Lupa adalah anugerah. Coba saja sejenak, kau bayangkan Lupa mendadak hilang dari peradaban. Hilang dari kamus-kamus atau tata bahasa dari pelbagai negara.
Pernahkah kau merasa murka? Ketika tak sengaja, adik mu menumpahkan susu atau saat ia merobek kertas tugas mu? Lalu sumpah serapah, yang kau dapat dari televisi itu, kau keluarkan penuh amarah. Berapa hari kau tak menatap adik mu? Tiga hari kah? Atau bahkan seminggu?
Pernahkah kau merasa kecewa? Ketika ternyata karya mu di plagiat oleh teman mu yang tidak bertanggung jawab, dan ia tidak mencantumkan namamu? Lalu ternyata, karya mu mendapat pujian tertinggi, penghargaan sana-sini, tapi tanpa sekali pun tersebut namamu, nama pengarang aslinya?
Pernahkah kau merasa hancur? Ketika cinta pertama mu memberi harapan demi harapn bahwa kau dan ia akan bersama selamanya, sehidup semati, namun ternyata ia pergi meninggalkan mu? Tanpa lupa menyakiti hati mu dengan pelbagai alasan?
Atau, mungkin, pernahkah kau merasa teramat kehilangan? Ketika ayah mu pergi duluan, ke tujuan akhir tanpa mengajak mu ataupun tanpa kau lambaikan perpisahan terlebih dahulu? Padahal, kala lalu, baru saja kau dan beliau hendak pergi menonton bioskop bersama?
Apa yang akan terjadi tanpa Lupa dalam hidup kita?
Adik mu tak akan termaafkan. Sahabat mu hilang satu per satu. Kisah cinta mu hanya berhenti, mentok sampai di situ. Dan kau tak akan pernah berhenti menangis, menangis, menangis, meninggalkan rasa kehilangan mu yang tak pernah hilang.
Bukankah Lupa adalah mukjizat? Dan ia indah, sebagaimana mestinya? Namun, semua hal mempunyai kekurang dan kelebihan, bukan? Dan setiap hal yang terlalu berlebihan tidak lah baik untuk kehidupan.
Bersyukur lah. Kau masih bisa tersenyum, tanpa teringat akan rasa murka, kecewa, atau kehilangan mu kala lalu. Berkat Lupa. Yang bahkan kita lupa, betapa berjasanya ia.
12 maret 2012
No comments:
Post a Comment