Keriwil rambutnya naungi sirup moka yang ku damba. Tatapannya berbinar mesra, lelehkan aku. Ingin rasanya ku rengkuh ia, ku kecup dan lupa ku lepas. Tetapi norma dan aturan bangunkan aku. Aku hanya bisa berangan tanpa bercengkrama dengan nyata.
Dan lalu menit-menit berkejaran. Lihat saja sekarang. Seragam SMP membalut tubuh belianya. Rambut keriwil terikat tinggi-tinggi. Buah dadanya membesar sedikit, tubuhnya mulai berlekuk. Ia tak lagi cadel. Ia menyesaki ku dengan berbagai pertanyaan. Tanya mu merentet tiada habis. Aku hanya tersenyum bahagia menatapnya.
Banyak teman lelakinya yang memberi pandangan tak biasa. Membuat ku jengah. Membuat ku ingin marah. Namun memang gadis ku terlalu cantik, terlalu manis untuk usianya yang baru belasan. Aku hanya bisa menggeram.. Lalu menggeliat diam.
Sekarang bulan-bulan bersahutan. Menyapa para tahun. Membuat kencan dengan waktu. Rambut keriwilnya hilanh, yang ada hanya sejumput kasar rambut lurus bak sapu ijuk. Ia terobsesi lurus. Ia terobsesi kurus. Padahal tiap petang berganti, ku bisiki ia. Kau cantik dengan segala kekurangan dan kelebihan mu. Namun kau labil. Kau mencibir.
Tahu apa om tentang anak muda? Tahu apa om tentang para remaja? Kau picingkan wadah sirup mokaku. Kau tutup rapat-rapat agar manisnya tak tersampai. Tahu apa aku? Yang aku tahu hanya rasa cinta ku yang meminta kesempurnaan tanpa tambahan. Aku mencintaimu, maka kau sempurna ku. Tapi kau tak peduli. Kau tak pernah sudi.
Selain perintilan anak muda itu, kau gandeng teman lelaki sebaya mu. Kau pamerkan ia, dan berkata ia segalanya. Hati ku tersentak. Nadi ku berdetak. Pantaskah lelaki kurus belum cukup umur ini mengagungkan sirup moka ku? Menghirup manis coklatnya perlahan namun tak sampai tertelan? Cinta ku mengerang. Aku hanya bisa mengucap gagu agar tak terpocel marmer pualamku. Mereka remaja mabuk asmara, bisa apa aku?
Lalu aku hanya bisa terpaku menatap jemari nista itu bertautan dengan gemulai putriku yang ayu. Tepat seminggu sekali, malam minggu. Padahal banyak yang merayu ku. Idiot? Tentu saja! Sejak kapan logika sejalan dengan cinta? Mereka berbanding terbalik.
Tapi minggu ini ia membisu. Tak ada manis, tak ada kelip bahagia. Ia hanya menggelayut pasrah pada kelambu malam. Ada apa sayang? Ada apa?
"Ini, Om.. Dia.. Dia malah pacaran sama Siska," jawab mu lesu. Untaian nadanya bergetar. Gadisku! Si cilik kesayangan ku! Tolol benar bocah satu ini! Biar ku habisi sampai mampus!
Seakan membaca pikiran ku, ia menggeleng, "Jangan, Om. Aku sayang sama dia. Biarin dapet balesannya sendiri."
Aku hanya bisa mendekapnya yang penuh linangan air mata. Mengapa tidak kau sayangi aku? Akal sehat menertawai ku. Kau hanya lelaki dungu yang merajut benang-benang kusam dan kau beri nama cinta. Kau tak sadar, bahkan tak mau sadar, bahwa pangkal harapanmu pada gadis cilik seperempat usia. Tapi bisa apa aku, wahai akal sehat?
Sekarang kau mengusap jauh bulir-bulir air mata yang tersisa agar menjauh dari kanvas lukis ciptaan Tuhan ku. Terpatri lahu pulasan senyum mu walau pendarnya berkelip susah payah. Putri cilik ku menapaki setapak terjal kedewasaan dan ia mulai tiba di tengah jalan.
Aku tak mau percaya bahwa gadis di pelaminan itu adalah gadis yang sama. Gadis yang tetap menjadi permaisuri petang ku. Dan yang di lakukan lelaki tua ini, tetap saja menenun cinta yang tak kunjung lapuk. Ataupun pudar.
Aku bahagia dan berduka pada saat yang sama.
Saat orang tua mulai renta dan mendesak ku, aku hanya sanggup berdalih. Aku tak akan tega dustakan cinta yang terlalu lama. Mana bisa aku bercinta saat tubuh ku hanya memuja gadis ku yang tak cilik lagi?
Semesta, jika saja aku pantas berharap, lahirkan lah ia beberapa belas tahun lebih awal.
* * *
"Pak! Pak!"
"Ada apa, Mbok?"
"Itu pak, si Arina!"
"Kenapa Arina?"
"Kecelakaan, Pak! Sekarat di UGD!"
"Ya Tuhan"
* * *
Jam berdentang. Dua belas kali. Bergema pada kosongnya kepala ku, mengejek.
Aku. Pria berumur lebih setengah abad, meratapi airmata ku yang tak kunjung mengalir. Tatapanku tak kunjug lepas, dari nisan yang terbalut air mata. Basah.
Gadis ku, izinkan aku mengecupmu hari ini.
Memberi penutup manis dalam elegi ku yang tak habis.
Jangan lagi terpikir perih, Sayang.
Cukup aku yang bergelut dengannya,
untuk beberapa dekade nanti.
Gadis ku, bukannya aku tak ingin nodai nisanmu
dengan tetes cengeng tak berguna ini.
Tapi aku tak tega lukai aku sendiri,
lebih dalam lagi...
Aku mencintaimu,
kemarin, hari ini, dan esok,
Gadis Moka cilik ku.
Selalu...
* * *
"Mas, aku nemu ini di diary-nya Arina. Ada nama kamunya. Aku ndak berani buka, mungkin ndak sempet di kasih ke kamu kemarin ini."
"Oh, makasih lho ya, Dek."
* * *
Om,
Saat fajar dan petang berebutan minta bagian,
Aku terjerat dalam satu fase abu-abu
Tak bisa beranjak dari sini,
entah sejak kapan
Om,
Hati ku penuh genderang
Bergemuruh minta ditabuh
Tiap kali aroma tubuh ku dan tubuh mu
Bersatu padu
Om...
Salah kah?
Om,
(atau bolehkah sekali ini sayang?)
Bisa kah kau menjadi penabuh genderang hati ku?
(...saat mimpi hanya pada mimpi
dan om tetap lah om...)
* * *
Arina, Gadis ku.
Bisa kah waktu berputar balik barang sejenak?
7 november 2011
10.43 pm
No comments:
Post a Comment