Aku rindu kamu, aku rindu bebaumu. Aku rindu kilat mentari yang sinari deret senyum mu. Aku rindu belai sayang, yang kau beri seakan aku guci termahal mu. Aku rindu ketidakbisaan mu akan berkata, tertawa, atau bercanda. Aku rindu kaku mu yang manis.
Aku juga rindu, saat es yang padat itu mulai mencair, dan kau ikut tertawa bersama ku. Ikut menertawakan kebodohan ku. Aku rindu, mengecupmu perlahan, lalu kau tak pernah bisa untuk diam. Gatal untuk membalasnya, senakal mungkin. Lalu kita tertawa, menertawai kenakalan mu, yang hanya untuk aku.
Aku rindu ketidak pedulian mu. Tak bertanya kabar, apa kah aku sudah makan. Hingga buatku jengah, berulang kali. Namun selalu luluh, ketika kau tiba-tiba bersikap manis pada ku. Yang bahkan sikap manis mu dapat ku hitung.
Aku rindu, senjang hening panjang yang tercipta ketika kita terhubung di telepon. Kehabisan kata-kata. Karena memang kamu tak pernah pandai berkata-kata dan aku tak pernah pandai mencari bahan untuk bicara.
Aku rindu ketika kamu mulai mengeluarkan sisi kritis mu. Mengeluarkan sisi lain yang jarang ku lihat, sisi ketika kamu berpendapat. Kau pecahkan masalah ku, dengan cara pikir yang berbeda. Dan idemu akan seni, kreativitasmu... Semua itu buat ku kagum. Sungguh.
Aku rindu ketika kau terlihat berusaha untuk bahagiakan aku. Mencari kado untuk ku, mengajak ku berkeliling ke tempat yang aku ingin. Tahu kah kau, betapa bahagianya aku membuka hadiah kecil dari mu? Dan melihat mawar putih yang kau pegang ketika hujan?
Aku rindu, merindukan mu dengan segala getir yang ku telan. Menunggu kabar dari mu. Jemu. Menunggu pertemuan kita. Menunggu harum hujan yang basahi kita, tiap-tiap kau dan aku bersua.
Aku rindu kau panggil dengan sebutan sayangmu. Dan senyum selalu terkembang, otomatis, tiap kau panggil aku.
Aku rindu kamu.
Aku terlalu menyayangi mu, terlalu merindukan mu.
Namun getir yang mulai meluber, luka yang mulai menganga, buat aku jadi bertanya. Bahagia yang enggan bercanda lama-lama, tak sanggup lagi menahan leluka ini. Hingga akhirnya aku tak tahan lagi untuk saling bersama.
Bahagiakah aku sekarang?
Setelah tanpa mu?
Entah lah...
Yang ku tahu, ternyata, aku masih sangat mencintai dan merindukan mu hingga detik ini.
Selalu...
14 juli 2012
Me-ra-wak (v) mengawur, tidak merata; mengacak;~ rambang mengerjakan sesuatu tanpa memperhitungkan terlebih dahulu tujuan atau sasarannya; mengawur. Ram-bang (a) 1 tidak tetap hati (tujuan); ragu-ragu; 2 seadanya saja; acak.
Monday, July 16, 2012
Untuk kamu
Sekarang tiba-tiba semua kata mandek di tengah-tengah tenggorokan ku. Yang aku pandang hanya pernyataan tersodor di depan mata. Entah, harus kah aku tertawa atau menangis. Mendadak jatuh cinta merupakan perihal yang terlalu rumit dan terlalu beresiko untuk ku.
Seakan telah menjadi harga mati, mencintai ku berarti siap dalam menerima segala kekompleksitasan ku. Walau kamu telah berkata iya, kamu telah berkata mau, entah mengapa nyali ku ciut untuk melangkah lebih jauh. Aku takut. Aku takut ekspektasi mu terlalu tinggi terhadap ku, dan ternyata aku tak seperti yang kau bayangkan. Lalu kau tinggalkan aku, begitu saja. Belum lagi jika ternyata ekspektasi ku yang terlalu tinggi terhadapmu. Dan kau pun tak seperti itu.
Bukankah jatuh cinta itu biasa saja? Ketika kau jatuh, ya jatuh. Tapi mengapa semua ini berjalan terlalu rumit untuk ku..
Harusnya jatuh ya jatuh
berdiri ya berdiri
tidak ya tidak
iya tentu saja iya.
Tapi aku terlalu pengecut untuk ini semua...
Sekarang, ketika ternyata takdir berkata lain dan kau beranjak meninggalkan ku, rasa hilang yang mencekam itu kembali lagi, Kehilangan, yang bahkan belum disertai kepemilikan. Namun sungguh, hati kecil mu tak bisa berdusta, bukan?
Baiklah, aku akan beranikan diri kali ini. Sekali ini saja.
Aku, ternyata, mencintai mu.
Aku telah jatuh, dan entah kapan akan bangun kembali. Puas kah kau sekarang wahai takdir? Telah mengambil apa yang kau beri?
Ya, ya, ya. Aku akan mengalah, seperti biasanya. Lagipula memang kau hanya ingin menang sendiri, ya kan, Takdir? Aku hanya akan menunggu, apalagi yang akan kau perbuat nanti. Hancurkan segala yang baru terbentuk ini, atau malah berbaik hati memberi kami kesempatan. Kita lihat saja nanti.
15 juli 2012
Seakan telah menjadi harga mati, mencintai ku berarti siap dalam menerima segala kekompleksitasan ku. Walau kamu telah berkata iya, kamu telah berkata mau, entah mengapa nyali ku ciut untuk melangkah lebih jauh. Aku takut. Aku takut ekspektasi mu terlalu tinggi terhadap ku, dan ternyata aku tak seperti yang kau bayangkan. Lalu kau tinggalkan aku, begitu saja. Belum lagi jika ternyata ekspektasi ku yang terlalu tinggi terhadapmu. Dan kau pun tak seperti itu.
Bukankah jatuh cinta itu biasa saja? Ketika kau jatuh, ya jatuh. Tapi mengapa semua ini berjalan terlalu rumit untuk ku..
Harusnya jatuh ya jatuh
berdiri ya berdiri
tidak ya tidak
iya tentu saja iya.
Tapi aku terlalu pengecut untuk ini semua...
Sekarang, ketika ternyata takdir berkata lain dan kau beranjak meninggalkan ku, rasa hilang yang mencekam itu kembali lagi, Kehilangan, yang bahkan belum disertai kepemilikan. Namun sungguh, hati kecil mu tak bisa berdusta, bukan?
Baiklah, aku akan beranikan diri kali ini. Sekali ini saja.
Aku, ternyata, mencintai mu.
Aku telah jatuh, dan entah kapan akan bangun kembali. Puas kah kau sekarang wahai takdir? Telah mengambil apa yang kau beri?
Ya, ya, ya. Aku akan mengalah, seperti biasanya. Lagipula memang kau hanya ingin menang sendiri, ya kan, Takdir? Aku hanya akan menunggu, apalagi yang akan kau perbuat nanti. Hancurkan segala yang baru terbentuk ini, atau malah berbaik hati memberi kami kesempatan. Kita lihat saja nanti.
15 juli 2012
Saturday, July 14, 2012
Rezim Rindu
Bahagia yang mulai terlahap waktu...
Rindu yang terkekang, mulai lepas angan
beranjak bangun dari kerangkeng karatnya
Emosi sekarang turun tahta
Para logika, tim sukses emosi, mulai kelimpungan...
Rindu menjamah kekuasaan
mengeluarkan ancer-ancernya yang jitu.
Kenangan manis tampak bahagia,
di beri leluasa untuk bercanda...
Dan aku, sebagai partisipan
yang harus memilih
yang harus manut pemimpin
bergelimang duka di balik layar...
14 juli 2012
Rindu yang terkekang, mulai lepas angan
beranjak bangun dari kerangkeng karatnya
Emosi sekarang turun tahta
Para logika, tim sukses emosi, mulai kelimpungan...
Rindu menjamah kekuasaan
mengeluarkan ancer-ancernya yang jitu.
Kenangan manis tampak bahagia,
di beri leluasa untuk bercanda...
Dan aku, sebagai partisipan
yang harus memilih
yang harus manut pemimpin
bergelimang duka di balik layar...
14 juli 2012
Kangen
Bebau yang lekat
merekat pada ranjang bisu
Mawar putih layu
di lahap waktu, perlahan
Rerintik hujan
mulai memadat,
penuh memori
emosi
Senyum yang terngiang-ngiang...
Ah!
Semua ini begitu kompak menyiksa rindu ku!
14 juli 2012
merekat pada ranjang bisu
Mawar putih layu
di lahap waktu, perlahan
Rerintik hujan
mulai memadat,
penuh memori
emosi
Senyum yang terngiang-ngiang...
Ah!
Semua ini begitu kompak menyiksa rindu ku!
14 juli 2012
Friday, July 13, 2012
Pulang
Aku dan kamu tidak lah seperti dia dan dia. atau dia, bahkan dia. walau hanya ketikan maya yang sapa aku, pagi, siang, sore, aku merindukan mu ternyata. tahu kah kau betapa tangis yang aku gembor-gemborkan itu hanya terjawab oleh angin malam saja? tanpa ada jawab dari mu, walau hanya setitik jelaga. atau satu kata 'apa'. mengapa tega, selalu tanya itu yang di sulir oleh siksa ku, sakit ku selama ini. tapi memang begini ternyata, memang begini adanya.
apa kabarnya dirimu disana? dengan segala gentar yang kau tutupi oleh kelambu padat kebijkasanaan. aku merindukan canda kita, yang selalu berujung tawa. bahkan aku merindukan sisi terlalu posesif mu, seakan semua adalah salah, dan hanya kau dan tuhan mu yang benar. aku merindukan mu, terlalu merindukan mu ternyata.
jiwa kita bukan lagi bersisian, namun entah mengapa telah terlalu terjalin lekat satu sama lain.. bukan kita yang menginginkan ini, kan? aku tak pernah memintanya seperti ini, namun memang roh-roh dalam aku dan kamu yang menginginkannya.. mengapa harus kau sangkal itu? hingga kapan kau ingin berdiam diri dan hindari semua? kita tak dapat hindari ini, tak dapat kelabuhi semua yang terlalu pasti ini..
sudah lah, hentikan langkah mu yang sudah terlalu jauh itu. walau jauh, namun genggam mu masih melekat erat di genggam ku. aku tak ingin kau terlalu jauh, karena sakit yang melindap diam-diam ini membuntuti mu. kau pikir ini sakit, namun sungguh sakit mu berlebih nanti jika langkahmu terlalu jauh.
pulanglah..
apa kabarnya dirimu disana? dengan segala gentar yang kau tutupi oleh kelambu padat kebijkasanaan. aku merindukan canda kita, yang selalu berujung tawa. bahkan aku merindukan sisi terlalu posesif mu, seakan semua adalah salah, dan hanya kau dan tuhan mu yang benar. aku merindukan mu, terlalu merindukan mu ternyata.
jiwa kita bukan lagi bersisian, namun entah mengapa telah terlalu terjalin lekat satu sama lain.. bukan kita yang menginginkan ini, kan? aku tak pernah memintanya seperti ini, namun memang roh-roh dalam aku dan kamu yang menginginkannya.. mengapa harus kau sangkal itu? hingga kapan kau ingin berdiam diri dan hindari semua? kita tak dapat hindari ini, tak dapat kelabuhi semua yang terlalu pasti ini..
sudah lah, hentikan langkah mu yang sudah terlalu jauh itu. walau jauh, namun genggam mu masih melekat erat di genggam ku. aku tak ingin kau terlalu jauh, karena sakit yang melindap diam-diam ini membuntuti mu. kau pikir ini sakit, namun sungguh sakit mu berlebih nanti jika langkahmu terlalu jauh.
pulanglah..
Subscribe to:
Comments (Atom)