Tahu kah kau kesakitan ku selama ini?
Ya, aku ternyata hanya seorang pesakitan yang mengharapkan peduli mu barang secuil. Yang bahkan peduli mu memang hanya ada secuil.
Sudah beberapa lama ini, aku mencari tabib dari segala sakit ku. Padahal sebenar-benarnya obat ku hanya lah kamu. Namun kau terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Karena peduli mu hanya secuil, ingat?
Kemarin ini pencarian ku membuahkan hasil. Ternyata, tabibnya tak lagi baru dalam menyembuhkan penyakit yang serupa dengan penyakit ku. Malah, ia lah selama ini yang memberikan pengobatan alternatif tanpa aku sadari.
Tabib ku ini terlalu mahir dalam menyembuhkan penyakit ku. Walau sembuhnya berkala dan aku mesti datang lagi, lagi, dan lagi kepadanya tiap-tiap rasa sembuh yang nyaman itu mulai hilang. Sepertinya, dengan sengaja, ia membubuhkan candu dalam pengobatannya. Tapi aku enggan menolak ataupun berhenti. Karena hanya dengan obatnya yang bercandu lah si pesakitan ini masih tetap hidup, masih tetap bernafas. Tapi tak akan pernah sembuh, karena penyembuh ku hanyalah kamu. Dan rasa sakit ku pun berasal dari sembuh ku.
Aku perlu untuk bernafas normal. Walau hanya sejenak. Karena aku perlu menata fondasi-fondasi yang akan jadi rumah masa tua ku nanti. Makanya, aku mencari pengobatan alternatif dan aku bertemu dengan tabib ku.
Apa kah kau merasa marah dengan pengobatan ku? Yang seharusnya pesakitan ini sabar menunggu dokter aslinya untuk di sembuhkan? Ya, aku tahu kau pasti murka. Namun, bisa apa aku jika tak berobat walau tak benar-benar sembuh sepenuhnya? Peduli mu hanya secuil, ingat?
Dan ini mulai beranjak bulan ketiga semenjak aku melakukan terapi alternatif ku. Sepertinya, tabib ku beranjak dari singgasananya dan mulai berkedudukan sebagai seorang dokter. Hati ku mulai goyah, penyakit ku mulai gelisah. Apakah tabib ku, yang sekarang bertitel dokter, dapat menyembuhkan si pesakitan ini secara permanen? Dokter ku yang sekarang terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Semakin lama sisa-sisa perjuangan dan pengorbanan ku semakin terkuras habis.
Untuk apa aku berusaha jika kamu tak pernah ikut berusaha?
Bolehkah kali ini aku membatalkan perjanjian rawat jalan dengan mu selama ini dan berubah janji dengan tabib yang bertitel dokter itu sekarang?
Ah, tapi sesungguh-sungguhnya penyakit ku tetap tak bisa memberi tahu apa yang baik untuk ku. Karena ia bersemayam berkat adanya kamu, ingat? Jadi, harus kamu yang sembuhkan sakit ku, harus kamu yang menjadi dokter ku!
Tapi penyakit ku goyah, hati ku mulai gelisah.
Bisa kah kau berbesar hati sedikit dan sembuhkan aku kali ini? Agar aku tak perlu bertemu terlalu sering dengan tabib ku, walau aku ingin. Walau aku benar-benar membutuhkannya.
Kekasihmu,
aku.
21.48 senin, 12 maret 2012
No comments:
Post a Comment