Entah. Hanya beribu entah yang menggenangi lamun ku yang telah hinggap di titik akhir paragraf itu. Air mata mengalir, deras, menutupi luka yang menganga lebar walau tak benar tampak.
Aku menangis. Dalam bisikan.
Tak urung ku toreh lagi, lagi, dan lagi, luka yang sedikitnya hendak kembali tertutup. Pantas kah ia ku sebut luka, sedang ia yang mestinya lebih terluka? Genap setengah jalan, aku menjalin apa yang ia jalin kala lalu. Dan tetap, tanya itu tetap menunggu di balik selubung gelap lamun ku. Selalu.
Tanya, akan putih ataukah hitam.
Pantas kah tersebut putih, saat noda besar yang begitu menggelayut di hadapan kelopak sadar ku enggan beranjak? Pantas kah tersebut hitam, saat rasa adalah anugerah, saat rasa adalah mukjizat?
Lamunku melayang, kembali di kala membaca lagi sederetan penuh kenangan yang terpatri tajam tanpa dapat terkelabui. Rayu mu begitu identik. Untuk ku, maupun untuk nya. Lalu bisa apa aku, selain menangis, lagi dan lagi? Apakah aku merasa terhina? Bukan! Bukan itu..
Aku segan, menyakiti apa yang tak harus tersakiti.
Namun, apa kuasa ku? Yang terjadi, malah, membumi hanguskan fondasi yang ia bangun sepetak demi sepetak untuk mu. Demi mu. Apa harga air mata ku? Tak ayalnya sundal, aku merasa nista di antara yang ternista. Tega apa aku, menyakiti ia? Tega apa kamu, menyakiti ia?
"Sudah lah. Semua orang mempunyai keputusan untuk hidupnya sendiri. Masa lalu biar lah jadi masa lalu, masa depan biarkan jadi misteri nantinya."
Sanggup kah aku, terhantui rasa bersalah, seumur hidupku?
6 maret 2012
warnet, nunggu try out.
No comments:
Post a Comment