Jangan tanya akan peliknya leliku mereka.
Kau tau apa yang dibutuhkan perempuan?
Setangkup hangat pelukan, kala si empu gundah
Resah akan letih.
Sederet kalimat tanya penuh perhatian, akan perasaan
Akan kesimpulannya pada hari ini.
Sepulas senyum tulus.
Seakan cantik bukan sekedar kata,
dan seakan bukan sekedar seakan.
Sekecup manis cinta, tepat pada kening yang kemuning.
Lekat, senyap, hangat.
Untuk apa lagi perempuan,
selain disanjung, dimuliakan, dan diguyur oleh perhatian setiap harinya?
september 2014
TR
Me-ra-wak (v) mengawur, tidak merata; mengacak;~ rambang mengerjakan sesuatu tanpa memperhitungkan terlebih dahulu tujuan atau sasarannya; mengawur. Ram-bang (a) 1 tidak tetap hati (tujuan); ragu-ragu; 2 seadanya saja; acak.
Thursday, October 2, 2014
Tuesday, May 6, 2014
Gusar
Retak ku tanya
Gundah meretas hampa
Senyap... Tak beralur nyawa.
Hampa, hening.
Bergelegak gairah,
akan 'aku'
akan kita. akan sampit.
Berenang ku dalam linang
Hanyut dalam selimut
Diam.
Hilang.
Gundah meretas hampa
Senyap... Tak beralur nyawa.
Hampa, hening.
Bergelegak gairah,
akan 'aku'
akan kita. akan sampit.
Berenang ku dalam linang
Hanyut dalam selimut
Diam.
Hilang.
1 april 2014
Malam
"Berkeluh kesah apalagi kali ini? Tidak kah kau jenuh akan kejenuhanmu?"
"Apakah itu bahagia, Rembulan?"
Lagi, aku berbisik lirih, takut terdengar oleh Tuhan.
Lagi, Rembulan terbahak-bahak hingga berdahak-dahak.
"Jangan terlalu naif, Tuhan selalu tersenyum masam acapkali kau rengutkan tanya sama yang berulang-ulang itu.
Aku tak pernah tahu akan bahagia,
Akan sesaknya kesepian.
Lihat aku! Sibuk memacari bebintang yang tak kau indahkan itu.
Aku terlalu sedikit waktu untuk gusar seperti kamu.
Tanya saja Tuhan.
Mau hingga kapan kau bertamengkan harga diri, malu, sedih, luka atau apapun alasan keengganan mu yang berlapis-lapis itu? Sudahlah..
Telah kali kesekian juta rembulan berikan tatap nanar yang serupa.
Tak kunjung juga jelaga yang mengerak mesra terlepas dalam dekap pedih ku."Apakah itu bahagia, Rembulan?"
Lagi, aku berbisik lirih, takut terdengar oleh Tuhan.
Lagi, Rembulan terbahak-bahak hingga berdahak-dahak.
"Jangan terlalu naif, Tuhan selalu tersenyum masam acapkali kau rengutkan tanya sama yang berulang-ulang itu.
Aku tak pernah tahu akan bahagia,
Akan sesaknya kesepian.
Lihat aku! Sibuk memacari bebintang yang tak kau indahkan itu.
Aku terlalu sedikit waktu untuk gusar seperti kamu.
Tanya saja Tuhan.
Mau hingga kapan kau bertamengkan harga diri, malu, sedih, luka atau apapun alasan keengganan mu yang berlapis-lapis itu? Sudahlah..
Tidak kah kau jenuh akan kejenuhanmu?"
4 mei 2014
Tuesday, January 28, 2014
Masih
Akankah kembali kau tautkan jemarimu?
meluruhkan segala tanya yang mengeruh
segala rindu yang bergemuruh.
Nyaliku bahkan ciut..menyumput.
Enggan bersenda tawa lagi dengan segala bingungku.
Rerindu yang melekat pada dinding tenggorokan ini terasa begitu nyata
begitu jumawa.
Maukah semesta mengizinkan ku barang sejenak?
mengecup kembali bebau manis mu sekejap..
Atau bahkan merengkuh kesendirian mu yang begitu lekat.
Ingin rasa ku teriakkan
Aku disini. mencintaimu (masih).
Merindukan setiap bulir detik yang tersia untuk mu
Merindukan setiap tunggu akan jemu
Merindukan sendu yang begitu familiar, kelu, menenangkan.
Dimanakah kau sekarang?
Masihkah merindu ku setangguh aku merindumu?
Berjemu dengan kemonotonan yang itu-itu saja?
Atau bahkan mungkin,
semua telah kau bungkus erat
Dalam almari memoar yang lalu kau lenyapkan?
Tak ada lagi aku, kita, kamu
Dulu. Nanti.
Kembalilah...
januari, 2014
meluruhkan segala tanya yang mengeruh
segala rindu yang bergemuruh.
Nyaliku bahkan ciut..menyumput.
Enggan bersenda tawa lagi dengan segala bingungku.
Rerindu yang melekat pada dinding tenggorokan ini terasa begitu nyata
begitu jumawa.
Maukah semesta mengizinkan ku barang sejenak?
mengecup kembali bebau manis mu sekejap..
Atau bahkan merengkuh kesendirian mu yang begitu lekat.
Ingin rasa ku teriakkan
Aku disini. mencintaimu (masih).
Merindukan setiap bulir detik yang tersia untuk mu
Merindukan setiap tunggu akan jemu
Merindukan sendu yang begitu familiar, kelu, menenangkan.
Dimanakah kau sekarang?
Masihkah merindu ku setangguh aku merindumu?
Berjemu dengan kemonotonan yang itu-itu saja?
Atau bahkan mungkin,
semua telah kau bungkus erat
Dalam almari memoar yang lalu kau lenyapkan?
Tak ada lagi aku, kita, kamu
Dulu. Nanti.
Kembalilah...
januari, 2014
Subscribe to:
Comments (Atom)