Lagi-lagi, lamun merengkuh sepi yang semenjak tadi menemani disisi. Air yang menetes kesekian kalinya, tak pernah letih jadi lahapan tatapku. Aku bertanya, mau kah engkau menjawabnya sekarang? Atau mungkin nanti? Ah.. Yang kau lakukan semenjak tadi hanyalah bercanda riang dengan sendu dan melankoli para remaja seperti aku ini, kan?
Baiklah.. Aku ingin mengakuinya sekali ini saja. Sudikah kau mendengar kesah ku diantara beribu-ribu kesah lain? Ah, bodoh benar aku ini. Walau kau tak akan sudi mendengar, toh aku mengoceh juga pada akhirnya.
Kali ini aku sedang dilanda asmara. Hei, hentikan tawa renyahmu, aku belum selesai bicara! Asmara yang ingin ku ceritakan ini tak seindah yang mereka ceritakan juga padamu. Asmara ku berbelit dengan ragu, rindu yang tertahan-tahan, tanya tak berujung, serta pahit yang mungkin akan jadi ujungnya. Jangan dulu enggan begitu, aku tak tahu harus bercerita dengan siapa lagi jika kau tak sungguh-sungguh ingin dengarkan aku..
Jadi begini ceritanya. Aku mencintai seseorang. Tahukah kau lelaki yang sering mengejar senja itu? Apakah ia sering bercerita dengan mu juga? Ya, aku juga sulit percaya jika ia benar sering bercerita dengan mu seperti aku ini. Ia sungguh... Berbeda. Aku mungkin naif, tapi sungguh, aku tak pernah mencintai seseorang begitu hebatnya seperti ini. Walaupun, sesungguh-sungguhnya, kau tak pernah sangka aku bisa mencintai seseorang seperti ia. Ingatkah kau lelaki-lelaki yang pernah ku cintai dulu? Ingatkah kau lelaki-lelaki yang mengejar-ngejar aku? Tidak, ia jauh berbeda.
Jalur lurus ku diobrak-abrik dengan kehadirannya. Aku tak lagi tahu, mana yang jadi prinsip ku dahulu, pilihan-pilihan seperti apa yang akan aku jalani nantinya. Semua seakan porak-poranda, setelah dengan sengaja ia memasukkan dirinya dalam lingkup hidupku. Jangan tertawa senang dulu, aku bahkan tak tahu apakah ia merasakan hal yang serupa seperti aku. Miris kan?
Bahkan, hal yang lebih miris lagi, hatinya hanya tertambat oleh mantan kekasihnya. Lalu aku, dengan segala kebodohan ku, mencintai lelaki itu. Aku menunggu hadirnya, entah berbentuk maya atau nyata, setiap jam dinding berdetik. Aku terlena akan senyumnya. Aku bahkan berdoa pada bebintang agar barangkali mereka berbaik hati menyulap pekat langit malam kali ini untuk ingatkan aku lagi akan garis lekuk wajahnya.
Jatuh cinta itu sederhana. Ya kan? Sesederhana aku mencintai dirinya, yang bahkan ia hanya memuja mantan kekasihnya. Sesederhana aku berbicara dengan mu, dan berkeluh kesah seakan kau bisa membuat keajaiban agar ia mencintai ku juga. Ah...
Petang semakin larut. Nampaknya kau juga beranjak pergi. Mau kah kau kembali esok hari? Cerita ku belum habis sampai disini. Aku pun merindukan mu bahkan sebelum kau beranjak pergi.
Selamat petang, Hujan. Sampai jumpa esok hari.
17 september 2012
No comments:
Post a Comment