Telah kali kesekian juta rembulan berikan tatap nanar yang serupa.
Tak kunjung juga jelaga yang mengerak mesra terlepas dalam dekap pedih ku."Apakah itu bahagia, Rembulan?"
Lagi, aku berbisik lirih, takut terdengar oleh Tuhan.
Lagi, Rembulan terbahak-bahak hingga berdahak-dahak.
"Jangan terlalu naif, Tuhan selalu tersenyum masam acapkali kau rengutkan tanya sama yang berulang-ulang itu.
Aku tak pernah tahu akan bahagia,
Akan sesaknya kesepian.
Lihat aku! Sibuk memacari bebintang yang tak kau indahkan itu.
Aku terlalu sedikit waktu untuk gusar seperti kamu.
Tanya saja Tuhan.
Mau hingga kapan kau bertamengkan harga diri, malu, sedih, luka atau apapun alasan keengganan mu yang berlapis-lapis itu? Sudahlah..
Tidak kah kau jenuh akan kejenuhanmu?"
4 mei 2014
No comments:
Post a Comment