Ada rindu yang tersimpan apik
Di antara lipitan beledu yang beradu
Dipadukan oleh lara,
berbelit hingga tak kentara
Ada leluka yang ter-kristal
Mendayu-dayu lembut selaku puteri yang ayu
Nampak enggan beranjak,
hanya untuk sekedar berobat
Ada asa yang mulai pudar
Tertempa nelangsa tak kunjung kelar
Berikut kecewa,
yang gemar keramaian
Ada secangkir penuh getir
Antara ribuan kata tak terucap
Baik aku,
ataupun kamu.
23 maret 2012
Me-ra-wak (v) mengawur, tidak merata; mengacak;~ rambang mengerjakan sesuatu tanpa memperhitungkan terlebih dahulu tujuan atau sasarannya; mengawur. Ram-bang (a) 1 tidak tetap hati (tujuan); ragu-ragu; 2 seadanya saja; acak.
Friday, March 23, 2012
Thursday, March 22, 2012
Kesal
Sudah semestinya semenjak tadi ku genggam erat pena kecil yang setia, Terus melenggak-lenggok salurkan nafsu birahi ku akan kepuasan melihat liukan arangnya di atas bidang datar. Apa yang aku risaukan? Pasti tanya itu yang terlontar entah disengaja, terpendam atau di ludahkan. Entahlah, aku hanya remaja yang enggan beranjak dewasa walau waktu telah menjerit-jerit, menuntut akan sempitnya jalan antara aku dan dewasa. Aku tak sanggup terlalu lama seperti ini, terlalu lama memupuk dan menyiangi hama yang tumbuh liar di pekarangan asa ini. Raga ku mulai tiba saat orgasmenya, orgasme akan keterpaksaan tanpa ada desah erotis yang nikmat atau lenguh panjang kepuasan disana. Hanya ada ketercapaian di puncak bersama dengan segala getir yang tertuai bagai sedang di perkosa. Aku letih, telah melayani angkara murka ku di bangsal nomor tiga belas untuk kesekian kalinya. Telah tiba saatnya, ia keluar dengan gagah mendominasi sabar ku yang tengah menguasai permainan selama ini. Ia membawa kecewa, duka, benci, dan lara. Bersatu padu, laksana pahlawan pembela kebenaran. Apakah mereka tahu benar? Apakah mereka tahu salah? Tidak! Tidak! Hanya dengan nafsu birahi untuk menggagahi lah mereka unjuk gigi. Aku tak sanggup lagi.
Kau pasti kecewa. Sebagaimana kecewa ku terhadap mu. Segala rangkai kata yang telah tersusun rapi, sistematis (tadinya) dalam benak ku yang tersimpan begitu apik mendadak buyar, setelah aku bertemu dengan mata mu. Mata yang menyiratkan letih identik, persis kedua mata ku. Kita pasangan yang telah mencapai orgasmenya masing-masing tanpa rasa terpuaskan sama sekali.
Aku menunggu rangkai kata mu yang akan awali serentet apik milik ku di benak ini. Namun kau kembali diam, persis kita dulu saat masih di lingkupi gelora-gelora asmara tanpa bisa menyalurkannya, waktu itu. Aku tak tahan lagi. Namun sungguh hilang entah kemana serangkaian apik kata-kata itu. Aku mendadak bisu. Namun mendadak ragu, juga.
Kemana kah semua janji manis yang terjalin kala lalu? Kala kita melukis senyum berdua pada masing-masing kanvas yang terpampang di depannya satu-satu. Tidak ada lagi tawa riang, renyah, dan segar yang melekat untuk beberapa hari lamanya. Yang ada hanya duka, lara, dan kecewa.
Bukankah semua ini yang kita hindarkan kala lalu? Atau aku yang hindarkan kala lalu? Entahlah.. Namun sungguh, waktu telah berani menampakkan bengisnya sekarang setelah sekian lama terkungkung.
Salahkah aku, wahai kekasih? Dengan ribuan tuntutan yang ada di sekitar kita namun hanya kusodorkan tiga? Peduli, kasih, cinta? Ah, mungkin terlalu banyak, terlalu berat. Tapi cuma itu, sungguh cuma itu. Aku tak punya lagi nyali ataupun tega untuk pinta lagi. Cukup tiga.
Tapi aku tak bisa, sahut mu. Kamu tak mungkin melakukannya, karena ego mu selalu lebih tinggi dari ego ku. Tidak, tidak. Ego kita sama tinggi namun rasa ku untuk mengalah sering kali lebih berbaik hati.
Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang mesti aku perbuat? Dengan segala sakit, perih, dan coreng-moreng luka di batin rapuh ku? Diam, hanya diam yang kau pagut semenjak tadi.
Kau malah langkahkan kaki mu jauh-jauh dari perhelatan kita dalam selesaikan (atau mencoba lebih tepatnya) leluka hati yang aku rasa tak kunjung habis.
Ya, kau malah pergi.
Tanpa satu ucap kata pun.
Tak kau rasa kah bimbang yang ku kecap, lara yang ku dekap, dan kecewa yang terserap dalam aku selama ini? Tidak kah?
17 maret 2012
dengan segala emosi yang menggebu
Kau pasti kecewa. Sebagaimana kecewa ku terhadap mu. Segala rangkai kata yang telah tersusun rapi, sistematis (tadinya) dalam benak ku yang tersimpan begitu apik mendadak buyar, setelah aku bertemu dengan mata mu. Mata yang menyiratkan letih identik, persis kedua mata ku. Kita pasangan yang telah mencapai orgasmenya masing-masing tanpa rasa terpuaskan sama sekali.
Aku menunggu rangkai kata mu yang akan awali serentet apik milik ku di benak ini. Namun kau kembali diam, persis kita dulu saat masih di lingkupi gelora-gelora asmara tanpa bisa menyalurkannya, waktu itu. Aku tak tahan lagi. Namun sungguh hilang entah kemana serangkaian apik kata-kata itu. Aku mendadak bisu. Namun mendadak ragu, juga.
Kemana kah semua janji manis yang terjalin kala lalu? Kala kita melukis senyum berdua pada masing-masing kanvas yang terpampang di depannya satu-satu. Tidak ada lagi tawa riang, renyah, dan segar yang melekat untuk beberapa hari lamanya. Yang ada hanya duka, lara, dan kecewa.
Bukankah semua ini yang kita hindarkan kala lalu? Atau aku yang hindarkan kala lalu? Entahlah.. Namun sungguh, waktu telah berani menampakkan bengisnya sekarang setelah sekian lama terkungkung.
Salahkah aku, wahai kekasih? Dengan ribuan tuntutan yang ada di sekitar kita namun hanya kusodorkan tiga? Peduli, kasih, cinta? Ah, mungkin terlalu banyak, terlalu berat. Tapi cuma itu, sungguh cuma itu. Aku tak punya lagi nyali ataupun tega untuk pinta lagi. Cukup tiga.
Tapi aku tak bisa, sahut mu. Kamu tak mungkin melakukannya, karena ego mu selalu lebih tinggi dari ego ku. Tidak, tidak. Ego kita sama tinggi namun rasa ku untuk mengalah sering kali lebih berbaik hati.
Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa yang mesti aku perbuat? Dengan segala sakit, perih, dan coreng-moreng luka di batin rapuh ku? Diam, hanya diam yang kau pagut semenjak tadi.
Kau malah langkahkan kaki mu jauh-jauh dari perhelatan kita dalam selesaikan (atau mencoba lebih tepatnya) leluka hati yang aku rasa tak kunjung habis.
Ya, kau malah pergi.
Tanpa satu ucap kata pun.
Tak kau rasa kah bimbang yang ku kecap, lara yang ku dekap, dan kecewa yang terserap dalam aku selama ini? Tidak kah?
17 maret 2012
dengan segala emosi yang menggebu
Drama
Biar lah waktu memainkan perannya
Dalam seluk belukar asa dan luka
Biar lah waktu memainkan perannya
ketika hanya tinggal raga, tanpa bersisa jiwa
Biar lah waktu memainkan perannya
namun bila waktu hanya bermain,
apa guna ku sebagai sutradara?
21 maret 2012
Dalam seluk belukar asa dan luka
Biar lah waktu memainkan perannya
ketika hanya tinggal raga, tanpa bersisa jiwa
Biar lah waktu memainkan perannya
namun bila waktu hanya bermain,
apa guna ku sebagai sutradara?
21 maret 2012
Saturday, March 17, 2012
Tengkar
Beribu pisau, gergaji, sapu lidi
hendak ramai kan segala risau-risau ku
Telah tersiapkan se-batalyon angkara murka
dan tameng berbalutkan pembenaran
Ku pakaikan topi hijau berat
ke atas sejumput rambut tua ku
Bebarengan dengan senapan
yang terangkat
tinggi-tinggi
meneriak kan, "Kita akan mulai berperang!"
Beribu pisau, gergaji, sapu lidi
hendak ramai kan adonan emosi
yang teruleni dengan kesal, benci, bimbang
Tapi hati telah terteguhkan, walau enggan
Ku tabuhkan genderang perang
berikut dengan sangsakala
agar gaduh, ramai
Perang akan segera di mulai
namun panglima tak turut serta
"Maaf. Kau belum siap
dan tak akan pernah siap."
sabtu, 17 maret 2012 19.21
hendak ramai kan segala risau-risau ku
Telah tersiapkan se-batalyon angkara murka
dan tameng berbalutkan pembenaran
Ku pakaikan topi hijau berat
ke atas sejumput rambut tua ku
Bebarengan dengan senapan
yang terangkat
tinggi-tinggi
meneriak kan, "Kita akan mulai berperang!"
Beribu pisau, gergaji, sapu lidi
hendak ramai kan adonan emosi
yang teruleni dengan kesal, benci, bimbang
Tapi hati telah terteguhkan, walau enggan
Ku tabuhkan genderang perang
berikut dengan sangsakala
agar gaduh, ramai
Perang akan segera di mulai
namun panglima tak turut serta
"Maaf. Kau belum siap
dan tak akan pernah siap."
sabtu, 17 maret 2012 19.21
Tuesday, March 13, 2012
Surat Rindu
Dearest, kamu
Tahu kah kau kesakitan ku selama ini?
Ya, aku ternyata hanya seorang pesakitan yang mengharapkan peduli mu barang secuil. Yang bahkan peduli mu memang hanya ada secuil.
Sudah beberapa lama ini, aku mencari tabib dari segala sakit ku. Padahal sebenar-benarnya obat ku hanya lah kamu. Namun kau terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Karena peduli mu hanya secuil, ingat?
Kemarin ini pencarian ku membuahkan hasil. Ternyata, tabibnya tak lagi baru dalam menyembuhkan penyakit yang serupa dengan penyakit ku. Malah, ia lah selama ini yang memberikan pengobatan alternatif tanpa aku sadari.
Tabib ku ini terlalu mahir dalam menyembuhkan penyakit ku. Walau sembuhnya berkala dan aku mesti datang lagi, lagi, dan lagi kepadanya tiap-tiap rasa sembuh yang nyaman itu mulai hilang. Sepertinya, dengan sengaja, ia membubuhkan candu dalam pengobatannya. Tapi aku enggan menolak ataupun berhenti. Karena hanya dengan obatnya yang bercandu lah si pesakitan ini masih tetap hidup, masih tetap bernafas. Tapi tak akan pernah sembuh, karena penyembuh ku hanyalah kamu. Dan rasa sakit ku pun berasal dari sembuh ku.
Aku perlu untuk bernafas normal. Walau hanya sejenak. Karena aku perlu menata fondasi-fondasi yang akan jadi rumah masa tua ku nanti. Makanya, aku mencari pengobatan alternatif dan aku bertemu dengan tabib ku.
Apa kah kau merasa marah dengan pengobatan ku? Yang seharusnya pesakitan ini sabar menunggu dokter aslinya untuk di sembuhkan? Ya, aku tahu kau pasti murka. Namun, bisa apa aku jika tak berobat walau tak benar-benar sembuh sepenuhnya? Peduli mu hanya secuil, ingat?
Dan ini mulai beranjak bulan ketiga semenjak aku melakukan terapi alternatif ku. Sepertinya, tabib ku beranjak dari singgasananya dan mulai berkedudukan sebagai seorang dokter. Hati ku mulai goyah, penyakit ku mulai gelisah. Apakah tabib ku, yang sekarang bertitel dokter, dapat menyembuhkan si pesakitan ini secara permanen? Dokter ku yang sekarang terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Semakin lama sisa-sisa perjuangan dan pengorbanan ku semakin terkuras habis.
Untuk apa aku berusaha jika kamu tak pernah ikut berusaha?
Bolehkah kali ini aku membatalkan perjanjian rawat jalan dengan mu selama ini dan berubah janji dengan tabib yang bertitel dokter itu sekarang?
Ah, tapi sesungguh-sungguhnya penyakit ku tetap tak bisa memberi tahu apa yang baik untuk ku. Karena ia bersemayam berkat adanya kamu, ingat? Jadi, harus kamu yang sembuhkan sakit ku, harus kamu yang menjadi dokter ku!
Tapi penyakit ku goyah, hati ku mulai gelisah.
Bisa kah kau berbesar hati sedikit dan sembuhkan aku kali ini? Agar aku tak perlu bertemu terlalu sering dengan tabib ku, walau aku ingin. Walau aku benar-benar membutuhkannya.
Tahu kah kau kesakitan ku selama ini?
Ya, aku ternyata hanya seorang pesakitan yang mengharapkan peduli mu barang secuil. Yang bahkan peduli mu memang hanya ada secuil.
Sudah beberapa lama ini, aku mencari tabib dari segala sakit ku. Padahal sebenar-benarnya obat ku hanya lah kamu. Namun kau terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Karena peduli mu hanya secuil, ingat?
Kemarin ini pencarian ku membuahkan hasil. Ternyata, tabibnya tak lagi baru dalam menyembuhkan penyakit yang serupa dengan penyakit ku. Malah, ia lah selama ini yang memberikan pengobatan alternatif tanpa aku sadari.
Tabib ku ini terlalu mahir dalam menyembuhkan penyakit ku. Walau sembuhnya berkala dan aku mesti datang lagi, lagi, dan lagi kepadanya tiap-tiap rasa sembuh yang nyaman itu mulai hilang. Sepertinya, dengan sengaja, ia membubuhkan candu dalam pengobatannya. Tapi aku enggan menolak ataupun berhenti. Karena hanya dengan obatnya yang bercandu lah si pesakitan ini masih tetap hidup, masih tetap bernafas. Tapi tak akan pernah sembuh, karena penyembuh ku hanyalah kamu. Dan rasa sakit ku pun berasal dari sembuh ku.
Aku perlu untuk bernafas normal. Walau hanya sejenak. Karena aku perlu menata fondasi-fondasi yang akan jadi rumah masa tua ku nanti. Makanya, aku mencari pengobatan alternatif dan aku bertemu dengan tabib ku.
Apa kah kau merasa marah dengan pengobatan ku? Yang seharusnya pesakitan ini sabar menunggu dokter aslinya untuk di sembuhkan? Ya, aku tahu kau pasti murka. Namun, bisa apa aku jika tak berobat walau tak benar-benar sembuh sepenuhnya? Peduli mu hanya secuil, ingat?
Dan ini mulai beranjak bulan ketiga semenjak aku melakukan terapi alternatif ku. Sepertinya, tabib ku beranjak dari singgasananya dan mulai berkedudukan sebagai seorang dokter. Hati ku mulai goyah, penyakit ku mulai gelisah. Apakah tabib ku, yang sekarang bertitel dokter, dapat menyembuhkan si pesakitan ini secara permanen? Dokter ku yang sekarang terlalu mahal, butuh terlalu banyak pengorbanan. Semakin lama sisa-sisa perjuangan dan pengorbanan ku semakin terkuras habis.
Untuk apa aku berusaha jika kamu tak pernah ikut berusaha?
Bolehkah kali ini aku membatalkan perjanjian rawat jalan dengan mu selama ini dan berubah janji dengan tabib yang bertitel dokter itu sekarang?
Ah, tapi sesungguh-sungguhnya penyakit ku tetap tak bisa memberi tahu apa yang baik untuk ku. Karena ia bersemayam berkat adanya kamu, ingat? Jadi, harus kamu yang sembuhkan sakit ku, harus kamu yang menjadi dokter ku!
Tapi penyakit ku goyah, hati ku mulai gelisah.
Bisa kah kau berbesar hati sedikit dan sembuhkan aku kali ini? Agar aku tak perlu bertemu terlalu sering dengan tabib ku, walau aku ingin. Walau aku benar-benar membutuhkannya.
Kekasihmu,
aku.
21.48 senin, 12 maret 2012
Monday, March 12, 2012
Lupa
Lupa adalah anugerah. Coba saja sejenak, kau bayangkan Lupa mendadak hilang dari peradaban. Hilang dari kamus-kamus atau tata bahasa dari pelbagai negara.
Pernahkah kau merasa murka? Ketika tak sengaja, adik mu menumpahkan susu atau saat ia merobek kertas tugas mu? Lalu sumpah serapah, yang kau dapat dari televisi itu, kau keluarkan penuh amarah. Berapa hari kau tak menatap adik mu? Tiga hari kah? Atau bahkan seminggu?
Pernahkah kau merasa kecewa? Ketika ternyata karya mu di plagiat oleh teman mu yang tidak bertanggung jawab, dan ia tidak mencantumkan namamu? Lalu ternyata, karya mu mendapat pujian tertinggi, penghargaan sana-sini, tapi tanpa sekali pun tersebut namamu, nama pengarang aslinya?
Pernahkah kau merasa hancur? Ketika cinta pertama mu memberi harapan demi harapn bahwa kau dan ia akan bersama selamanya, sehidup semati, namun ternyata ia pergi meninggalkan mu? Tanpa lupa menyakiti hati mu dengan pelbagai alasan?
Atau, mungkin, pernahkah kau merasa teramat kehilangan? Ketika ayah mu pergi duluan, ke tujuan akhir tanpa mengajak mu ataupun tanpa kau lambaikan perpisahan terlebih dahulu? Padahal, kala lalu, baru saja kau dan beliau hendak pergi menonton bioskop bersama?
Apa yang akan terjadi tanpa Lupa dalam hidup kita?
Adik mu tak akan termaafkan. Sahabat mu hilang satu per satu. Kisah cinta mu hanya berhenti, mentok sampai di situ. Dan kau tak akan pernah berhenti menangis, menangis, menangis, meninggalkan rasa kehilangan mu yang tak pernah hilang.
Bukankah Lupa adalah mukjizat? Dan ia indah, sebagaimana mestinya? Namun, semua hal mempunyai kekurang dan kelebihan, bukan? Dan setiap hal yang terlalu berlebihan tidak lah baik untuk kehidupan.
Bersyukur lah. Kau masih bisa tersenyum, tanpa teringat akan rasa murka, kecewa, atau kehilangan mu kala lalu. Berkat Lupa. Yang bahkan kita lupa, betapa berjasanya ia.
12 maret 2012
Pernahkah kau merasa murka? Ketika tak sengaja, adik mu menumpahkan susu atau saat ia merobek kertas tugas mu? Lalu sumpah serapah, yang kau dapat dari televisi itu, kau keluarkan penuh amarah. Berapa hari kau tak menatap adik mu? Tiga hari kah? Atau bahkan seminggu?
Pernahkah kau merasa kecewa? Ketika ternyata karya mu di plagiat oleh teman mu yang tidak bertanggung jawab, dan ia tidak mencantumkan namamu? Lalu ternyata, karya mu mendapat pujian tertinggi, penghargaan sana-sini, tapi tanpa sekali pun tersebut namamu, nama pengarang aslinya?
Pernahkah kau merasa hancur? Ketika cinta pertama mu memberi harapan demi harapn bahwa kau dan ia akan bersama selamanya, sehidup semati, namun ternyata ia pergi meninggalkan mu? Tanpa lupa menyakiti hati mu dengan pelbagai alasan?
Atau, mungkin, pernahkah kau merasa teramat kehilangan? Ketika ayah mu pergi duluan, ke tujuan akhir tanpa mengajak mu ataupun tanpa kau lambaikan perpisahan terlebih dahulu? Padahal, kala lalu, baru saja kau dan beliau hendak pergi menonton bioskop bersama?
Apa yang akan terjadi tanpa Lupa dalam hidup kita?
Adik mu tak akan termaafkan. Sahabat mu hilang satu per satu. Kisah cinta mu hanya berhenti, mentok sampai di situ. Dan kau tak akan pernah berhenti menangis, menangis, menangis, meninggalkan rasa kehilangan mu yang tak pernah hilang.
Bukankah Lupa adalah mukjizat? Dan ia indah, sebagaimana mestinya? Namun, semua hal mempunyai kekurang dan kelebihan, bukan? Dan setiap hal yang terlalu berlebihan tidak lah baik untuk kehidupan.
Bersyukur lah. Kau masih bisa tersenyum, tanpa teringat akan rasa murka, kecewa, atau kehilangan mu kala lalu. Berkat Lupa. Yang bahkan kita lupa, betapa berjasanya ia.
12 maret 2012
Untuk Gadisku
gadisku,
senyampang aku bersamamu
ingin merengkuhmu erat
menidurkanmu
dipangkuanku
memelukmu
dengan segenap jiwaku
melindungimu
dari segala marabahaya
memberikan
segala apa yang kau butuhkan
sebagaimana ketika
Tuhan menitipkan nyawamu dirahimku
Tuhan menitipkan nyawamu dirahimku
kutunggu engkau tumbuh
dalam buaian cintaku
mewujud menjadi sosok mahluk
manis lemah
bertumbuh bersama hari-hariku
dalam buaian cintaku
mewujud menjadi sosok mahluk
manis lemah
bertumbuh bersama hari-hariku
kini
ketika senjaku menjelang
kau datang
dalam tangisan
wujud penyesalan
ketika senjaku menjelang
kau datang
dalam tangisan
wujud penyesalan
aku yang kecewa
terpuruk tanpa kata
sendu
sedan
hati yang menghitam
penyesalan itu, gadis
adalah wujud nestapa kita
menjadi sejarah tak terpungkiri
maafkan aku
tak cukup benar menjagamu
berikan aku waktu
sendiri disudut sepi
mencoba melihat mu
duniamu
masa depanmu
gadisku
jangan pernah merasa sendiri
aku disini bersamamu
memeluk jiwamu
mencintaimu
sungguh
karena aku, ibumu .......
by: sekarlawu for sinta (My beloved mother)
terpuruk tanpa kata
sendu
sedan
hati yang menghitam
penyesalan itu, gadis
adalah wujud nestapa kita
menjadi sejarah tak terpungkiri
maafkan aku
tak cukup benar menjagamu
berikan aku waktu
sendiri disudut sepi
mencoba melihat mu
duniamu
masa depanmu
gadisku
jangan pernah merasa sendiri
aku disini bersamamu
memeluk jiwamu
mencintaimu
sungguh
karena aku, ibumu .......
by: sekarlawu for sinta (My beloved mother)
Saturday, March 10, 2012
Uji nyali
Ah tahu begini, tak akan berani ku ambil tawaran itu.
Ini malam kedua.
* * *
Aku berjalan, sendirian. Melintas pekarangan. Padahal baru saja ingin berhenti, berteguh hati. Tak lagi berjalan, mencari, melintas pekarangan. Tapi, semesta, enggan berhenti.
Lalu kau datang, bersama tudung hitam mu.
"Apakah kau berani, menguji diri? Rerawa ini angker, serupa tentara yang enggan beramah-tamah. Belukar yang bahkan, tak akan tersentuh dan tetap jadi misteri. Gelap. Sunyi. Berteka-teki. Sanggup kah kau?"
"Tak lupa ku beri kau, dua juta rupiah, kontan!"
Aku, yang kere, yang perlu duit, sontak menerima. Tanpa peduli teka-teki misterius yang jadi apa nanti. Tak peduli keraguan yang mulai menjilat-jilat. Namun aku, merebut resiko yang di genggam erat-erat oleh keraguan ku.
"Apa bila kau menyerah, segera lambaikan tangan ke arah kamera."
Ini malam pertama.
Tak ada hantu rerawa. Cuma desau-desau angin coba goda aku dengan dinginnya. Oh, tak lupa, lolong parau entah darimana. Ah, segitu saja?
Namun, semakin waktu mulai berlari, semakin waktu terdesak, semua mulai menggoda.
Semua mulai lancarkan aksi-aksinya.
Ini malam kedua.
Kuntilanak. Wewe gombel. Genderuwo.
Suster ngesot. Pocong. Tuyul.
Gak! Aku enggan untuk berhenti!
"Apa bila kau menyerah, segera lambaikan tangan ke arah kamera."
10 maret 2012, bandung
dalam rangka meneguhkan hati.
Tuesday, March 6, 2012
Tangis
Entah. Hanya beribu entah yang menggenangi lamun ku yang telah hinggap di titik akhir paragraf itu. Air mata mengalir, deras, menutupi luka yang menganga lebar walau tak benar tampak.
Aku menangis. Dalam bisikan.
Tak urung ku toreh lagi, lagi, dan lagi, luka yang sedikitnya hendak kembali tertutup. Pantas kah ia ku sebut luka, sedang ia yang mestinya lebih terluka? Genap setengah jalan, aku menjalin apa yang ia jalin kala lalu. Dan tetap, tanya itu tetap menunggu di balik selubung gelap lamun ku. Selalu.
Tanya, akan putih ataukah hitam.
Pantas kah tersebut putih, saat noda besar yang begitu menggelayut di hadapan kelopak sadar ku enggan beranjak? Pantas kah tersebut hitam, saat rasa adalah anugerah, saat rasa adalah mukjizat?
Lamunku melayang, kembali di kala membaca lagi sederetan penuh kenangan yang terpatri tajam tanpa dapat terkelabui. Rayu mu begitu identik. Untuk ku, maupun untuk nya. Lalu bisa apa aku, selain menangis, lagi dan lagi? Apakah aku merasa terhina? Bukan! Bukan itu..
Aku segan, menyakiti apa yang tak harus tersakiti.
Namun, apa kuasa ku? Yang terjadi, malah, membumi hanguskan fondasi yang ia bangun sepetak demi sepetak untuk mu. Demi mu. Apa harga air mata ku? Tak ayalnya sundal, aku merasa nista di antara yang ternista. Tega apa aku, menyakiti ia? Tega apa kamu, menyakiti ia?
"Sudah lah. Semua orang mempunyai keputusan untuk hidupnya sendiri. Masa lalu biar lah jadi masa lalu, masa depan biarkan jadi misteri nantinya."
Sanggup kah aku, terhantui rasa bersalah, seumur hidupku?
6 maret 2012
warnet, nunggu try out.
Aku menangis. Dalam bisikan.
Tak urung ku toreh lagi, lagi, dan lagi, luka yang sedikitnya hendak kembali tertutup. Pantas kah ia ku sebut luka, sedang ia yang mestinya lebih terluka? Genap setengah jalan, aku menjalin apa yang ia jalin kala lalu. Dan tetap, tanya itu tetap menunggu di balik selubung gelap lamun ku. Selalu.
Tanya, akan putih ataukah hitam.
Pantas kah tersebut putih, saat noda besar yang begitu menggelayut di hadapan kelopak sadar ku enggan beranjak? Pantas kah tersebut hitam, saat rasa adalah anugerah, saat rasa adalah mukjizat?
Lamunku melayang, kembali di kala membaca lagi sederetan penuh kenangan yang terpatri tajam tanpa dapat terkelabui. Rayu mu begitu identik. Untuk ku, maupun untuk nya. Lalu bisa apa aku, selain menangis, lagi dan lagi? Apakah aku merasa terhina? Bukan! Bukan itu..
Aku segan, menyakiti apa yang tak harus tersakiti.
Namun, apa kuasa ku? Yang terjadi, malah, membumi hanguskan fondasi yang ia bangun sepetak demi sepetak untuk mu. Demi mu. Apa harga air mata ku? Tak ayalnya sundal, aku merasa nista di antara yang ternista. Tega apa aku, menyakiti ia? Tega apa kamu, menyakiti ia?
"Sudah lah. Semua orang mempunyai keputusan untuk hidupnya sendiri. Masa lalu biar lah jadi masa lalu, masa depan biarkan jadi misteri nantinya."
Sanggup kah aku, terhantui rasa bersalah, seumur hidupku?
6 maret 2012
warnet, nunggu try out.
Saturday, March 3, 2012
Berharap
Malam lagi-lagi mendesaukan tawanya.
Coba ciptkakan ruang lengkung yang mengungkung
fargmen-fragmen rindu bernama 'aku'.
Harus berapa diksi lagi,
agar tambatan ku
benar-benar berpaling
atau setidaknya
mengerling saja?
14 januari 2012
Coba ciptkakan ruang lengkung yang mengungkung
fargmen-fragmen rindu bernama 'aku'.
Harus berapa diksi lagi,
agar tambatan ku
benar-benar berpaling
atau setidaknya
mengerling saja?
14 januari 2012
Foto-foto Girls Day Out 2
Berhubung kemarin ini punya janji bakalan nge-upload foto-foto GDO2 kemarin, sekarang mau nepatin janjinya :D
Gimana? Seru kaaaan? Seru dong! Kalo penasaran sama foto-foto yang lain cek aja disini :D
Foto by: Aditama Gunawan.
![]() |
| landing |
![]() |
| Lazy vault |
![]() |
| Balance |
![]() |
| Underbar |
![]() |
| Kong vault |
![]() |
| Quadropedal |
![]() |
| Thief vault |
![]() |
| Annty Marais :D |
![]() |
| Speed vault |
![]() |
| Kong vault |
![]() |
| Swing |
![]() |
| The girls! |
Gimana? Seru kaaaan? Seru dong! Kalo penasaran sama foto-foto yang lain cek aja disini :D
Foto by: Aditama Gunawan.
Friday, March 2, 2012
Sabar, tunggu, nanti.
Jangan menangis
bukan, bukan itu yang ia maksud
bukan, bukan itu yang benar-benar kau pikirkan.
Jangan bersedih
rebahkan saja gundah mu disini
sejenak, aku tak pernah segan
namun jangan terlalu lama. terlalu lama.
Jangan berputus asa
percaya lah, waktu tak pernah enggan
untuk mewahyukan magisnya
padamu. nanti.
Percayalah. Walau sedikit.
Sedikit.
2 maret 2012
semangat, zaphiera.
bukan, bukan itu yang ia maksud
bukan, bukan itu yang benar-benar kau pikirkan.
Jangan bersedih
rebahkan saja gundah mu disini
sejenak, aku tak pernah segan
namun jangan terlalu lama. terlalu lama.
Jangan berputus asa
percaya lah, waktu tak pernah enggan
untuk mewahyukan magisnya
padamu. nanti.
Percayalah. Walau sedikit.
Sedikit.
2 maret 2012
semangat, zaphiera.
Subscribe to:
Comments (Atom)












