Ini kali ketiga, aku melihatnya bersedu sedan dengan duka
membuat aku hanya menambahkan tumpukan lara di bahunya.
tak semestinya siksa mendera-dera sayu sepasang mata itu...
Aku berduka untuk mu
untuk segala asa yang tak tersampaikan
ataupun bilur-bilur air mata yang hanya terlihat oleh ku
Mungkin baiknya kau hentikan pedihmu, lukamu..
aku tak pernah tahan, melihat kau tertawa dengan simbahan air mata seperti itu.
namun nampaknya siksa telah jadi candumu, jadwal keseharianmu
Betapa dungunya rindu.
rabunkan segala ribu perih luka yang kau anyam tiap hari
hanya karena kilat senyum, yang bahkan kau lupa ia pernah tersenyum...
Ini kali keempat, kau paksa aku untuk menambah derita mu.
kembali ke halaman ketika kau dan ia, masih baik-baik saja
bahkan aku hampir saja tertawa, menertawakan ingatan ku yang lupa bahwa kau sempat bahagia--dulu sekali.
Kau matikan aku, dan kembali menitikkan air mata.
nafas ku terhela panjang.
untuk apa manusia acapkali menyiksa dirinya, padahal tahu apa yang baik untuknya?
dan tanya ku lenyap bersama malam yang semakin pekat..
25 april 2012