Saturday, March 10, 2012

Uji nyali

Ah tahu begini, tak akan berani ku ambil tawaran itu.

* * *

Aku berjalan, sendirian. Melintas pekarangan. Padahal baru saja ingin berhenti, berteguh hati. Tak lagi berjalan, mencari, melintas pekarangan. Tapi, semesta, enggan berhenti.

Lalu kau datang, bersama tudung hitam mu.

"Apakah kau berani, menguji diri? Rerawa ini angker, serupa tentara yang enggan beramah-tamah. Belukar yang bahkan, tak akan tersentuh dan tetap jadi misteri. Gelap. Sunyi. Berteka-teki. Sanggup kah kau?"

"Tak lupa ku beri kau, dua juta rupiah, kontan!"

Aku, yang kere, yang perlu duit, sontak menerima. Tanpa peduli teka-teki misterius yang jadi apa nanti. Tak peduli keraguan yang mulai menjilat-jilat. Namun aku, merebut resiko yang di genggam erat-erat oleh keraguan ku.

"Apa bila kau menyerah, segera lambaikan tangan ke arah kamera."

Ini malam pertama.

Tak ada hantu rerawa. Cuma desau-desau angin coba goda aku dengan dinginnya. Oh, tak lupa, lolong parau entah darimana. Ah, segitu saja?

Namun, semakin waktu mulai berlari, semakin waktu terdesak, semua mulai menggoda.

Semua mulai lancarkan aksi-aksinya.

Ini malam kedua.

Kuntilanak. Wewe gombel. Genderuwo.

Suster ngesot. Pocong. Tuyul.

Gak! Aku enggan untuk berhenti!

"Apa bila kau menyerah, segera lambaikan tangan ke arah kamera."

10 maret 2012, bandung
dalam rangka meneguhkan hati.

No comments:

Post a Comment