua?
* * *
Kita sekarang malah merajut kobaran api yang siap menyambar empunya sewaktu-waktu. Ataukah kau hanya beri aku pemintalnya saja, namun aku berprasangka terlalu tinggi? Berprasangka bahwa kita merajut bersama? Entahlah, perasaan ini terlalu gila.
Bisa kah rembulan datang kemari agar ku bisa caci makinya tepat di hadapan? Rembulan terlalu berengsek, bersinar terlalu terang pada hati ku yang terlalu galau.
Aku tak sanggup didera oleh harapan-harapan yang berongga. Tak bisa kah kau hanya jauhi pergi aku tanpa embel-embel cinta? Atau kah aku yang terlalu berprasangka? Lagi-lagi kau buat ku benga.
Kaki ini mulai melangkah, jauh.
Jauhi lingkaran tak berlancip ini.
Jauhi roda yang terlalu bergerigi.
* * *
Namun, ternyata langit terlalu biru.
Utara ku ternyata tidak lah mutlak seperti seharusnya, tapi bergeser mengikuti jejak-jejak mu entah kamu kemana. Kaki ku mendekati ambang-ambang kebingungan lagi, lengan ku bersiap mendekap angan-angan yang tak pasti lagi. Namun semua ini ternyata candu. Semua ini buat ku rancu. Dan buat aku tetap menghirup nafas hidup, gagu.
Ternyata, kau berbeda.
* * *
Lagi, aku berenang dalam kolam ketidakpastian.
Kamu mendadak seperti bayang, namun sekejap menjadi petang. Aku hanya berseteru dengan rindu dan mencaci gengsi. Rindu yang tertabung tak tertahankan lagi., namun kobar-kobar api yang terajut itu mendadak padam.
Namun aku terlanjur kuyup akan cinta pada mu. Degup jantung ku hanya bertahan demi menghirup wangi mu yang terurai. Bisa apa aku, tanpa semua ketidakpastian ini, tanpa semua kebingungan ini?
Aku terlalu mencintaimu.
* * *
Kau menghilang...
* * *
Pondasi ku rubuh sudah.
Kau tapak kan lagi kaki mu pada tembok yang ku bangun sepetak demi sepetak. tembok ku tak tahan akan gelora rindu yang mendesak agar meledak. Kau tersenyum lagi. Kau menggoda lagi.
Aku terjatuh,
Lagi.
* * *
Mendadak, aku di tampar oleh lelucon diantara lelucon. Mestikah aku tertawa? Atau kah harus menangis?
Mana bisa aku percaya,
Kau bersitatap dengan ku,
memoles harapan sangat tinggi pada wajah mu?
Mana bisa aku percaya,
kau menguntai sepatah demi sepatah kata,
mengungkap apa yang harusnya terungkap?
Mana bisa?
Dan sekarang, jemari kita saling berpagutan, mengalirkan rona-rona asmara lewat ujung jemari kita. Harus kah aku tertawa? Atau menangis?
Apa kah ini awal?
Atau kah akhir?
25 september 2011
teruntuk kamu
No comments:
Post a Comment