Thursday, February 23, 2012

Coklat di selipan hitam

Kalian tahu matahari terbenam? Riak-riak merah, kuning dan oranye seakan melantunkan sajak merpati. Lalu perlahan mereka beranjak menjadi magenta, ungu, lembayung, perlahan-lahan menjadi biru gelap, pekat, pekat, menandakan malam menyebarkan sapanya pada kita. Kedap-kedip bebintang cilik mengintip malu-malu ke arah kita yang bisa melihat mereka karena gelap sudah merambat. Cantik bukan?

Seperti itulah cinta ku kepada Kirana.

Aku sangat amat sekali mencintainya. Jika aku galaksi, biarlah ia jadi mataharinya. Bila aku seorang biduan, biarlah ia menjadi suara emasnya. Kirana mempunyai bola mata berwana hitam kecoklatan. Kau tak akan pernah sadar ada bercak-bercak coklat di antara hitamnya jika kau tak benar-benar mengikis keindahan di balik tatapannya.

Aku juga memuja desau suaranya yang agak serak dan cara ia menyebut sederet namaku. Rasanya tubuh ku berceceran tiap kali ku pandang sinat senyumnya yang cemerlang. Kirana wanita yang tangguh. Airmata tak pernah berani mendekati pelupuk matanya yang sayu. Aku paling suka saat jemari kurusnya menekan tuts-tuts putih dan hitam yang berdenting menyuarakan sebuah simfoni. Lalu Kirana menertawai aku yang menikmati simfoni dari denting piano serta dari matanya yang terpejam.

"Kau terlihat konyol setiap kali aku bermain piano." ujar Kirana sambil geleng-geleng kepala. Hanya cengiran yang bisa ku berikan kepada Kirana ku tersayang. Dan Kirana membalas dengan tawa renyahnya.

Aku juga tak akan pernah lupa (ini pasti terukir dalam sudut memoriku) cara Kirana mendekap halus tubuhku sambil mengumbarkan kasih sayangnya. Rasanya seperti tiga ribu duri-duri tajam mawar menusuk tenggorokan ku hingga aku tak sanggup barang untuk menafas sejenak.

Aku sangat amat sekali mencintainya.

Kirana gemar menguntai manik-manik kecil entah merah, biru, ungu, nila, ataupun indigo. Kirana menyulap manik-manik tersebut menjadi sebuah kalung ataupun gelang, pernah juga hiasan kepala. Dan ia sering kali memakaikannya pada ku, lalu ia tertawa keras-keras penuh ejekan melihat hasil karyanya. Yang ku bisa hanya memberikan cengir yang sama pada nya.

Aku teringat saat Kirana berlarian ke arah ku dengan ribut sembari memakai toga dan membawa-bawa topi wisudanya yang berjumbai. Kirana tekah berhasill tempuh terjalnya selama ini dan akan memulai terjalnya yang baru. Tidak lupa Kirana mendekap ku terlalu erat hingga aku merasa sesak. Tapi aku tidak protes. Tidak akan pernah.

Karena aku teramat sangat sekali mencintainya.

Lalu waktu berkejar-kejaran, terjal barunya membuat Kirana sibuk. Ia tak lagi luangkan menit-menit berharganya untuk mendentingkan piano atau menceritakan aku kisah-kisah konyol. Tapi aku tetap setia menanti waktu luangnya, setia menanti kilau-kilau coklat diantara hitam matanya yang sibuk.

Karena aku teramat sangat sekali mencintainnya.

Dan aku ingat sore itu, aku yang setia menunggu lengang mu, di kagetkan oleh hadirmu. Kirana menatap ku dengan tatapan teduh dan dibalik keteduhannya terpendam kebahagiaan yang tak sabar meloncat keluar. Kebingungan mengetuk-ngetuk ku, kepala ku miringkan, menatapnya bingung. Apa yang akan kau ceritakan kali ini Kirana ku sayang?

"Dengar, maaf aku jarang menemui kamu. Aku sibuk sekali, dengan semua embel-embel pekerjaan ini. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa aku lagi mempersiapkan pernikahanku!" kata Kirana menggebu-gebu. Coklat di selip hitam itu berbinar-binar. Aku tak tega berduka saat ia berbahagia seperti ini. Aku terlalu mencintainya, jadi, ya, aku bahagia ia akan menikah.

Tapi setelah pesta pernikahan yang gembor-gemboran itu, setelah Kirana berkewajiban memperkaya jiwa suaminya, denting piano serta tawa renyahnya lenyap tak bernoda. Kerinduan merajai ku, aku ingin Kirana menekan tuts hitam dan putih itu lagi. Aku ingin Kirana memakaikan ku kalung bergradasi ungu-biru lagi. Aku ingin Kirana menawarkan mabuk rinduku.

Aku yang dihantui tawa dari piano Kirana, tercengang melihat Kirana terseok-seok ke arah ku. Saat itu hujan. Petir menyambar-nyambar. Air mata yang segan pada ekor matanya sekarang malah menari-nari riang di pipinya yang tirus. Perutnya membuncit, berisikan calon Kirana kecil. Aku miris melihat kekacauan memancar dari matanya yang buram. Kirana melemparkan tubuhnya padaku, mendekap aku erat-erat, seperti dulu. Ada apa Kirana? Ada apa?

"Kau tahu, Leon ternyata berhubungan terlalu erat dengan teman semasa SMP-nya! Dia malah berjanji kepada teman kecilnya itu akan menceraikan aku setelah aku melahirkan! Apa salahku? Apa dosaku, apa?" isak Kirana sambil bercucuran air mata. Aku hanya bisa terdiam, rasa cinta ku mengamuk marah dalam tubuhku. Beraninya ada yang membiarkan air mata Kirana tertawa senang seperti itu! Ingin rasanya ku cabik ia! Tapi bisa apa aku? Hanya bisa mendengking sedih, menghibur Kirana barang sedikit.

Mendengar dengkingan ku, sepulas senyum terpoles di antara air mata. "Maafkan aku jarang menemui mu. Aku sibuk urus calon bayi mungil tercinta ku ini. Aku ingn agar segalanya sempurna saat ia melihat dunia pertama kalinya," ujar Kirana cerah. Namun sedetik kemudian murung kembali mengecupnya. "Tapi Leon malah seperti itu. Benar-benar diluar rencana. Nanti aku pasti datang lagi, membawa entah Gemastala kecil atau Rendra cilik."

Dan aku yang sangat amat sekali mencintainya menunggu bukti janjinya. Siang demi siang. Petang demi petang. Mimpi-mimpi ku akan Kirana bentuk mini membunuh tubuh ku perlahan. Impian ku memupuk penyakit yang menggerogoti tubuhku. Dan akhirnya Kirana muncul. Menggenggam Gemastalanya yang cantik dalam balutan rok biru muda.

"Maafkan aku datang sangat terlambat. Tapi aku tidak melupakan janji ku bukan?" tanya Kirana, memendarkan senyumnya yang terlampau cerah. "Aku bawa Gemastala, Gemas sayang coba bilang siapa namamu?"

"Jemascalaaaa," sahut Gemastala cadel. Ia berlarian lalu mendekap ku dengan amat sangat erat seperti Kirana waktu dulu. Aku hanya membalasnya dengan cengiran yang sama seperti dulu. Ia punya kilau coklat di antara hitam seperti ibunya. Juga aura yang memaksa ku agar mencintainya.

Lalu aku batuk. Batuk. Dan batuk. Batuknya tidak berhenti, paru-paru ku serasa menciut.Gemastala, yang berada dalam dekapanku, melepaskan dekapannya sambil menatap ku bingung. Batuknya engga pergi. Batuknya mendominasi.

"Kamu kenapa? Ya Tuhan, ayo kita ke dokter!"

* * *

"Dia sudah kronis. Saya harus menyuntiknya sampai mati."

Kirana, Ibu Kirana, Gemastala, dan Dokter mengerubungi ku seperti lalat buah. Air mata-air mata kurang ajar itu kembali berlarian di pipi Kirana seakan mengejek ku. Tapi aku terlalu lemah, sampai menggeram marah pun tak bisa.

Kirana yang tidak bisa menyanggah vonis dokter mendekap ku lembut seakan tak rela aku tersentuh sedikit saja. Ibu Kirana membawa Gemastala keluar. Demgkingan sedih kembali terlontar dari mulutku. Aku terlalu mencintai Kirana, aku tak rela menyerahkannya pada dunia. Aku tak mau.

Si dokter memegang suntikannya dan memegang tubuhku pelan. Mataku terpejam, aku tak sanggup. "Ingatkah kau saat aku menemukan mu di pinggir jalan? Kamu terlihat kumal, dekil dan sangat kelaparan. Lalu ku ajak kamu ke rumah. Dan itu sudah berapa tahun yang lalu? Aku lupa. Sejak pertama kali melihat mu, aku langsung jatuh cinta. Ingat ekspresimu saat kamu melihat aku main piano? Ingat kalung manik-manik yang aku pakaikan? Kamu terlihat konyol. Maafkan aku yang sibuk sampai tak pernah luangkan waktu untuk mu barang sedikit. Tapi aku sangat amat sekali mencintaimu, Dy. Aku.. Tak rela kamu mati. Tapi, aku sayang kamu.."

Badan Kirana bergetar sambil tetap mendekapku. Aku mendengking-dengking sedih. Aku juga sangat amat sekali mencintaimu, Kirana.

Suntikan dokter itu menusuk kulit ku.

Dan sakitnya hilang.

"Kami punya anak-anak anjing lucu yang baru saja lahir kemarin. Kalau anda berminat, aku dengan senang hati memberikan satu padamu."

"Maaf, Dok. Bagi ku anjingku hanya satu. Dan namanya Cloudy."

20 januari 2011
teruntuk Bronis, atas segala kurang perhatian ku di masa lampau.
Aku sangat amat sekali mencintaimu.

No comments:

Post a Comment