Monday, February 27, 2012

Rindu

Bagaimana bisa,
darah ku saling bersahutan
menyortir sesesap demi sesesap rindu yang menggagu
menggebu minta kamu?

Waktu,
kapankah engkau membisiki magis mu
menciptakan lagi
harum hujan yang sama
saat kali terakhir kami bercumbu?
Bibir ku mulai kelu
mengulum rindu yang terlalu bernafsu.
Sudah kan saja lah, Waktu,
biarkan aku
kembali bercumbu. Lagi.

14 januari 2012

Kata

Dasar berengsek!
Gara-gara tergurat persona mu
kali terakhir kita bercumbu,
siang ku beranjak adu dengan malam.
Pada binatang berdansa
menertawai aku yang hampa makna

Aku mencintai saat ada yang melekuk
anggun
mencipta tanpa sungguh tau apa
dan mengapa harus

Karena aku penggembala kata
yang mengembik liar meminta berkeliuk
memadati ruang hampa tanpa mesti bermakna
atau pun mesti berima.

Aku memuja para kata.
Aku penyihir, penyandur, pemimpi, dan penari
pada saat bersamaan

Mencipta seakan dunia
hanya berbatas dalam pola pikir yang tak kunjung matang

Aku butuh api unggun
untuk memasak pola pikir ku hingga gosong
hingga berbau apak
agar nantinya dunia tak lagi seakan
penuh rongga tak berguna
seperti saat ini.

Aku jatuh cinta
pada lekuk indah kata-kata yang
memicu birahi ku agar
mencumbunya tiap asa berdendang.

14 januari 2012

Sunday, February 26, 2012

Kamu

Bagaimana jika semua ini hanya detak terlalu panjang yang iringi lelap tiada habis? Bagaimana jika ini ternyata lelucon tidak lucu dari selubung niat jahat perasaan ku? Bagaimana jika ternyata aku hanya boneka kacang yang terombang-ambing dimainkan oleh semesta?

Yang ku lakukan sekarang hanya berkencan dengan uap panas yang menempel di jendela, terhela tak berhenti dari deru nafasku. Sambil bersitatap dengan kelam malam yang tak acuh, sibuk memadu kasih bersama rembulan. Khayal ku mengawang... Terbang sebagai layang-layang. Dan hanya dia yang sibuk menarik ulur gelasan ku pada daratan.

Mengapa tak kau tarik saja aku dari angkasa, lalu kau dekap hangat agar nantinya aku tak tersesat? Apakah aku tak tampak terlalu indah, lalu kau biarkan aku melayang.. Tinggi.. Beradu dengan layang-layang lainnya?

Dan selalu, kelam malam yang sibuk memadu kasih, yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

* * *

Lagi-lagi aku termainkan oleh semesta.

Begitu mudahnya ia bolak-balik detak jantung ku hingga tak berima. Hingga tergopoh-gopoh menyaingi desir darah ku yang berpacu. Tak bisa kah para bakteri membuat cela pada pahatan senyumnya yang terlalu sempurna? Deret giginya selalu putih, selalu! Dan desah cengirannya selalu memanahkan kartu mati pada nadi ku agar berhenti sejenak.

Selalu, kamu, kamu, kamu.

Mengapa tidak aku saja yang terbayang-bayang dalam benak mu? Bukan sebaliknya seperti ini. Siksa ini terlalu berat, terlalu berkarat.

Mudah saja orang lain mengurai rindunya dengan saling berpagutan kasih. Lah, aku? Bisa-bisa babak belur hingga terkapar mati, di sisakan oleh para belatung.

Mengapa tidak kau buat dirimu menjadi satu?

Lalu kau datangi aku,

Dan buat lagi menjadi dua?

* * *

Kita sekarang malah merajut kobaran api yang siap menyambar empunya sewaktu-waktu. Ataukah kau hanya beri aku pemintalnya saja, namun aku berprasangka terlalu tinggi? Berprasangka bahwa kita merajut bersama? Entahlah, perasaan ini terlalu gila.

Bisa kah rembulan datang kemari agar ku bisa caci makinya tepat di hadapan? Rembulan terlalu berengsek, bersinar terlalu terang pada hati ku yang terlalu galau.

Aku tak sanggup didera oleh harapan-harapan yang berongga. Tak bisa kah kau hanya jauhi pergi aku tanpa embel-embel cinta? Atau kah aku yang terlalu berprasangka? Lagi-lagi kau buat ku benga.

Kaki ini mulai melangkah, jauh.

Jauhi lingkaran tak berlancip ini.

Jauhi roda yang terlalu bergerigi.

* * *

Namun, ternyata langit terlalu biru.

Utara ku ternyata tidak lah mutlak seperti seharusnya, tapi bergeser mengikuti jejak-jejak mu entah kamu kemana. Kaki ku mendekati ambang-ambang kebingungan lagi, lengan ku bersiap mendekap angan-angan yang tak pasti lagi. Namun semua ini ternyata candu. Semua ini buat ku rancu. Dan buat aku tetap menghirup nafas hidup, gagu.

Ternyata, kau berbeda.

* * *

Lagi, aku berenang dalam kolam ketidakpastian.

Kamu mendadak seperti bayang, namun sekejap menjadi petang. Aku hanya berseteru dengan rindu dan mencaci gengsi. Rindu yang tertabung tak tertahankan lagi., namun kobar-kobar api yang terajut itu mendadak padam.

Namun aku terlanjur kuyup akan cinta pada mu. Degup jantung ku hanya bertahan demi menghirup wangi mu yang terurai. Bisa apa aku, tanpa semua ketidakpastian ini, tanpa semua kebingungan ini?

Aku terlalu mencintaimu.

* * *

Kau menghilang...

* * *

Pondasi ku rubuh sudah.

Kau tapak kan lagi kaki mu pada tembok yang ku bangun sepetak demi sepetak. tembok ku tak tahan akan gelora rindu yang mendesak agar meledak. Kau tersenyum lagi. Kau menggoda lagi.

Aku terjatuh,

Lagi.

* * *

Mendadak, aku di tampar oleh lelucon diantara lelucon. Mestikah aku tertawa? Atau kah harus menangis?

Mana bisa aku percaya,

Kau bersitatap dengan ku,

memoles harapan sangat tinggi pada wajah mu?

Mana bisa aku percaya,

kau menguntai sepatah demi sepatah kata,

mengungkap apa yang harusnya terungkap?

Mana bisa?

Dan sekarang, jemari kita saling berpagutan, mengalirkan rona-rona asmara lewat ujung jemari kita. Harus kah aku tertawa? Atau menangis?

Apa kah ini awal?

Atau kah akhir?


25 september 2011
teruntuk kamu

Melamun

Harus berapa
rangkai diksi yang ku cipta,
agar rindu ku yang menggebu
ini
rebah lagi di tempat mu?

Dengan harum hujan
Persis
kali terakhir
kita
bertemu.

14 januari 2012

Indonesia


Sayang, bukannya aku tak mencintaimu
Sendiku ini hanya terhubung oleh kecintaan mu
Ragaku juga hanya terbangun oleh gelora mempertahankan mu
Hanya kamu.

Sayang, bukannya aku tak mencintaimu
Hanya saja aku tak sudi
Para pemegang tiang mu yang rapuh makin sini makin hina
Sekarang para petinggi yang agungkan mu
Hanya ingin sejahteranya sendiri
Tak lebih.

Sayang, bukannya aku tak mencintaimu
Tapi bisa apa aku?
Lagipula, tetangga mu menawarkan kenyamanan yang lebih pasti
Keamanan, kejujuran, kepedulian
Bisa apa aku?

Sayang, maafkan aku.
Aku harus pergi.
Sekarang,
Selamanya.

6 desember 2011

Aku ingin

Aku ingin jadi petang yang tidur disamping lelapmu
Dan juga menjadi subuh yang mengecup mimpi agar terjaga,
bersegera untuk romansa dengan Tuhan mu.

Aku ingin menjadi terik siang
Untuk berikan terang dalam gelap ragu yang mengecam mu

Dan lalu..
Aku ingin jadi senja mu.
Setangkup manis penutup dalam lelah hari mu
Jingga, lembayung, merah jambu
Sekena hati mu pun aku mau.

Aku ingin mendampingimu.
Hanya mendampingi mu.
Bukankah bahagia itu sederhana?

9 februari 2012

Friday, February 24, 2012

Takbir

Tak kau dengarkah tetaluan itu?
Gema takbir saling beradu
Mengaduh, menderu, gaduh
Tak kau dengarkah puji-pujian saling bersahutan?
Mengejar, berlari, mencari kemenangan
Pesta pora setelah sebulan tertempa
Tak kau dengarkah..?

Hanya doa yang ku panjat
Beserta rindu yang bertalian erat
Agar jauh, jauh kau disana
Tersaji setangkup senyum hangat,
menantiku.
Ayah...
Tak kau dengarkah?

30 agustus 2011

Arina

Rasanya seperti sirup moka saat terbayang pandangan pertama ku yang tenggelam dalam belukar pandangannya yang sayu. Warna bola matanya yang seperti menguarkan sirup mika buat aku jadi lupa daratan. Ia cantik, terlalu cantik.

Keriwil rambutnya naungi sirup moka yang ku damba. Tatapannya berbinar mesra, lelehkan aku. Ingin rasanya ku rengkuh ia, ku kecup dan lupa ku lepas. Tetapi norma dan aturan bangunkan aku. Aku hanya bisa berangan tanpa bercengkrama dengan nyata.

Dan lalu menit-menit berkejaran. Lihat saja sekarang. Seragam SMP membalut tubuh belianya. Rambut keriwil terikat tinggi-tinggi. Buah dadanya membesar sedikit, tubuhnya mulai berlekuk. Ia tak lagi cadel. Ia menyesaki ku dengan berbagai pertanyaan. Tanya mu merentet tiada habis. Aku hanya tersenyum bahagia menatapnya.

Banyak teman lelakinya yang memberi pandangan tak biasa. Membuat ku jengah. Membuat ku ingin marah. Namun memang gadis ku terlalu cantik, terlalu manis untuk usianya yang baru belasan. Aku hanya bisa menggeram.. Lalu menggeliat diam.

Sekarang bulan-bulan bersahutan. Menyapa para tahun. Membuat kencan dengan waktu. Rambut keriwilnya hilanh, yang ada hanya sejumput kasar rambut lurus bak sapu ijuk. Ia terobsesi lurus. Ia terobsesi kurus. Padahal tiap petang berganti, ku bisiki ia. Kau cantik dengan segala kekurangan dan kelebihan mu. Namun kau labil. Kau mencibir.

Tahu apa om tentang anak muda? Tahu apa om tentang para remaja? Kau picingkan wadah sirup mokaku. Kau tutup rapat-rapat agar manisnya tak tersampai. Tahu apa aku? Yang aku tahu hanya rasa cinta ku yang meminta kesempurnaan tanpa tambahan. Aku mencintaimu, maka kau sempurna ku. Tapi kau tak peduli. Kau tak pernah sudi.

Selain perintilan anak muda itu, kau gandeng teman lelaki sebaya mu. Kau pamerkan ia, dan berkata ia segalanya. Hati ku tersentak. Nadi ku berdetak. Pantaskah lelaki kurus belum cukup umur ini mengagungkan sirup moka ku? Menghirup manis coklatnya perlahan namun tak sampai tertelan? Cinta ku mengerang. Aku hanya bisa mengucap gagu agar tak terpocel marmer pualamku. Mereka remaja mabuk asmara, bisa apa aku?

Lalu aku hanya bisa terpaku menatap jemari nista itu bertautan dengan gemulai putriku yang ayu. Tepat seminggu sekali, malam minggu. Padahal banyak yang merayu ku. Idiot? Tentu saja! Sejak kapan logika sejalan dengan cinta? Mereka berbanding terbalik.

Tapi minggu ini ia membisu. Tak ada manis, tak ada kelip bahagia. Ia hanya menggelayut pasrah pada kelambu malam. Ada apa sayang? Ada apa?

"Ini, Om.. Dia.. Dia malah pacaran sama Siska," jawab mu lesu. Untaian nadanya bergetar. Gadisku! Si cilik kesayangan ku! Tolol benar bocah satu ini! Biar ku habisi sampai mampus!

Seakan membaca pikiran ku, ia menggeleng, "Jangan, Om. Aku sayang sama dia. Biarin dapet balesannya sendiri."

Aku hanya bisa mendekapnya yang penuh linangan air mata. Mengapa tidak kau sayangi aku? Akal sehat menertawai ku. Kau hanya lelaki dungu yang merajut benang-benang kusam dan kau beri nama cinta. Kau tak sadar, bahkan tak mau sadar, bahwa pangkal harapanmu pada gadis cilik seperempat usia. Tapi bisa apa aku, wahai akal sehat?

Sekarang kau mengusap jauh bulir-bulir air mata yang tersisa agar menjauh dari kanvas lukis ciptaan Tuhan ku. Terpatri lahu pulasan senyum mu walau pendarnya berkelip susah payah. Putri cilik ku menapaki setapak terjal kedewasaan dan ia mulai tiba di tengah jalan.

Aku tak mau percaya bahwa gadis di pelaminan itu adalah gadis yang sama. Gadis yang tetap menjadi permaisuri petang ku. Dan yang di lakukan lelaki tua ini, tetap saja menenun cinta yang tak kunjung lapuk. Ataupun pudar.

Aku bahagia dan berduka pada saat yang sama.

Saat orang tua mulai renta dan mendesak ku, aku hanya sanggup berdalih. Aku tak akan tega dustakan cinta yang terlalu lama. Mana bisa aku bercinta saat tubuh ku hanya memuja gadis ku yang tak cilik lagi?

Semesta, jika saja aku pantas berharap, lahirkan lah ia beberapa belas tahun lebih awal.

* * *

"Pak! Pak!"

"Ada apa, Mbok?"

"Itu pak, si Arina!"

"Kenapa Arina?"

"Kecelakaan, Pak! Sekarat di UGD!"

"Ya Tuhan"

* * *

Jam berdentang. Dua belas kali. Bergema pada kosongnya kepala ku, mengejek.

Aku. Pria berumur lebih setengah abad, meratapi airmata ku yang tak kunjung mengalir. Tatapanku tak kunjug lepas, dari nisan yang terbalut air mata. Basah.

Gadis ku, izinkan aku mengecupmu hari ini.
Memberi penutup manis dalam elegi ku yang tak habis.
Jangan lagi terpikir perih, Sayang.
Cukup aku yang bergelut dengannya,
untuk beberapa dekade nanti.
Gadis ku, bukannya aku tak ingin nodai nisanmu
dengan tetes cengeng tak berguna ini.
Tapi aku tak tega lukai aku sendiri,
lebih dalam lagi...
Aku mencintaimu,
kemarin, hari ini, dan esok,
Gadis Moka cilik ku.
Selalu...

* * *

"Mas, aku nemu ini di diary-nya Arina. Ada nama kamunya. Aku ndak berani buka, mungkin ndak sempet di kasih ke kamu kemarin ini."

"Oh, makasih lho ya, Dek."

* * *

Om,
Saat fajar dan petang berebutan minta bagian,
Aku terjerat dalam satu fase abu-abu
Tak bisa beranjak dari sini,
entah sejak kapan

Om,
Hati ku penuh genderang
Bergemuruh minta ditabuh
Tiap kali aroma tubuh ku dan tubuh mu
Bersatu padu

Om...
Salah kah?

Om,
(atau bolehkah sekali ini sayang?)
Bisa kah kau menjadi penabuh genderang hati ku?

(...saat mimpi hanya pada mimpi
dan om tetap lah om...)

* * *

Arina, Gadis ku.
Bisa kah waktu berputar balik barang sejenak?

7 november 2011
10.43 pm

Thursday, February 23, 2012

Pulang, sayang.


Kapan kah kau berkenan pulang?
Kembali rebah dalam lekuk bahu ku yang hangat
Menyusupkan beribu kasih dalam dinginnya sendiri ku

Kapan kah kau berkenan pulang?
Dengan harum hujan persis kali terakhir kita berjumpa
Senyum yang tidak ternoda walau bebercak asap knalpot

Kapan kah kau berkenan pulang?
Malam sudah terlampau jenuh mendengar racauan ku
Meminta dekapmu, kecupmu, detakmu

Kapan kah kau berkenan pulang?
Malam ini kah? Siang nanti kah?
Rumah mu disini, berbau apak meminta tuannya kembali

23 februari 2012
dws.

Coklat di selipan hitam

Kalian tahu matahari terbenam? Riak-riak merah, kuning dan oranye seakan melantunkan sajak merpati. Lalu perlahan mereka beranjak menjadi magenta, ungu, lembayung, perlahan-lahan menjadi biru gelap, pekat, pekat, menandakan malam menyebarkan sapanya pada kita. Kedap-kedip bebintang cilik mengintip malu-malu ke arah kita yang bisa melihat mereka karena gelap sudah merambat. Cantik bukan?

Seperti itulah cinta ku kepada Kirana.

Aku sangat amat sekali mencintainya. Jika aku galaksi, biarlah ia jadi mataharinya. Bila aku seorang biduan, biarlah ia menjadi suara emasnya. Kirana mempunyai bola mata berwana hitam kecoklatan. Kau tak akan pernah sadar ada bercak-bercak coklat di antara hitamnya jika kau tak benar-benar mengikis keindahan di balik tatapannya.

Aku juga memuja desau suaranya yang agak serak dan cara ia menyebut sederet namaku. Rasanya tubuh ku berceceran tiap kali ku pandang sinat senyumnya yang cemerlang. Kirana wanita yang tangguh. Airmata tak pernah berani mendekati pelupuk matanya yang sayu. Aku paling suka saat jemari kurusnya menekan tuts-tuts putih dan hitam yang berdenting menyuarakan sebuah simfoni. Lalu Kirana menertawai aku yang menikmati simfoni dari denting piano serta dari matanya yang terpejam.

"Kau terlihat konyol setiap kali aku bermain piano." ujar Kirana sambil geleng-geleng kepala. Hanya cengiran yang bisa ku berikan kepada Kirana ku tersayang. Dan Kirana membalas dengan tawa renyahnya.

Aku juga tak akan pernah lupa (ini pasti terukir dalam sudut memoriku) cara Kirana mendekap halus tubuhku sambil mengumbarkan kasih sayangnya. Rasanya seperti tiga ribu duri-duri tajam mawar menusuk tenggorokan ku hingga aku tak sanggup barang untuk menafas sejenak.

Aku sangat amat sekali mencintainya.

Kirana gemar menguntai manik-manik kecil entah merah, biru, ungu, nila, ataupun indigo. Kirana menyulap manik-manik tersebut menjadi sebuah kalung ataupun gelang, pernah juga hiasan kepala. Dan ia sering kali memakaikannya pada ku, lalu ia tertawa keras-keras penuh ejekan melihat hasil karyanya. Yang ku bisa hanya memberikan cengir yang sama pada nya.

Aku teringat saat Kirana berlarian ke arah ku dengan ribut sembari memakai toga dan membawa-bawa topi wisudanya yang berjumbai. Kirana tekah berhasill tempuh terjalnya selama ini dan akan memulai terjalnya yang baru. Tidak lupa Kirana mendekap ku terlalu erat hingga aku merasa sesak. Tapi aku tidak protes. Tidak akan pernah.

Karena aku teramat sangat sekali mencintainya.

Lalu waktu berkejar-kejaran, terjal barunya membuat Kirana sibuk. Ia tak lagi luangkan menit-menit berharganya untuk mendentingkan piano atau menceritakan aku kisah-kisah konyol. Tapi aku tetap setia menanti waktu luangnya, setia menanti kilau-kilau coklat diantara hitam matanya yang sibuk.

Karena aku teramat sangat sekali mencintainnya.

Dan aku ingat sore itu, aku yang setia menunggu lengang mu, di kagetkan oleh hadirmu. Kirana menatap ku dengan tatapan teduh dan dibalik keteduhannya terpendam kebahagiaan yang tak sabar meloncat keluar. Kebingungan mengetuk-ngetuk ku, kepala ku miringkan, menatapnya bingung. Apa yang akan kau ceritakan kali ini Kirana ku sayang?

"Dengar, maaf aku jarang menemui kamu. Aku sibuk sekali, dengan semua embel-embel pekerjaan ini. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa aku lagi mempersiapkan pernikahanku!" kata Kirana menggebu-gebu. Coklat di selip hitam itu berbinar-binar. Aku tak tega berduka saat ia berbahagia seperti ini. Aku terlalu mencintainya, jadi, ya, aku bahagia ia akan menikah.

Tapi setelah pesta pernikahan yang gembor-gemboran itu, setelah Kirana berkewajiban memperkaya jiwa suaminya, denting piano serta tawa renyahnya lenyap tak bernoda. Kerinduan merajai ku, aku ingin Kirana menekan tuts hitam dan putih itu lagi. Aku ingin Kirana memakaikan ku kalung bergradasi ungu-biru lagi. Aku ingin Kirana menawarkan mabuk rinduku.

Aku yang dihantui tawa dari piano Kirana, tercengang melihat Kirana terseok-seok ke arah ku. Saat itu hujan. Petir menyambar-nyambar. Air mata yang segan pada ekor matanya sekarang malah menari-nari riang di pipinya yang tirus. Perutnya membuncit, berisikan calon Kirana kecil. Aku miris melihat kekacauan memancar dari matanya yang buram. Kirana melemparkan tubuhnya padaku, mendekap aku erat-erat, seperti dulu. Ada apa Kirana? Ada apa?

"Kau tahu, Leon ternyata berhubungan terlalu erat dengan teman semasa SMP-nya! Dia malah berjanji kepada teman kecilnya itu akan menceraikan aku setelah aku melahirkan! Apa salahku? Apa dosaku, apa?" isak Kirana sambil bercucuran air mata. Aku hanya bisa terdiam, rasa cinta ku mengamuk marah dalam tubuhku. Beraninya ada yang membiarkan air mata Kirana tertawa senang seperti itu! Ingin rasanya ku cabik ia! Tapi bisa apa aku? Hanya bisa mendengking sedih, menghibur Kirana barang sedikit.

Mendengar dengkingan ku, sepulas senyum terpoles di antara air mata. "Maafkan aku jarang menemui mu. Aku sibuk urus calon bayi mungil tercinta ku ini. Aku ingn agar segalanya sempurna saat ia melihat dunia pertama kalinya," ujar Kirana cerah. Namun sedetik kemudian murung kembali mengecupnya. "Tapi Leon malah seperti itu. Benar-benar diluar rencana. Nanti aku pasti datang lagi, membawa entah Gemastala kecil atau Rendra cilik."

Dan aku yang sangat amat sekali mencintainya menunggu bukti janjinya. Siang demi siang. Petang demi petang. Mimpi-mimpi ku akan Kirana bentuk mini membunuh tubuh ku perlahan. Impian ku memupuk penyakit yang menggerogoti tubuhku. Dan akhirnya Kirana muncul. Menggenggam Gemastalanya yang cantik dalam balutan rok biru muda.

"Maafkan aku datang sangat terlambat. Tapi aku tidak melupakan janji ku bukan?" tanya Kirana, memendarkan senyumnya yang terlampau cerah. "Aku bawa Gemastala, Gemas sayang coba bilang siapa namamu?"

"Jemascalaaaa," sahut Gemastala cadel. Ia berlarian lalu mendekap ku dengan amat sangat erat seperti Kirana waktu dulu. Aku hanya membalasnya dengan cengiran yang sama seperti dulu. Ia punya kilau coklat di antara hitam seperti ibunya. Juga aura yang memaksa ku agar mencintainya.

Lalu aku batuk. Batuk. Dan batuk. Batuknya tidak berhenti, paru-paru ku serasa menciut.Gemastala, yang berada dalam dekapanku, melepaskan dekapannya sambil menatap ku bingung. Batuknya engga pergi. Batuknya mendominasi.

"Kamu kenapa? Ya Tuhan, ayo kita ke dokter!"

* * *

"Dia sudah kronis. Saya harus menyuntiknya sampai mati."

Kirana, Ibu Kirana, Gemastala, dan Dokter mengerubungi ku seperti lalat buah. Air mata-air mata kurang ajar itu kembali berlarian di pipi Kirana seakan mengejek ku. Tapi aku terlalu lemah, sampai menggeram marah pun tak bisa.

Kirana yang tidak bisa menyanggah vonis dokter mendekap ku lembut seakan tak rela aku tersentuh sedikit saja. Ibu Kirana membawa Gemastala keluar. Demgkingan sedih kembali terlontar dari mulutku. Aku terlalu mencintai Kirana, aku tak rela menyerahkannya pada dunia. Aku tak mau.

Si dokter memegang suntikannya dan memegang tubuhku pelan. Mataku terpejam, aku tak sanggup. "Ingatkah kau saat aku menemukan mu di pinggir jalan? Kamu terlihat kumal, dekil dan sangat kelaparan. Lalu ku ajak kamu ke rumah. Dan itu sudah berapa tahun yang lalu? Aku lupa. Sejak pertama kali melihat mu, aku langsung jatuh cinta. Ingat ekspresimu saat kamu melihat aku main piano? Ingat kalung manik-manik yang aku pakaikan? Kamu terlihat konyol. Maafkan aku yang sibuk sampai tak pernah luangkan waktu untuk mu barang sedikit. Tapi aku sangat amat sekali mencintaimu, Dy. Aku.. Tak rela kamu mati. Tapi, aku sayang kamu.."

Badan Kirana bergetar sambil tetap mendekapku. Aku mendengking-dengking sedih. Aku juga sangat amat sekali mencintaimu, Kirana.

Suntikan dokter itu menusuk kulit ku.

Dan sakitnya hilang.

"Kami punya anak-anak anjing lucu yang baru saja lahir kemarin. Kalau anda berminat, aku dengan senang hati memberikan satu padamu."

"Maaf, Dok. Bagi ku anjingku hanya satu. Dan namanya Cloudy."

20 januari 2011
teruntuk Bronis, atas segala kurang perhatian ku di masa lampau.
Aku sangat amat sekali mencintaimu.

Wednesday, February 22, 2012

Sibuk

Tatapku kelu mengerling sabar dan tunggu yang makin membisu.
Hingga kapan mereka beradu?
Saling menepuk bahu?

Sabar sesumbar,
Tunggu mendadak gagu.
Dan aku, diam. Sayu.
Menahan rindu yang menyempil diam-diam.
Penuh gebu.

22 feb 2012

Monday, February 20, 2012

Girls Day Out 2

Woaaahhhh! Kemarin, hari Minggu tanggal 19 februari, ada event yang dinamakan Girls Day Out 2 (GDO2) di taman parkir utara ITB. Apa itu GDO2? Ini hari dimana para praktisi perempuan dari seluruh kota berkumpul dan latihan parkour bareng-bareng. Sebelumnya GDO dirayakan dekat dengan hari Kartini (tanggal 21 April) untuk memeriahkan semangat kartini agar tidak pudar. Tapi tahun ini diadakan tanggal 19 februari, dan dresscodenya pink berhubung dekat dengan hari valentine.

GDO2 ini ada guest starnya lho! Namanya Annty Marais, instruktur perempuan dari parkour generations - London. And she's totally rawk! Gimana runutan latihannya?

Pertama-tama kita lari keliling ITB seperti biasa. Terus pemanasan. Setelah pemanasan, kita quadropedal (maju-mundur), side step (kanan-kiri), dan caterpillar. Sehabis itu kita box jump sebanyak 51 kali. Yang disebutkan tadi termasuk didalam pemanasan. Selesai pemanasan kita waterbreak dulu, lalu kelas perempuan dan laki-laki dipisahkan. Di spot pertama, kita dibagi 3 station. Station pertama, dipimpin sama Annty, disana kita diajari new movements yang asik banget. Di stasion kedua, dipimpin sama Kang Willy, disana kita diberi kesempatan untuk flowing and find your own way plus balancing. Di station ketiga, ada Kang Opal yang mengajari kita untuk bermain presisi sambil berkonsentrasi dengan hitungan yang ditetapkan oleh Kang Opal.

Spot kedua, kita ke sanken. Disana kita diajarin berbagai macam vaulting, kaya lazy, thief, kong, safety, dan reverse.Ga lupa kanan-kiri supaya kita balance ga cuma bisa yang kiri atau sebaliknya. Kita juga diberi kesempatan untuk free your move, terserah mau kaya gimana setelah diajari berbagai macam vault yang tadi.

Spot ketiga, kita ke biologi. Disini kita di bagi 3 line, sebelah kiri, tengah dan kanan. "Be creative!" kata Annty, ketika ia mempratikkan gimana cara melewati obstacle-nya ke bawah dengan cara dia. She moved so smoothly! Keren banget deh! Jadi ngiler gitu pengen kaya dia.. *usap iler*

Berhubung rerintiknya mulai padat, kita hanging di biologi setelah ngelewatin obstacle barusan dengan berbagai cara. Hanging-nya di bagi beberapa kali, kali pertama 30 detik, kali kedua 40, dan terakhir selama mungkin. Sehabis itu kita conditioning akhir dan pendinginan dipimpin Annty.

Overall, GDO2 kali ini keren abis walaupun cuacanya mendung dan sempet hujan sehingga sesi climb up ditiadakan padahal kita-kita yang dari Bandung sebenernya nunggu-nunggu banget sesi itu.. *usap airmata*

Beribu terimakasih buat Annty dan semua yang mendukung GDO2 hingga acara ini sukses dan berkesan!

Oh iya, fotonya nyusul ya :)

Pulang

Aku ingin pulang
Kembali ke ranah kedamaian.
Dimana susu tidak tercecer sia-sia
Kicua mentari terasa hangat,
menjalari kelu yang enggan beranjak
Para angin bersahutan,
Bertukar cerita dalam bahagia

Aku ingin pulang.
Menjauhi bumi yang sesak kepahitan
Dimana lelehan air mata saling berlomba, paling anggun yang berkuasa
Materi dipertuanagungkan, disembah,
terbasuh berbagai peluh tiap hati
Gelak tawa adalah komersil yang diperjual belikan

Aku ingin pulang.
Sekarang.

9 feb 2012

Saturday, February 18, 2012

Gengsi

Petangku tak lagi pekat dengan hitam.
Senja tak benar jingga.
Pagi berubah kelam.
Mereka berontak,
muak akan keteraturan yang terpaksa
'untuk apa menjadi hitam, saat jingga begitu menggoda?'
'dan mengapa jingga jika hitam adalah sejuk dalam diam?'
Beradu ingin
Saling layangkan api cemburu
Tuhan pusing, tak tahan lagi.

Petang sekarang jingga
Dan senja ku beranjak hitam.
Tapi mereka bertengkar.
Lagi
Lagi
Lagi.

10 feb 2012

Thursday, February 16, 2012

Surprise party

Jadi ceritanya sekarang saya genap berumur 18 tahun. Delapan belas tahun. DELAPAN BELAS?! *play musik horror*
Kalo orang kebanyakan berselebrasi ketika umurnya 18 tahun, saya malah berkabung. Oke, mungkin 18 tahun bisa punya SIM A dan C sekaligus, bisa nonton film apapun termasuk porno, bisa ikut konser yang disponsori produk rokok, bisa ngerokok, (harusnya) bisa pulang malam, dan sebagainya dan sebagainya.

Tapi apa gunanya kalo kita tidak lagi masuk dalam hukum perlindungan di bawah umur? Hah? Ga lagi bisa nyeleneh dengan mabal-mabal disekolah (tahun ini kuliah!), bertameng masih kecil jadi bisa kabur dari kewajiban-kewajiban yang malesin banget (ex: disuruh beli makanan malem2. Kita bisa berdalih dengan "nanti kalo diculik gimana? Aku kan masih kecil!"), dipastikan kita sudah dewasa padahal belum tentu perkembangan kita sudah sampai dimana sudah bisa di sebut dewasa, harus punya KTP, dan sebagainya dan sebagainya. Jujur, entah kenapa saya masih betah di tahap di mana saya masih disebut anak kecil dan masih memerlukan perlindungan yang lebih. *hela nafas panjang*

Anyway, kemarin ini saya mendapatkan hal yang amat sangat tidak terduga. Gimana ceritanya? Lebih enak kalo dari awal kali yaaa. Here the story goes;

Pagi-pagi diawali dengan senyuman. Iya, senyum. Sambil berselebrasi dan memanjatkan syukur kepada Tuhan hari ini genap menapaki tangga yang ke-18. Di inbox hp ada beberapa sms ucapan, lalu dilanjut pergi ke sekolah. Di sekolah dapat berbelas-belas tamparan manis dari teman-teman tercinta, walaupun teman yang diharapkan ingat dan mengucapkan duluan ternyata malah tidak ingat sama sekali. Oh. Okay *walaupun rada jleb*

Ga ada sama sekali pikiran kalo bakalan dikasih surprise atau kado-kado. Gimana tau bakal dikasih kado kalo pada tiis-tiis aja temen-temennya? Ayas minta nemenin ngambil kacamata dia yang dibenerin pulang sekolah. Ya, tidak ada prasangka lain, saya mengiyakan. Ternyata pulang sekolah Gita dan Ayas (plus beberapa temen yang ikutan) udah nungguin dikantin sambil megang cheesecake plus apa gitu (gatau namanya) rasa greentea. OMG, seketika speechless dan ga berhenti ngucapin terimakasih. Dan mereka ga lupa ngasih kado juga. Dan kadonya kewl abizzz!!! Big thankies for my lovely Gita Anugrah, Octorine Ula Belladiena dan Tyas Audi Farasadina :*

Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa karangan Ayu Utami

Dan seakan ga ada abisnya ada surprise lain yang Tuhan rencanakan. Tadinya Devan (pacar nih pacar) ga bisa dateng ke rumah karena eh karena dia lagi banyak tugas. Pertamanya udah BT bangeeedddhhh, ga bisa ketemu dia waktu ulang tahun. Tapi ternyata ibu nge-sms dia diem-diem ngajakin dia dateng ke rumah karena ada makanan segala. Ajakan ibu mana bisa sih dia nolak? Jadi Devan dateng deh ke rumah. Sore-sore. Hujan. Dan muncul di serambi rumah, naik motor, bawa mawar putih. *langsung meleleh*

Rasanya dapet bunga tuh (apalagi sudah lama mengidam-idamkan) kaya gap jump dari jarak terjauh dan langsung bisa climb up begitu saja. Woaaahhhh!!! Devan ikut makan dirumah, makan nasi kuning sama brownies keju amanda. Pulangnya jam setengah 9. Seakan belum habis, sebelum pulang dia ngasih kotak kecil. Ternyata ada kado rahasiaaaaa OMG... Dikasih bunga aja udah seneng banget, dia dateng aja udah seneng banget, dan ada kado tambahan? *meleleh dilantai* begitu dia pulang langsung ngebuka kotak kecilnya. Pertamanya ada kartu ucapan gitu, jadi otomatis baca dulu kartunya sampe selesai. Pas ngebuka kartu ucapannya.. Saya langsung nutup lagi kartunya. Ngebuka lagi dan spontan ketawa sambil nangis. Dikasih jam tangan doooongggg!!! Swiss army doooonnnggg!!! Padahal dulu banget pernah bilang ke dia mau jam tangan kaya gitu (saya aja lupa pernah ngomong baru inget lagi setelah liat kado), ga nyangka banget ternyata dijadiin kado. Ya ampun, beribu terima kasih tak terhingga buat Devan ku sayaaaang :*

unyu banget kan :*

Ga lupa terimakasih untuk ibu ku tersayang yang udah nyiapin tumpeng buat ulang tahun :* Apalagi terimakasih tiada terhingga untuk Alloh SWT. yang telah melimpahkan rejeki tak terhingga. Alhamdulillah..

Semoga tahun ini dapat dipergunakan untuk segala macam hal baik dan bermanfaat. Ga lupa sukses UAN plus SNMPTN! Semangaaaaaat!

Tuesday, February 14, 2012

Valentine

Bukankah aku bermaksud melepaskan apa yang terbelenggu?
Tak cukupkah kau lempari hujatan
yang sekian banyak itu?
Tak kau lihatkah
lumuran hujatmu yang menyelubungi polos ku ini?
Aku hanyalah bermaksud baik.
Tidak, tidak salah bukan?
Atau aku kah yang salah?
Seingatku, bahkan, kaum mu belum ada sebelum aku ada.
Atau aku kah yang salah?

Tak bisakah biarkan aku sendiri dengan kaumku,
sebegitupun kalian dengan kaummu?

Aku hanyalah bermaksud baik. Sungguh.

Cari

Lagi. Satu lagi.

Pencarianku mulai goyah
Apa yang ku cari?
Apa yang ku nanti?
Tatapku jatuh pada beribu buku
yang selonjoran di sebelahku.

Lagi. Satu lagi.

Halaman seribu satu. Untuk ketiga kalinya.
Telah terlahap berbagai versi pembenaran dalam sikapku ini.
Tapi bukan,
bukan ini yang ku cari.

Lagi. Satu lagi.

Kembali hatiku tersayat. Pedih.
Membaca seribu tiga,
yang kelima kali.
Pembenaran.
Bukankah itu yang ku cari?

Lagi. Satu lagi.

9 feb 12

Sunday, February 12, 2012

Jurnal latihan (cihuuuuy)

Yes! Yes! Yes!
Akhirnya setelah ngoceh panjang lebar dan ga bermutu, saya kembali ke maksud awal untuk membuat jurnal latihan pertama saya di sini. Woo-hoo! *joget samba*

Jadi ceritanya tadi latihan hari minggu seperti biasa di ITB, taman parkir utara. Dan sempet kesel juga, telat gitu datengnya gara-gara macet plus angkotnya ngetem mulu *rada curcol*. Balik lagi ke topik, tadi itu temanya grounding dan instrukturnya kang irfan, mandana plus kang andri tapi dia cuma sebentar karena mau ikut undangan. Setelah beberapa kali quadropedal, side step, caterpillar, dan rolling anak-anak cewe ini pindah ke teater. Di teater itu ada tempat buat climb up, dan bagi kami-kami yang latihannya harus jungkir balik sampe mampus buat bisa climb up disana, tempat itu mengerikan. Sekali lagi, me-nge-ri-kan.

Ehm. Lebay. Yaaa, mungkin karena faktor gender juga, karena kita perempuan yang notabene struktur badan dan ototnya beda dari laki-laki jadi kita harus susah payah untuk bisa climb up. Kalo laki-laki baru ikutan aja biasanya udah langsung bisa ngajleng naik ke atas. Tapi buat perempuan sebagian besar harus latihan, seperti kata saya barusan, jungkir balik sampe mampus baru bisa climb up di teater. Padahal di teater itu bukan tembok rata, ada celah-celah buat pijakan. Kalo di parkour, pijakan-pijakan tsb adalah surga dunia.

Dan kabar baiknya, tadi saya bisa climb up disana! 4 kali! dan bukan di spot-spot yang ada pijakan menonjolnya! *langsung tumpengan*
Kenapa sih girang banget bisa climb up gitu doang? Karena, latihannya lama banget baru bisa climb up di sana. Setahun. Bayangkan. But, anyway, i really enjoy my process. Jadi, ya, walaupun progresnya lama banget sampe setahun, tapi kerasanya ga sia-sia banget. Rasanya jadi ga percuma setiap hari push up (yah ga rajin sih) walaupun ga seberapa. Jadi ga sia-sia kan usaha kita? Walaupun banyak prakitisi cewe lain yang latihannya baru sebentar tapi udah jago, bukan berarti semangat latihan langsung ciut tapi malah harus semakin berkobar!!! *menyemangati diri sendiri*

Kenikmatan dengan yang latihan berabad-abad dibanding langsung bisa tuh jauh banget lho.

Pokoknya, harus semakin rajin latihan, jangan langsung pongah baru bisa climb up di teater doang! Hayaaaah!


NB: kalo mau ikutan parkour bandung cek aja disini. Mau kalian cewe, cowo, banci, anak kecil ataupun kakek-kakek, kalian boleh gabung kok.

Parkour? Hah?

Ehem. *apa coba?*
Yah harap maklum, memulai suatu hal itu merupakan hal yang amat sangat berat bagi saya. Semacam modus juga, karena sebenarnya bingung kata pertama apa yang harus diucapkan. *tsah


Well, hari ini seperti biasa latihan hari minggu di ITB jam 8 pagi. Oh ya, saya ikut dalam suatu komunitas parkour di Bandung, tanggal 13 februari ini genap setahun gabung bersama Parkour Bandung. *tiup terompet*


Pasti di antara kalian ada yang bertanya-tanya. Apa itu pakour? Makanan kering macam apa? Parkour itu kalo misalnya dilarang parkour disini itu ya? No, parkour bukan semacam makanan kering, dan yang dilarang itu parkir disini. Sekali lagi, parkir. Atau mungkin kalau ada yang sudah pernah nonton yamakasi dan wawasannya lumayan luas tapi hanya tau sedikit pasti mereka langsung komentar: oh, parkour yang loncat-loncat gedung itu ya? Atau, bahkan, parkour yang salto-salto itu kan? Nge-flip gitu kan?


Sepertinya saya harus menjelaskan parkour terlebih dahulu sebelum membuat jurnal latihan pertama saya di sini. *menghela napas*


Parkour? Apa itu parkour?


Menurut wikipedia sih, parkour adalah aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat, ke tempat lainnya dengen seefisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. Kalo menurut si gue, parkour semacam disiplin yang memperkuat tubuh dan mental kita agar mampu menghadapi obstacle secara efisien, cepat dan terutama safety.


Kenapa disiplin? Kenapa bukan olahraga?


Singkatnya, olahraga pasti ada kompetisi tapi kalo disiplin ga ada kompetisi. Jadi jangan harap ada kompetisi parkour, karena sebenar-benarnya parkour itu anti kompetisi. Ga lucu juga kan kalo kita berlomba-lomba maksain bisa suatu gerakan di parkour padahal kita belum mampu dan nanti malah cidera?


Lah terus? Parkour yang loncat-loncat gedung itu kan?


Noooo, ga selalu parkour harus loncat-loncat gedung. Menurut saya, praktisi-praktisi parkour yang loncat-loncat gedung itu sudah mampu dan bukan berarti parkour identik dengan loncat gedung. Lagipula loncat di lantai dan jaraknya cuma 3cm aja karena kita baru mampu segitu, ya kita lagi belajar parkour. Di parkour itu ada 7 gerakan dasar, landing, presisi, vaulting, climb up, rolling, quadropedal dan balance. Apa pula itu? Itu panjang lagi ceritanya, dan jujur saya takut salah apabila menjabarkan seperti apa gerakan-gerakan tersebut karena saya belum seperti mereka-mereka yang mampu menjabarkannya :)


Jadi parkour itu apa?


Laaaahhhhh itu udah gue kasih tau barusan! Ga ngerti? Googling sono sendiri! *emosi*

Lelap

Lagi-lagi jangkrik berderik, meledek.
Tertawa.
Linglung-kan pandanganku yang tak beranjak
semenjak kau katupkan kelopakmu (3 menit yang lalu)

Aku memanjatkan doa.
Siapa tahu, doa ku dapat membalut ragamu yang terlihat kelu.
Menghangatkan dinginmu.
Yang tentu saja, tabu bagiku.

Aku bersandiwara dengan para bintang.
Barangkali saja kau mendadak terjaga, membuka jendela,
berusaha mendekap kantuk kembali dengan gemerlap malam.
Barangkali.

Aku hanya diam.
Bersitatap dengan lelapmu.
Berharap, mendadak aku dapat mengecup ranum pipimu hingga kegelian.
Atau sedikit saja menyentuh mu. Pelan.

Aku terjaga.
Dalam lamunan panjang.
Tentang lelapmu. Dan lelapku.

9 feb 12 - Bandung

Saturday, February 11, 2012

Beginning

Memulai adalah salah satu hal terberat dalam membuat sesuatu.

Saya Zaphiera Reysheilla Syadza, 4 hari lagi 18 tahun, tinggal di Bandung, kelas 3 SMA sekarang. Buat apa bikin blog? Biar keliatan keren dan gaul! sekedar buat nyampah di media sosial, sharing nantinya macam2 karya tulis, dan umm.. Yah.. Pengen keliatan gaul gitu juga qaqa :3 #kemudianhening

Kenapa milkshake soda? Karena susu itu baik untuk kesehatan, soda itu segar tapi ga menyehatkan, mengingatkan kita untuk seimbang dalam hidup. Dan jangan lupa, mereka di-shake supaya tercampur rata, manis, dan tidak mudah untuk di tolak mentah-mentah.

Well, have a nice trip on my new tempat sampah media, guys! :)